batampos.co.id – Mira Fitiriani,33, warga Perumahan Tiban Koperasi, Sekupang sibuk menyapu aiir dari rumah yang telah ditempatinya selama lima tahun belakangan ini. Hujan yang turun kurang lebih dua jam membuat dia dan keluarganya merugi hingga ratusan juta rupiah.
“Saya cuma selamatin diri sama handphone saja saat air masuk ke rumah,” kata perempuan yang disapa Mira ini, Rabu (25/7)
Ia menceritakan air masuk ke rumah sekitar pukul 11.00 WIB atau satu jam setelah hujan turun. Luapan dari drainase yang berada di sisi kiri rumah merendam rumah blok E 27 RT03 RWVII ini setinggi satu meter.
“Saya baru siap nyuci dan mau jemur pakaian. Liat air masuk ke rumah saya panik dan langsung lari keluar rumah,” ujar perempuan berjilbab ini.
Semua barang elektronik yang ada di kamar utama, ruang tamu basah terendam air dan tidak bisa digunakan lagi. Pakaian juga begitu semua dipenuhi lumpur besar banjir.
“Tak ada yang bisa diselamatkan,” imbuh perempuan yang tak bisa menyembunyikan kepanikanya ini.
Suami Mira, Machali terluhat menimba air yang merendam kamar anak mereka. Semua peralatan buku basah dan tidak bisa digunakan lagi. Dibantu anggota Satpol PP, Mira membersihkan bekas-bekas banjir yang merendam rumahnya.
Hal serupa juga menimpa rumah milik Syamsuri yang bersebelahan dengan rumah Mira. Istri Syamsuri menuturkan saat keluar dari rumah air sudah setinggi pinggang. “Habis anter anak sekolah kan saya balek lagi. Baru masuk air sudah masuk ke rumah,” kata perempuan yang akrab dipanggil Ibu Salma ini.
Dibantu tetangga, dia mengevakuasi barang-barang miliknya ke ruumah milik tetangga untuk diselamatkan. Lokasi rumah Syamsuri memang paling dekat dengan draianse. Rumahnya menjadi salah satu yang terparah terdampak banjir.
“Tak pernah terjadi banjir selama ini,” sebutnya.

Tidak saja terendam banjir, hujan deras yang turun juga menimpa rumah warga yang ditinggal pemiliknya. Rumah tingkat dua ini roboh setelah tertimpa pohon mangga yang ada di samping drainase. Warga bersama camat berusaha menyelamatkan barang-barang yang ada di rumah.
Warga lainnya yang juga menjadi korban banjir, Sujadi mengatakan banjir ini disebabkan proyek pembangunan milik salah satu developer. “Aliran sungai ditutup jadi air gak ngalir. ini semua karena Glory Point. Dari awal kami sudah menolak karena mereka nimbun sungai,” ujarnya.
Warga Tiban Koperasi menjadi korban dari pembangunan tersebut. Selama ini tidak pernah ada banjir, sekarang sejak mereka melakukan penimbunan permasalahan mulai muncul. “Kami minta aliran sungai dibuka kembali,” sebutnya.
Camat Sekupang, Muhammad Arman mengatakan penyebab banjir disebabkan penyempitan drainase karena ditutup untuk dijadikan lahan pembangunan perumahan baru. “Tadi kami sudah panggil perwakilan dari pengembang tersebut untuk melihat banjir ini,” kata Arman usai membersihkan rumah warga.
Ini merupakan kejadian terparah, sebelumnya tidak pernah seperti ini. Akibat kejadian ini 38 rumah warga rusak parah. Pihaknya telah meminta bantuan kepada Dinas Sosial untuk mendirikan tenda, sebab rumah korban tak bisa ditempati.
“Sementara mereka tidur di tenda dulu, sampai rumahnya kembali seperti semua. Nanti untuk makan juga dari dinas,” jelasnya.
Satu mobil tanki air milik Dinas Perumahan Permukiman dan Pertamanan (Disperkimtan) Batam turun guna membersihkan lumpur dari rumah warga.(yui)
Arman mengakui permasalahan ini sudah disampaikan kepada Wali Kota Batam, Muhammad Rudi untuk dicarikan solusinya. “Tadi pimpinan minta fokus evakuasi warga dulu, setelah ini akan dibahas bersama pengembang juga, seperti apa antisipasi banjir ke depannya,” bebernya.(yui)
