Sejumlah turis mancanegara saat menikmati suasana Dataran Engku Putri Batamcenter.
F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Pelemahan rupiah terhadap dolar Singapura tidak selalu mendatangkan dampak negatif bagi perekonomian Batam. Sebaliknya, kondisi ini bisa menjadi peluang yang baik bagi sektor pariwisata Batam.

“Batam dapat mendatangkan wisatawan dari Singapura lebih banyak,” kata Kepala Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Kepri Gusti Raizal Eka Putra, Kamis (26/7).

Ia mengatakan, menguatnya nilai tukar dolar Singapura ini bisa mendorong wisatawan asal Negeri Singa datang ke Batam. Tak hanya datang saja, tapi juga dapat mendorong wisatawan asal Singapura berbelanja lebih banyak di Batam.

“Dari Rp 9 ribu per dolar Singapura menjadi Rp 10 ribu lebih, akan membuat wisatawan berbelanja lebih banyak. Karena belanja jadi terasa lebih murah,” ungkapnya.

Potensi itu, kata Gusti, bisa menjadi jalan keluar jangka pendek bagi pemerintah saat ini. Namun, untuk solusi jangka panjang, harus mendorong ekspor lebih baik lagi.

“Impornya dikurangi, tapi kalau kita berbicara saat ini, tentu sulit merealisasikannya. Karena ini pekerjaan yang tidak bisa dilakukan satu atau dua hari. Yang cepat itu yah pariwisata,” ujarnya.

Meningkatkan nilai ekspor ini, lanjut Gusti, menjadi pekerjaan rumah pemerintah saat ini. Selain itu, pemerintah harus mendorong industri-industri yang ada di Batam agar menggunakan bahan baku lokal. Penggunaan bahan baku lokal ini diyakini dapat meningkatkan ketahanan perkekonomian Batam.

“Eskpor lebih baik lagi, impor dikurangi. Lalu mengutamakan mengkonsumsi produk-produk dalam negeri. Inilah yang harus dilakukan,” tuturnya.

Ia mengatakan, pelemahan rupiah terhadap dolar Singapura saat ini juga dampak dari kondisi global seperti mulai membaiknya perekonomian Amerika Serikat sampai perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Sehingga Indonesia umumnya, serta Batam khususnya, terkena dampaknya.

“Tapi kalau melihat saat ini, Kepri masih positif-lah,” ungkapnya. (ska)