Prosesi pemberangkatan jenazah Brigadir Maria Magdalena dari rumah duka ke Tanjungpinang.
foto: Eusebius / batampos

batampos.co.id – Dokter forensik Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kepri telah melakukan autopsi terhadap jenazah Brigadir Maria Magdalena Marpaung yang ditemukan tewas di rumahnya di Perumahan Taman Cipta Asri Tahap I Blok F/70, Rabu (25/7) malam lalu. Hasilnya, Maria dinyatakan tewas akibat bunuh diri dengan cara gantung diri.

Hal ini disampaikan Kapolresta Barelang Kombes Hengki, Jumat (27/7). Kesimpulan tersebut diperkuat dengan tidak adanya tanda-tanda kekerasan dalam tubuh Maria.

“Dari hasil autopsi itu dia murni gantung diri,” ujar Kapolres, kemarin.

Sementara soal motif Maria mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri itu, Hengki belum bisa membeberkannya lebih jauh. Sebab, sampai kemarin pihaknya belum bisa melakukan penyidikan lebih jauh karena kondisi keluarga korban tengah berduka.

“Motifnya masih kami dalami. Kami masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui motif pastinya,” imbuhnya.

Kematian Brigadir Maria menyisakan duka yang mendalam bagi keluarganya. Termasuk kedua anaknya, Grace dan Frans. Kedua bocah itu terus menanyakan kapan Maria pulang.

Pertanyaan ini muncul pada Kamis (26/7) dini hari lalu. Saat jenazah Maria dibawa ke RS Bhayangkara Polda Kepri. Saat itu, Grace dan Frans terbangun dari tidurnya dan mencari ibunya. Menurut keluarga, keduanya sedang tidur di lantai dua ketika ibunya diduga gantung diri di tangga lantai satu.

Pihak keluarga sebenarnya sudah menjelaskan, Maria sudah meninggal dan jenazahnya dibawa ke rumah sakit. Namun rupanya, Grace dan Frans belum bisa sepenuhnya memahami situasi sebenarnya.

“Makanya selalu tanya, kapan mama pulang,” ujar seorang polwan di rumah duka, Jumat (27/7).

Ia menceritakan, Grace dan Frans baru mengerti jika mama mereka meninggal saat jenazahnya dibawa pulang dari RS Bhanyangkara Polda Kepri, Kamis (26/7) malam.

Setelah semalaman disemayamkan di rumah duka, jenazah Maria dibawa ke Tanjungpinang untuk dikebumikan, Jumat (26/7) siang. Sebelum dibawa ke Tanjungpinang, keluarga terlebih dahulu melakukan ritual kematian sesuai adat suku Batak.

Setelah ritual usai, peti jenazah Maria ditutup. Saat itulah tangis suami mendiang Maria, Iptu Togar Silalahi, pecah. Sambil memeluk kedua anaknya, Togar menangis histeris meratapi kepergian istrinya itu.

Perwira polisi di Satbrimob Polda Kepri tak mampu berkata-kata. Hanya isak tangis yang keluar dari mulutnya. Mengenakan pakaian serba hitam dengan tudung kepala, Togar akhirnya bangkit untuk mengantar jenazah istrinya keluar rumah. Namun ia harus dipapah karena tak mampu berjalan dan berdiri tegak.

Sebelum diberangkatkan ke Tanjungpinang melalui pelabuhan Punggur, jenazah Maria harus melalui serangkaian acara serah terima dari keluarga ke jajaran Polresta Barelang. Serah terima ini dilakukan perwakilan keluarga korban kepada Kapolsek Batuaji Kompol Syafruddin Dalimunthe.

Dalimunthe kepada wartawan hanya bisa menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas kepergian salah satu anggotanya itu. Dia enggan berkomentar banyak perihal kelanjutan proses penyelidikan kematian korban.

“Untuk itu ditangani Polres. Nanti ke Kapolres saja. Saya tidak bisa berkomentar. Saya hanya bisa sampaikan bahwa dari seluruh jajaran Polsek Batuaji turut berduka cita yang sedalam-dalamnya,” ujar Dalimunthe.

Selain keluarga, kematian Maria juga membuat keluarga besar Mapolsek Batuaji berduka. Di mata teman-temannya, Maria dikenal sosok polwan yang pendiam dan tak banyak tingkah. Dia pernah menjadi penyidik di unit PPA Polresta Barelang dan Polsek Sagulung sebelum ke Polsek Batuaji.

Sudah 12 tahun dia menjadi anggota Polri dan selama itu, Maria dikenal sosok ibu dan polwan yang baik. Dia juga tidak pernah terlibat masalah atau sanksi dari institusinya itu.

Seperti diberitakan sebelumnya, Maria ditemukan meninggal dengan tali menjerat lehernya, Rabu (25/7) sekira pukul 22.30 WIB. Ujung tali yang menjerat lehernya itu diikatkan di teralis tangga rumahnya. Namun tubuhnya tak sepenuhnya menggantung, melainkan agak bersandar di dinding.

Peristiwa itu pertama kali diketahui suami Maria, Iptu Togar Silalahi. Malam itu, Togar baru saja pulang dari menjenguk anak temannya di Rumah Sakit Budi Kemuliaan (RSBK). (eja/gie)