Jumat, 1 Mei 2026

Ketersediaan Air Baku di Batam Terbatas

Berita Terkait

Suasana diskusi tentang kebutuhan air di Batam.
foto: cecep mulyana / batampos

batampos.co.id – Kebutuhan air minum masyarakat kota Batam akan terus meningkat.

Sayangnya, peningkatan itu tidak sebanding dengan ketersediaan air baku..

Hal inilah yang disampaikan President Director Direktur ATB Ir Benny Adrianto MM dalam talk show Sinergi Pemerintah dan Swasta dalam menghijaukan Batam, Minggu (29/7/2018).

Benny mengatakan, perlu adanya sinergitas antara pemerintah, pelaku industri, swasta dan masyarakat untuk memacu pengembangan air minum di kota Batam.

“Kami ingin ada satu pemahaman, bahwa air yang kita miliki saat ini sangat terbatas. Sementara pulau Batam bergantung ketersediaan air baku. Oleh sebab itu mari kita bentuk satu kesadaran menjaga air,” katanya.

Talk Show Sinergi Pemerintah dan Swasta sendiri merupakan rangkaian kegiatan Festival Hijau 2018 yang diselenggarakan ATB, BP Batam dan Batam Pos. Benny menyebutkan, event tahunan ATB ini rutin setiap tahun guna memperingati hari lingkungan hidup yang jatuh 4 Juli lalu.

“Karena kita tahu Batam sangat tergantung ketersediaan air, maka kita ajak masyarakat untuk menanam agar kelangsungan air bisa kita pertahankan,” tuturnya.

Kepala Kantor Air dan Limbah BP Batam, Binsar Tambunan menyebutkan, Batam dibangun hanya untuk 700 ribu penduduk dan sekarang penduduk Batam berjumlah 1,25 juta orang. Karena keterbatasan inilah pemerintah membangun waduk tampungan air hujan yang tadinya belum ada. Hal ini didukung dengan curah hujan di Batam yang cukup tinggi yakni 2500mm per tahun.

“Bagaimana kita menampung air hujan sebaik mungkin dan semaksimal mungkin. Maka kita bangun enam waduk yang harus kita jaga bersama,” kata Binsar.

Diakuinya, melihat tingginya tingkat pertumbuhan di Kota Batam, sementara keenam waduk ini memiliki keterbatasan tampungan. Ke depan Pemerintah Batam harus masuk kepada pengolahan air laut dan mencari sumber air di sekitar pulau Batam. Sehingga rencana pembangunan kota Batam bisa didukung terhadap ketersediaan air.

“Rencananya penduduk Barelang di tahun 2030 berjumlah 3,5 juta orang dan ini sudah harus mulai kita siasati terkait persediaan air baku,” papar dia.

Bukan hanya itu saja, sebut Binsar, melihat tingginya kebutuhan air saat ini, kita sudah harus memikirkan bagaimana membuat setiap rumah dan lingkungan memiliki daya tampung air hujan sebaik mungkin.

“Singapura kalau bisa air hujan ditampung 3-4 kali, dan baru jatuh ke laut,” sebut Binsar.

Selain daya tampung, pemerintah, masyarakat, pelaku bisnis dan swasta memiliki peran serta menjaga ketersediaan air saat ini. Apalagi di Kota Batam memiliki 25 kawasan industri yang menghasilkan limbah setiap harinya.

“Ini tugas kita bersama, agar ketersediaan air tidak tercemar ke depan kami akan membuat semacam MoU dengan pemko dan swasta. Itu semua kita tuangkab menjadi kerja nyata,” tambah dia.

Dalam acara tersebut Komisaris Batam Pos, Marganas Nainggolan bertugas sebagai moderator acara. Guru besar Institut Pertanian Bogor, Hadi Susilo Arifin yang juga sebagai pembicara memaparkan, perlu adanya peran serta semua pihak di dalam mensosialisasikan ketersediaan air saat ini. Paling utama ialah mengajak semua pihak sadar dan peduli terhadap lingkungannya.

“Kuncinya ada di masyarakat. Disosialisasikan oleh ATB dan BP Batam, didukung oleh pemerintah dan dilaksana” oleh masyarakat. Event Festival Hijau seperti ini harus diperbanyak dengan arah yang sama menuju keberlanjutan dan ketersediaan air baku di Batam,” tutur dia. (rng)

Update