
batampos.co.id – SMPN 53 yang berlokasi di belakang Perumahan Taman Lestari, Kelurahan Buliang, Batuaji krisis fasilitas penunjang sekolah. Aktivitas belajar siswa tidak berjalan maksimal karena tidak didukung fasilitas yang memadai. Padahal, fondasi bangunan sudah berdiri.
Lapangan dan halaman sekolah yang belum disemen mengganggu kenyamanan siswa saat belajar di dalam kelas. Debu dari halaman yang masih berupa hamparan tanah merah itu terbang hingga ke dalam ruangan belajar siswa.
Situasi ini diperparah lagi dengan lingkungan sekolah yang belum memiliki pagar atau tembok keliling sebagai pembatas sekolah sehingga angin berhembus dari berbagai penjuru menerbangkan debu menuju lingkungan sekolah.
”Kalau angin agak kencang, tak nyaman belajarnya. Debu sampai ke dalam kelas,” kata Indri, seorang siswi.
Kepala SMPN 53 Erfina mengakui hal itu. Banyak keterbatasan fasilitas penunjang yang menghambat aktivitas belajar mengajar di SMPN 53. ”Banyak yang masih kurang. Tapi yang paling berdampak itu halaman dan pagar itu. Halaman ini berdebu. Kalau angin ke arah sekolah, debu sampai ke dalam kelas. Kasihan siswa jadi tak nyaman belajar,” ujarnya.
Sekolah yang belum dipagari tembok juga sangat mengganggu. Sebab, siapa saja bisa masuk ke lingkungan sekolah tanpa sepengetahuan pihak sekolah.
”Kadang kami kewalahan memantau siswa saat jam istrahat. Karena tak ada pagar, sehingga anak-anak ini bebas keluar masuk lingkungan sekolah. Orang luar pun bebas masuk ke sekolah ini,” kata Erfina.
Selain itu, sambung Erfina, sekolah yang sudah berdiri sejak tahun 2014 lalu itu juga belum dilengkapi perpustakaan dan laboratorium praktikum. Itu karena sekolah itu belum memiliki ruangan yang cukup.
Untuk ruangan belajar siswa saja, mereka hanya memiliki tujuh lokal sehingga aktivitas belajar mengajar menggunakan sistem dua sif. ”Rombel kami ada 15. Sementara ruangan hanya delapan. Satu dipakai untuk ruangan guru dan adminsitrasi, jadi sisa untuk siswa hanya tujuh lokal. Untuk perpusatakaan dan laboratorium belum ada kami,” ujarnya.
Keterbatasan fasilitas penunjang itu diakui Erfina cukup menghambat aktivitas belajar mengajar di sekolah tersebut. Para guru juga harus bekerja sepanjang hari sebab harus mengajar untuk dua sif. ”Kalau guru-guru sudah seperti full day school. Mengajar sampai sore,” ujarnya.
Untuk itu, Erfina dan para siswa di sana berharap agar persoalan itu segera diatasi oleh Dinas Pendidikan Kota Batam sehingga mereka bisa belajar atau mengajar dengan tenang. (eja)
