Ratusan warga korban kebakaran rumahnya berkupul di tempat penampungan sementara di parkiran kantor Dispenda, Batamcentre, Sabtu (14/7). Dalam kebakaran ini tidak ada korban jiwa. tetapi rumah mereka habis dilalap sijago merah. F Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Warga korban kebakaran Ruli Beverly Batam Kota masih menunggu informasi dari pemerintah terkait kaveling. Janji pemerintah tersebut dinilai angin segar di tengah musibah kebakaran yang menghanguskan rumah dan harta mereka, beberapa waktu lalu.

“Kami sangat berharap soal ini (kaveling), kami menunggu. Di ruko ini, kan hanya 3 bulan saja,” kata warga, Muhammad Irawan di lokasi pengungsian di Ruko Aladin Batam Kota, Minggu (29/7) siang.

Ia mengatakan jika dalam tiga bulan tidak ada informasi soal kaveling, ia mengaku bingung. Baakn ia berencana kembali ke lokasi kebakaran semula. Jika harus mengontrak, ia mengaku harta sudah habis terbakar. “Kalau taka da keputusan kami akan balik lagi, bangun di sana,” imbuhnya.

Di lokasi pengungisan baru ini, ia mengatakan warga lebih mandiri karea petugas sudah tidak ada lagi, dari dapur umum hingga petugas kesehatan.

“Mereka seminggu pertama saja di Gedung bersama, kami sekarang masak perkelompok, kami beli kompor dan tabung gas,” katanya.

Ia mengaku, support dari pemerintah dan warga sangat tinggi terutama pakaiand an bahan makanan. Bakan, hingga kemarin bantuan tetap berdatangan.

“Itu terus ada, barusan ada lagi,” kata pria yang juga kepala gudang bantuan dan keamanan yang ditunjuk warga ini.

Saking banyaknya, khusus pakaian bahkan diambil warga lain.

“Warga kampung nanas, kampung air ambil juga,” kata warga lain, Murtini.

Selain bantuan tersebut, kelompok profesi juga berdatangan dengan memberikan support dan hiburan bagi para korban, terutama untuk anak-anak. Beberap waktu lalu polisi menggelar berbagai lomba, dari mewarnai hingga makan kerupuk. Hal ini dilakukan agar warga terutama anak-anak tidak bosan.

“Macam 17 agustus, ramainya. Alhamdulillah polisi mau bantu juga, mereka polisi di Nongsa itu, Polda,” pungkasnya. (iza)