Para Imigran pencari suaka yang menghuni bekas hotel Kolekta melakukan aksi damai , Rabu (25/7). Mereka meminta IOM memberikan kebebasan bagi mereka fasilitas listrik

batampos.co.id – Ratusan imigran dari berbagai negara-negara konflik yang bermukim di Hotel Kolekta, Batam melakukan aksi ujuk rasa di depan Hotel Kolekta, Rabu (25/7) pagi.

Sambil membentangkan poster-poster, aksi ini diikuti imigran pencari suaka ini mulai dari usia anak-anak hingga orang tua. Namun, selama berdemonstrasi, tidak ada satu pun pihak International Organization for Migration (IOM) yang menemui mereka.

Hanya aparat kepolisian yang mengawal jalannya aksi imigran ini. Imigran yang berdemonstrasi ini merupakan perwakilan dari berbagai negara-negara konflik seperti Afganistan, Somalia, Sudan, Palestina, Eutophia dan Iraq.

Menurut perwakilan imigran dari Sudan, Yahya, para pendemo merupakan perwakilan dari 500 imigran yang bermukim di Hotel Kolekta. Dalam aksinya, mereka selaku imigran meminta kepada IOM untuk memberikan kebebasan mereka dalam menggunakan fasilitas listrik.

Adapun pembatasan penggunaan lisrik itu dimulai, Rabu (25/7) pagi kemarin. Pembatasan penggunaan listrik itu sudah diberitahu oleh IOM pada saat menggelar rapat paad Senin (23/7) lalu. Dalam rapat itu, pembatasan penggunaan listrik dimulai dari Rabu (25/7) pagi.

“Kemarin ada peraturan baru kalau tidak bisa pakai AC dan air panas karena mereka mau ganti meteran listrik. Enam sampai tujuh orang di dalam kamar mana bisa pakai kipas, itu sudah seperti dalam penjara. Bukan lagi seperti tempat tinggal,” tuturnya.

Dijelaskannya, saat ini IOM telah mengganti meteran listrik menjadi 400 watt. Sementara sebelumnya mereka diberikan fasilitas listrik sebesar 1.200 watt per kamarnya.

Selain menuntut kebebasan dalam menggunakan listrik, para imigran tersebut juga meminta kebebasan untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Sebab, para imigran yang berada di daerah liannya di Indonesia mendapat fasilitas yang cukup.

“Disana ada fasilitas bagus. Jadi disini mereka mau bikin berbeda dengan mengurangi fasilitas. Jadi kami disini mau sama dengan imigran daerah lain,” ujarnya.

Selain itu, mereka juga mengaku pernah mendapatkan penganiayaan karena menanyakan proses pencarian negara baru untuk mereka. Imigran itu, menanyakan proses pemindahan mereka karena selama ini prosesnya terasa lambat.

“Alasan dia lambat karena kalian ada fasilitas disini. Ini fasilitas juga mau dikurangi. Jadi kami mau gimana lagi sekarang. Makin hari makin susah kami dengan adanya aturan baru,” imbuhnya. (gie)