Lahan yang berada di Galang masih tampak kosong. | Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id  – Agenda untuk mengembangkan Rempang Galang menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) semakin tidak jelas.

Saat ini prosesnya ini pun belum jelas di pusat.

“Waduh kalau KEKnya belum tahu saya. Belum jelas,” kata kepala BP Batam Lukita Diarsyah Tuwo, usai menghadiri acara kerjasama BP Batam dengan BNN di gedung Balairungsari BP Batam, Jumat (27/7).

Meski demikian, ia mengaku sudah mendengar bahwa sudah ada sekitar 7.000 hektar lahan di sana yang status hutannya sudah diturunkan dari hutan lindung menjadi hutan produksi.

“Saya belum terima suratnya, tetapi katanya sudah ada penurunan status hutan di sana dari hutan lindung ke hutan produksi,” katanya.

Beberapa waktu lalu, Lukita mengatakan pengembangan KEK Rempang Galang terkendala status hutannya. Dan pelepasan status hutan Rempang-Galang di DPR RI sudah dibahas.

“Kami berharap tahun depan bisa menerapkan KEK di sana. Tinggal menunggu di DPR RI saja,” katanya.

Menurutnya, saat ini banyak investor yang berminat membangun perusahaan di kawasan Rempang-Galang, tetapi karena status hutannya masih hutan lindung, maka belum bisa dialokasikan.

Ketua Kadin Batam, Jadi Rajagukguk meminta pusat dan BP Batam untuk terus menggesa agar KEK di Rempang Galang segera diberlakukan. Di mana daerah barulah yang memang layak diterapkan KEK.

“Rempang Galang itu sangat tepat KEK. Bukan di Batam yang mainland. Jadi lebih gampang membuat aturan dan juga prosesnya,’ katanya.

Menurutnya, saat ini banyak investor yang hendak masuk ke Batam, terutama Rempang-Galang dari berbagai core bisnis.
Kepala DPM-PTSP Gustian Riau juga mengakui bahwa banyak perusahaan nasional dan PMA yang ingin berinvestasi di Rempang-Galang.

“Banyak yang ingin berinvestasi di sana. Bahkan yang datang ke kami, bukan hanya dari lokal saja, Dari luar negeri juga banyak,” katanya.

Salah satunya adalah erusahaan manufaktur dari Cina yang sudah bertanya kepada pemerintah daerah terkait Rempang-Galang. Juga perusahaan dari Jakarta yang ingin membuat perusahaan pengolahan ikan. Ada juga perusahaan lokal yang ingin mengembangkan pariwisata di sana.

“Jadi sebelum digadang-gadang jadi KEK, sudah ramai juga yang bertanya-tanya dan menyatakan minatnya di sana,” katanya. (ian)