Iklan

batampos.co.id – Tim terpadu yang terdiri dari Komisi Pengawas dan Persaingan Usaha (KPPU) Batam dan Disperindag Batam turun ke pasar Toss 3000 melakukan sidak atau pengecekan harga pangan khususnya telur dan ayam potong, Jumat (27/7) pagi.

Iklan

Dari hasil sidak di beberapa kios pedagang telur dan ayam potong di pasar, harga telur maupun ayam potong bervariasi dan masih ada disparitas harga.

“Hasil pantauan tadi, untuk harga telur memang mengalami penurunan dibandingkan seminggu sebelumnya. Harga telur yang dipasok langsung dari Medan per papan sebanyak 30 butir saat ini harganya mulai Rp 41 sampai Rp 43 ribu. Sebelumnya harga telur ayam menembus Rp 48 ribu per papan,” ujar Ketua KPPU Batam, Akhmad Muhari.

Ini berarti, lanjut Akhmad, telur sudah mulai turun harga di Batam, meski harganya belum kembali normal seperti sebelumnya di angka Rp 35 sampai Rp 38 ribu per papannya.

Soal stok, beberapa pedagang telur dan ayam potong mengaku tak ada masalah. Ada permintaan, pasokan selalu siap.

“Kami nantinya akan mengecek ke teman-teman yang di Medan, apakah ada masalah dengan produksi telur di sana. Kalau memang ada masalah, di mana masalahnya, apakah karena memang ada gejolak kenaikan harga ini terkait pelemahan rupiah terhadap dolar atau karena apa,” terang Akhmad.

Untuk harga pakan sendiri, lanjut Akhmad, tak dipungkiri ada beberapa bahan bakunya yang harus diimpor dari luar negeri.

“Jadi kami ingin melihat seberapa besar dampaknya terhaap harga produksi telur nanti,” katanya.

Sementara untuk harga ayam potong perkilogramnya juga masih tinggi meskipun tak setinggi pada awal bulan Juli lalu. Saat ini harga ayam potong juga bervariasi antara Rp 33 ribu sampai Rp 35 ribu.

Ditanya kenapa KPPU baru turun sekarang ini, tak turun sebelum-sebelumnya saat harga telur dan ayam lagi dipuncaknya, Akhmad menjelaskan bahwa pihaknya sebenarnya tiap hari Kamis dan Minggu selalu turun ke pasar mengecek harga komoditas pangan.

“Jadi kalau dikatakan kami baru turun karena ada gejolak dari masyarakat karena harga telur dan ayam tinggi, itu tidak benar, tidak seperti itu. Kami selalu melaporkan ke instansi terkait bahwa harga-harga yang terjadi di Kota Batam. Kami pantau mana yang harganya naik dan mana yang sudah kembali turun dan normal lagi,” ujar Akhmad.

Sementara beberapa pedagang menegaskan untuk stok, tidak ada masalah.

“Stok sih kami tak pernah macet dari distributor di Batam. Kalau stok kami sudah menipis, kami tinggal kontak saja distributor, pasti langsung didrop itu ayam potong serta telur,” terang pedagang ayam potong, Rockhmat.

Beberapa pedagang mengaku terpaksa menjual dengan harga tinggi, karena memang dari distributor utamanya harganya sudah tinggi.

Kepala Disperindag Batam, Zarefriadi mengatakan, terkait masih tingginya harga telur dan ayam potong karena dipengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Batam. Karena sektor produksi ditangani oleh pertanian.

“Sisi inilah yang perlu kami sinkronkan dengan Dinas Pertanian dan Peternakan serta ketahanan pangan sekarang ini,” ujar Zarefriadi.

Persoalan kurs dolar, lanjut Zaref, memang berpengaruh terhadap tingginya komoditas harga pangan seperti telur dan ayam potong. Sebab, konsentrat pakan ayam dan vaksinnya itu didapatkan dari impor yang harganya mengacu ke dolar.

“Kalau bisa kami berharap para peternak dan petani di Batam ini bisa untuk lebih meningkatkan lagi produksinya, agar bisa memasok kebutuhan di Batam,” terang Zaref. (gas)