ilustrasi

batampos.co.id – Kondisi ketersediaan air bersih di Batam kian mengkhawatirkan. Hal ini terjadi karena volume konsumsi masyarakat yang terus naik tidak dibarengi dengan peningkatan suplai air baku di sejumlah dam yang ada.

“Meski belum kritis tapi sudah memasuki tahapan rawan. Apalagi jika terjadi sesuatu yang anomali atau diluar prediksi. Misalnya curah hujan yang rendah,” kata Head of Corporate Secretary PT Adhya Tirta Batam (ATB), Maria Jacobus, dalam rilisnya, Kamis (26/7).

Maria menjelaskan, saat ini sumber air baku di Batam hanya mengandalkan dari curah hujan yang kemudian ditampung di lima dam. Yakni Dam Duriangkang, Dam Mukakuning, Dam Seiharapan, Dam Seiladi, dan Dam Nongsa. Kelima dam tersebut memiliki total kapasitas sebesar 3.820 liter per detik. Sementara total kapasitas produksinya sebesar 3.610 liter per detik.

“Kemudian total produksi air bersih ATB sudah mencapai sekitar 3.300 liter per detik. Idle capacity-nya (kapasitas tersisa, red) sudah semakin mengecil,” terang Maria.

Menurut Maria, volume konsumsi air bersih terus meningkat seiring semakin banyaknya jumlah penduduk di kota industri ini. Data terbaru PT ATB, saat ini ATB sudah melayani 278.000 pelanggan atau telah menjangkau 99,5 persen area pelayanan dengan fokus pendistribusian air bersih di mainland Batam.

Dengan jumlah pelanggan tersebut, ATB memproduksi sekitar 100 juta kubik air bersih per tahun. Jumlah tersebut untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dari berbagai segmen, mulai dari rumah tangga, niaga, dan industri.

Jika dirata-rata, maka saat ini konsumsi air bersih penduduk Batam mencapai 190 liter per hari per orang. Jumlah atau volume konsumsi air bersih tersebut lebih tinggi dari rata-rata nasional.

“Nasional hanya sekitar 130 liter per hari,” ujarnya.

Melihat kondisi ini, sebagai perusahaan air bersih terbaik di Indonesia PT ATB terus melakukan beberapa upaya efisiensi konsumsi air bersih. Di antaranya dengan menekan kebocoran pipa air bersih.

Hasilnya, tingkat kebocoran air ATB terus berkurang. Bahkan sejak 2016 hingga saat ini, ATB berhasil menekan angka kebocoran di level 15 sampai 16 persen saja.

“Ini sudah paling efisien di Indonesia, dimana tingkat kebocoran rata-rata air nasional adalah 32 persen,” ujar Maria.

Meski segala sesuatu berjalan baik, seluruh komponen masyarakat Batam tetap harus waspada. Menurut Maria, hal ini dikarenakan sumber air baku Batam tetap terbatas. Sementara tingkat konsumsi air bersih di Batam sangat tinggi alias boros. (une)