ilustrasi Money Changer  | Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Kian perkasanya dolar Singapura terhadap rupiah diyakini akan berdampak buruk bagi ekonomi dan kegiatan usaha di Batam. Terutama sektor industri berorientasi impor. Sebab selama ini banyak pengusaha di Batam yang bertransaksi dengan mata uang dolar Singapura.

Pada Selasa (24/7), 1 dolar Singapura di pasar spot diperdagangkan Rp 10.634,56.

Wakil Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri Tjaw Hioeng mengatakan, industri-industri berorientasi konsumsi dalam negeri atau domestic consumption dan rantai pasok (supply chain) sangat terpukul atas pelemahan nilai tukar rupiah ini.

“Pasti berdampak,” kata Tjaw Hioeng, Rabu (25/7).

Sebab industri berorientasi konsumsi dalam negeri dan supply chain mengimpor bahan baku dari luar dengan dengan menggunakan mata uang asing. Baik dolar AS maupun dolar Singapura. Setelah diproduksi di Batam, produk jadi tersebut dijual di dalam negeri dalam harga rupiah.

“Tidak bisa menjual dengan menggunakan dolar, haruslah rupiah. Karena sudah menjadi aturannya di Bank Indonesia alat tukar perdagangan di dalam negeri dengan rupiah,” tuturnya.

Pria yang akrab disapa Ayung ini menjelaskan, kondisi ini akan menjadi beban bagi perusahaan-perusahaan tersebut. “Namun untuk perusahaan export oriented, tidak terpengaruh,” ungkapnya.

Beruntung, kata Ayung, industri di Batam sebagian besar merupakan industri dengan orientasi ekspor. Meskipun mereka juga mengimpor dan membeli bahan baku dengan mata uang asing, namun nantinya produk akan kembali dijual ke luar negeri dalam harga dolar juga.

“Tentunya mereka tidak akan merasakan sama sekali dampak penguatan mata uang asing terhadap rupiah,” tuturnya.

Ayung mengungkapkan, perusahaan-perusahaan berada di kawasan industri di Batam kebanyakan berorientasi ekspor. “Kalau data seluruhnya di Batam ini, saya tidak pegang,” ujarnya.

Ketua Kadin Batam Jadi Rajagukguk mengatakan, melemahnya rupiah terhadap dolar Singapura justru akan langsung dirasakan masyarakat ekonomi menengah ke bawah. “Semuanya tahu, tidak hanya dolar Amerika saja. Batam ini juga dipengaruhi dolar Singapura,” ucapnya.

Harga-harga elektonik di Batam, kata Jadi, akan naik drastis seiring menguatnya dolar Singapura. “Kalau ekonomi makro tidak akan terlalu berimbas dengan menguatnya dolar Singapura,” tuturnya.

Ia mengatakan, beberapa waktu lalu, di saat rapat tim pengendali inflasi daerah (TPID) dibahas tentang kenaikan harga telur disebabkan menguatnya mata uang asing. “Hal-hal kecil seperti inilah mungkin yang perlu diwaspadai pemerintah. Kadang perlu melakukan operasi pasar. Walaupun dampaknya temporari saja, setidaknya dapat membantu masyarakat,” ucapnya singkat.

Sementara para pelaku usaha penukaran mata uang asing di Batam mengaku belum merasakan adanya peningkatan transaksi jual beli valas menyusul penguatan dolar Singapura terhadap rupiah.

“Untuk mobilitas transaksi seperti penukaran dari dolar baik itu Singapura atau Amerika ke rupiah, masih berjalan normal seperti biasa, tak ada kenaikan yang signifikan,” Ketua Asosiasi Pedagang Valuta Asing (APVA) Indonesia yang juga pengusaha Batam, Amat Tantosa, Rabu (25/7) siang.

Menurut Amat, penukaran dolar Singapura masih banyak dilakukan oleh para pekerja paruh waktu di Singapura. Umumnya mereka merupakan ibu rumah tangga di Batam.

“Nominal penukarannya pun tak banyak, satu orang biasanya tukar mulai 100 dolar Singapura sampai 1.000 dolar Singapura hasil kerjanya selama beberapa hari masuk Singapura,” terang Amat.

Senada dengan Ayung, Amat meyakini pelemahan rupiah atas dolar Singapura ini akan berdampak pada industri di Batam. Terutama industri yang berorientasi impor.

“Yang paling terasa terpukul dari sektor perekonomiannya adalah pengusaha importir,” katanya.

Kata Amat, pengusaha importir ini mengimpor bahan baku produksi dari luar negeri dan transaksinya menggunakan mata uang asing atau dolar. Sementara dolar saat ini sedang tinggi-tingginya. Namun hasil produksi mereka akan dijual di dalam negeri dengan harga dalam rupiah.

“Inilah yang memukul usaha importir,” ujar Amat.

Sebaliknya pelemahan rupiah terhadap nilai tukar dolar Singapura dan Amerika, justru menguntungkan pengusaha eksportir.

“Meskipun bahan baku dibelinya dari luar negeri, kan nantinya kembalinya juga dijual dengan patokan dolar dan itu masih untung,” terang Amat.

Beruntung, lanjut Amat, kebutuhan sembako di Batam saat ini dipasok dari dalam negeri. Seperti beras, sayuran, dan komoditi lainnya. Jika beras diimpor, maka ia yakin harga beras di Batam akan naik signifikan.

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kepri Gusti Raizal Eka Putra mengaku belum bisa memberikan pandangannya terkait dampak ekonomi makro di Batam akibat pelemahan rupiah terhadap dolar Singapura. Sebab saat dihubungi Rabu (25/7) siang, Gusti mengaku masih rapat dengan BI Pusat di Jakarta. (gas/ska)