Pagi itu tampak puluhan siswa mengenakan kaos olahraga sedang berbaris di halaman SMPN 10 Seipanas. Satu pria berdiri paling depan tampak mengarahkan puluhan siswa memberikan contoh gerakan melemaskan otot lengan tangan dan kaki. Ia adalah salah satu guru olahraga.

Pun begitu suasana dalam tiap kelas, siswa dibimbing satu guru pada sibuk mengikuti belajar mengajar. Sepintas suasana belajar berjalan normal, seakan tak pernah ada kejadian buruk yang menimpa sekolah tersebut. Beberapa siswa tertawa riang mendengarkan cerita gurunya dalam kelas.

“Bu, terus jadinya gimana cerita akhirnya,” tanya beberapa siswa ke gurunya.

Batam Pos sengaja mengintip dari luar ruang kelas melihat suasana belajar siswa SMPN 10, tak bisa langsung masuk ke dalam sekolahan.

Sempat mencoba memasuki pintu depan sekolah, mendadak Batam Pos didatangi satu penjaga sekolah yang berdiri di gerbang pintu masuk.

“Mau ke mana pak,” tanya salah satu penjaga sekolah yang saat itu mengenakan pakaian safari warna biru dongker dan berpeci putih.

Batam Pos mencoba meminta izin masuk dan menyampaikan maksud kedatangannya ke sekolah. Namun alasan itu tetap ditolak penjaga sekolah untuk masuk menemui salah satu guru di SMPN 10.

“Maaf pak, kalau mau ketemu sama kepala sekolah, sekarang kepsek di sini belum ada, begitu juga dengan wakilnya juga belum ada. Kalau mau jumpa bagian kesiswaannya, sekarang beliau lagi ada tamu dari pak Erizal (anggota DPRD Batam), tak bisa diganggu, lain waktu saja buat janji terlebih dahulu,” ujar salah satu penjaga sekolah.

Mendapat penolakan dari penjaga sekolah, Batam Pos mencoba menunggu di luar gerbang masuk SMPN 10. Beberapa guru yang mengenakan pakaian safari PNS warna coklat tampak mengintip dari dalam ruang TU yang berkaca tembus pandang, menengok Batam Pos dari kejauhan serta sorotan mata yang curiga.

Sekitar sejam Batam Pos duduk di depan gerbang pintu masuk sekolah, salah satu guru perempuan keluar berjalan kaki menuju tempat parkir yang kebetulan posisinya beraa di luar gerbang sekolah.

Berjalan beberapa langkah, Batam Pos mencoba mendekata salah satu guru tersebut dan hendak meminta izin masuk. Belum sempat Batam kata terucap, guru perempuan yang keluar tadi keburu menjauh saat didekati Batam Pos.

“Maaf pak, saya tidak tahu menahu soal pungli itu. Saya di sini hanya mengajar saja,” ujar salah satu guru perempuan yang langsung mempercepat langkahnya menjauhi Batam Pos.

Sejumlah siswa SMPN 10 Batam meninggalkan lingkungan sekolah pada hari pertama masuk sekolah, Senin (16/7). Dewan pendidikan sempat melakukan pantauan ke sekolah tersebut pasca penangkapan atas kasus pungli PPDB. F Cecep Mulyana/Batam Pos

Usaha Batam Pos untuk masuk ke sekolah menemui salah satu guru sempat gagal. Tak lama, salah satu anggota DPRD Batam, Erizal Kurai keluar dari dalam ruang TU menuju parkiran tempat mobilnya diparkir.

Mengetahui hal itu, Batam Pos langsung mendekatinya dan meminta tolong untuk difasilitasi bertemu dengan Pelaksana tugas (Plt) Kepsek SMPN 10 yang baru.

“Ayoklah saya antar jumpa bu Tety (Plt Kepsek baru). Mau wawancara apa? Wawancaralah hal yang baik-baik, biar media bisa membantu sekolah sini. Bukannya apa, guru-guru di SMPN 10 ini sudah trauma begitu ada orang asing yang hendak masuk ke sekolahan. Apalagi kalau yang datang dari media,” ujar Erizal Kurai.

Batam Pos diantar masuk ke ruang TU yang berhadapan langsung dengan pintu masuk gerbang sekolah, tak sampai masuk ruangan.

Setelah dipanggil Erizal, dan disampaikan maksud dan tujuan kedatangan Batam Pos, Plt Kepsek SMPN 10, Tety keluar dari dalam ruang TU untuk menemui Batam Pos di halaman sekolah.

“Maaf pak, bukannya kami tak mau menemui wartawan atau tamu yang datang ke sekolah ini. Harap maklumlah pak, pasca kejadian OTT pungli itu, semua guru trauma dengan kehadiran orang yang bukan internal sekolah ini. Apalagi dengan wartawan, mereka trauma, takut ditanya yang menyangkut hal itu. Padahal mereka ini banyak yang tidak tahu menahu,” ujar Tety menyampaikan alasannya sengaja tak mau menemui Batam Pos.

Kepada Batam Pos, Tety mengakui sulit untuk menghilangkan langsung trauma guru-guru yang mengajar di SMPN 10 pasca OTT kasus pungli yang terjadi di sekolah.

“Ini tadi aja, pak Erizal yang bikin saya berani menemui bapak dari Batam Pos. Kami sih tak menutup diri dengan tamu atau orang yang belum kami kenal, apalagi bukan guru atau pegawai SMPN 10,” terang Tety.

Makanya hanya dengan cara menutup dirilah, lanjut Tety, yang bisa menghilangkan sedikit lebih sedikit trauma yang dirasakan guru-guru SMPN 10.

“Kami tak mau melihat hal-hal ke belakang tentang apa yang baru saja terjadi di sekolahan ini. Saya secara pribadi yang ditunjuk Wali Kota Batam memimpin sekolahan ini mencoba untuk melupakan yang baru saja terjadi. Caranya ya, kami sepakat untuk kembali ke nol, fokus melakukan aktivitas mengajar dengan maksimal ke siswa. Mungkin dari situlah dapat menghilangkan pelan-pelan rasa trauma guru-guru,” kata Tety.

Sementara untuk anak-anak didik di SMPN 10 Batam, Tety menegaskan, hal tersebut tak sampai mempengaruhi trauma siswa dalam belajar.

“Kalau anak didik di sini tak sampai terpengaruh dengan kasus yang mencoreng almamater sekolah sini. Biarpun sekarang sekolah ini namanya di luar lebih tenar dibandingkan sebelumnya, meski tenarnya negatif, di cap sekolah berpungli,” terang Tety.

Untuk menghilangkan rasa trauma guru-guru, Tety juga mempersilakan guru-guru memberikan materi selingan ke anak didiknya berupa permainan, cerita-cerita lucu dan materi belajar lainnya yang disukai anak-anak didik.

Untuk menghindari serbuan wartawan yang datang ataupun pihak lain di luar sekolah yang datang dengan maksud menanyakan terkait masalah pungli, pihak sekolah sampai meminta penjaga untuk menanyakan maksud kedatangan tamu yang hendak masuk ke sekolah.

Kepada Batam Pos, Tety berharap uang seragam yang per walimurid dikutip Rp 640 ribu yang ikut disita, bisa dikembalikan oleh kepolisian untuk pembelian uang seragam anak sekolah kelas 10 yang baru masuk sekolah.

“Sebenarnya bukan walimurid yang selalu bertanya kapan seragam sekolah dikasihkan, tapi yang selalu nanya ke saya dan guru-guru itu para siswa yang ingin segera memakai seragam sekolah baru. Saya tak bisa menjawab itu ke siswa yang bertanya. Saya hanya bilang ke mereka sabar dulu ya, belum jadi, nanti kalau sudah jadi pasti dibagikan,” ujar Tety.

Tety juga berharap agar pihak kepolisian mau membuka segel pintu masuk ruangan kepsek yang saat ini masih dalam kondisi tersegel pita kuning dilarang melintas (police line). Sebab, di dalam ruangan kepsek yang disegel polisi, terdapat file sekolah dan ijazah siswa.

“Bukannya apa, saya juga bingung kemarin ada beberapa mantan siswa yang datang minta berkas atau file ijazah. Saya tak bisa mengambilnya karena tersimpan dalam ruang kepsek. Ini yang akan kami mohonkan ke kepolisian, demi kelancaran belajar mengajar dan perbaikan ke depan di sekolah ini,” terang Tety.

Salah satu siswa kelas II SMPN 10, Rita kepada Batam Pos mengaku dirinya tetap pede tak terganggu dengan apa yang dialami sekolahnya beberapa waktu lalu.

“Nggak ada kami trauma atau takut masuk sekolah. Kami kan taunya masuk sekolah, ngikuti pelajaran yang diberikan guru saja. Kalau sekolah sekarang ini di cap sekolah pungli, saya sih cuek saja. Yang penting belajar saja sudah cukup,” ujar remaja perempuan yang tinggal di komplek perumahan Seipanas, tak jauh dari SMPN 10. (gas)