Suasana rumah duka.
foto: dalil harahap / batampos

batampos.co.id – Kematian Brigadir Maria Magdalena Marpaung bersamaan dengan upaya penyidik Polsek Batuaji mengungkap pelaku pembuang bayi yang ditemukan terbakar di tempat sampah di Perumahan Pemda II Batuaji.

Sebelum ditemukan tewas dengan leher terjerat tali, Maria dicari oleh penyidik Polsek Batuaji untuk bantu mengungkap pelaku pembuang mayat bayi tadi. Dia berkali-kali ditelepon oleh pihak penyidik agar segera datang ke Polsek untuk menginterogasi tiga wanita yang diamankan polisi sebagai saksi atas temuan jasad bayi tersebut. Dia dibutuhkan karena kesehariannya dia bertugas sebagai penyidik di unit perlindungan perempuan dan anak (PPA) Polsek Batuaji.

“Lagian polwan yang ada satu-satunya cuma dia. Kami butuh dia supaya bisa mengecek tiga saksi tadi untuk cari tahu mana yang keluar ASI. Nggak mungkin juga kami laki-laki yang cek itu,” ujar seorang penyidik Polsek Batuaji.

Namun setelah beberapa kali ditelepon, Brigadir Maria tak mengangkat ponselnya.

Upaya untuk menghubungi Brigadir Maria ini juga dilakukan oleh Kanit Reskrim Polsek Batuaji Ipda Yanto dan Kapolsek Batuaji Kompol Syafruddin Dalimunthe. Namun sampai pukul 22.00 WIB Maria tak merespon panggilan telepon.

Penyidik Polsek Batuaji akhirnya meminta bantuan polwan lain dari Polresta Barelang untuk mengecek tiga saksi kasus pembuangan bayi.

Disinggung terkait kematian anggotanya itu, Kapolsek Batuaji Kompol Syarifuddin Dalimunthe enggan berkomentar banyak. Sebab kasus tersebut ditangani langsung oleh Mapolresta Barelang.

“Yang bisa saya sampaikan dia memang angggota saya. Dia orangnya baik dan tak masalah selama ini. Kami turut berduka untuk musibah ini,” ujar Dalimunthe.

Sementara hingga Kamis (26/7) siang, Biddokes Polda Kepri masih belum melakukan autopsi terhadap jenazah Maria Magdalena. Kabiddokes Polda Kepri Kombes Pol Djarot Wibowo mengatakan masih menunggu arahan dari Polresta Barelang.

“Belum lagi, nanti saya kabarkan,” kata Djarot singkat, Kamis (26/7).

Petugas-petugas di Rumah Sakit Bhayangkara juga tidak ada satupun yang mau berbicara terkait jenazah Maria yang berada di ruang instalasi forensik. Namun, dari pantauan Batam Pos beberapa rekan-rekan Maria berdatangan ke Rumah Sakit Bhayangkara.

Direskrimum Polda Kepri Kombes Pol Hernowo juga enggan mengomentari kasus kematian Brigadir Maria. “Bukan kami, itu Polresta Barelang yang handle,” kata Hernowo.

Seperti telah kami beritakan, Brigadir Maria Magdalena Marpaung ditemukan meninggal di kediamannya di Perumahan Taman Cipta Asri Tahap I Blok F/70, Sagulung, Batam, Rabu (26/7) malam sekitar pukul 22.30 WIB. Anggota Polsek Batuaji itu tewas dengan posisi setengah tergantung di bawah tangga rumahnya.

Polisi yang menangani kasus ini menemukan sejumlah kejanggalan. Sebab meskipuan ada tali yang menjerat leher dan ujung tali itu diikatkan di teralis tangga, posisi tubuh Maria tidak benar-benar menggantung. Kedua kakinya masih menjangkau lantai. Sehingga tubuh istri perwira polisi di Korps Brimob Polda Kepri itu setengah bersandar di tembok di bawah anak tangga ke lantai dua rumahnya.

Kapolresta Barelang Kombes Pol Hengki yang turun langsung ke lokasi kejadian dini hari kemarin enggan menanggapi kejanggalan tersebut. Ia menyebut anggotanya masih menyelidiki semua dugaan dan kemungkinan yang terjadi.

“Belum bisa mengandai-andai. Masih didalami,” ujar Hengki, singkat.

Informasi di lapangan menyebutkan, kematian polwan itu pertama kali diketahui Togar Silalahi yang tak lain adalah suami korban. Saat itu Togar baru pulang karena ada urusan di luar. Saat melihat sang istri sudah tak bernyawa dengan posisi leher dijerat tali, Togar langsung berteriak meminta bantuan warga.

Brigadir Maria Magdalena bersama suami.

“Kaget dengar suaminya minta tolong. Rupanya istrinya gantung diri,” ujar Salim, seorang warga di lokasi kejadian.

Kejadian itu langsung dilaporkan ke Polsek Batuaji. Tak lama berselang, polisi datang. Bahkan Kapolresta Barelang Kombes Hengki dan Kapolda Kepri Irjen Pol Didid Widjanardi juga ikut mendatangi lokasi, tadi malam.

Menurut sejumlah warga, sebelum ditemukan meninggal dunia, korban diketahui masih bersama sang suami di rumah mereka. Saat itu keduanya terlihat ngobrol berdua di lantai satu.

Sementara dua anak dan seorang pembantu rumah tangga berada di lantai dua. Sekitar pukul 20.00 WIB sang suami terlihat keluar rumah. “Sekitar 22.30 WIB, dia balik ke rumah lihat istrinya sudah meninggal,” kata sumber di lokasi kejadian.

Meninggalnya penyidik di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Mapolsek Batuaji menyisakan tanda tanya besar bagi warga sekitar dan rekan polisi lainnya. Mereka tak menyangka hidup polwan yang pendiam dan tenang itu bisa berakhir tragis seperti itu.

“Awal dikasih tahu saya tak percaya. Saya pikir itu hoax,” ujar seorang anggota Polsek Batuaji, kemarin.

Menurut rekan-rekan kerjanya, selama ini, Maria dikenal sebagai sosok polwan yang pendiam dan selalu fokus dalam melaksanakan pekerjaannya. Namun belakangan ini ada banyak perubahan pada Maria.

Misalnya dari segi penampilan. Maria yang biasanya tampil rapi, belakangan seperti tak mempedulikan penampilannya lagi.

Tidak itu saja, sepekan sebelum naas itu tiba, Maria juga kerap berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon genggamnya. Tak seperti biasanya, setiap kali telepon Maria ngobrol panjang lebar.

“Pakai headset terus dia dan ngobrolnya bisa berjam-jam. Seperti curhat gitu,” ujar sumber.

Sikap tak lazim serupa juga diakui tetangga korban. Siang hari sebelum ditemukan meninggal, Maria terlihat gelisah saat berada di rumah. Dia sering mondar mandir ke luar rumah.

“Bahkan sore tadi dia juga sempat duduk lama di dekat gerbang masuk ini. Seperti lagi banyak masalah dia. Termenung gitu,” ujar Yati, tetangga korban.

Yati mengatakan, korban merupakan sosok yang ramah meskipun cenderung pendiam. “Dia ramah. Kalau berangkat kerja pasti nyapa kami,” kata Yati.

 

(eja/ska/une)