batampos.co.id – Kematian Brigadir Maria Magdalena Marpaung yang jasadnya ditemukan setengah tergantung di rumahnya pada Rabu (25/7) lalu masih menyisakan misteri. Keluarga besar Maria tidak sepenuhnya percaya atas keterangan polisi yang menyebut anggota Polsek Batuaji itu tewas bunuh diri.

Kakak kandung korban, Agustinus, menilai keterangan polisi yang disampaikan Kapolresta Barelang Kombes Pol Hengki itu terlalu dini. Sebab keterangan tersebut disampaikan sehari setelah adiknya itu ditemukan meninggal. Sementara hasil autopsi belum keluar.

“Setahu kami dua minggu baru keluar hasil forensiknya. Tapi kok sudah disimpulkan bunuh diri oleh Kapolres,” ujar Agustinus melalui sambung telepon, Senin (30/7).

Pihak keluarga, kata Agustinus, tidak akan mempersoalkan jika memang Maria sengaja mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Namun ia berharap kesimpulan itu harus disertai dengan bukti-bukti dan hasil penyelidikan yang sahih.

“Ini belum apa-apa sudah bilang bunuh diri. Bukti dan faktanya mana?” tanya Agustinus.

Ia juga menjelaskan, sampai kemarin belum satupun penyidik dari Mapolresta Barelang yang menyampaikan hasil autopsi Maria kepada keluarga.

Menurut Agustinus, kematian Maria penuh dengan kejanggalan. Ia meragukan adiknya itu gantung diri. Sebab saat ditemukan, posisi jasad Maria tidak sepenuhnya menggantung meski ujung kabel yang menjerat lehernya diikatkan di teralis tangga rumahnya.

Saat itu, kata Agustinus, kaki Maria masih menyentuh lantai. Bahkan posisi kedua lutut Maria tertekuk. Artinya, kaki Maria sangat leluasa menjangkau lantai.

Kejanggalan lainnya, kata Agustinus, ketinggian tangga itu hampir sama dengan tinggi tubuh Maria. Sehingga menurut dia, tidak masuk akal jika Maria gantung diri di sana.

“Jam tiga pagi saya sudah di sana. Banyak yang janggal,” kata dia.

Untuk itu, Agustinus berharap polisi profesional dan serius mengamati kejanggalan-kejanggalan itu. Kalaupun pada akhirnya adiknya itu memang terbukti bunuh diri, Agustinus ingin polisi mengungkap bukti-buktinya.

Terlepas dari banyaknya kejanggalan itu, Agustinus mengakui belakangan ini Maria sedang banyak masalah. Terutama masalah keluarga. Hal ini diketahui karena sebelum meninggal Maria kerap curhat kepada kakak keduanya, Ester. Kepada Ester, Maria mengaku rumah tangganya sedang kurang harmonis.

“Itu saja sih persoalan yang kami tahu. Katanya ada masalah sedikit dengan keluarga dari suaminya,” ujar Agustinus.

Hal ini dibenarkan Ester. Menurut dia, Maria kerap bercerita ada masalah dengan keluarga, terutama keluarga suaminya, Togar Silalahi. Sayang Ester enggan membeberkan apa saja masalah yang diceritakan Maria kepadanya.
“Katanya dia selalau salah di mata keluarga sang suami,” ujar Ester.

Sementara dari keterangan pembantu korban, malam itu sebelum peritiwa itu terjadi Maria dan suaminya, Togar Silalahi, masih terlihat ngobrol di lantai satu rumahnya di Blok F/70 Perumahan Taman Cipta Asri, Tembesi.

Namun sekitar pukul 19.30 WIB, Togar keluar rumah.

Saat itu, Maria juga sempat menemani kedua anaknya belajar. Tah hanya itu, Maria juga sempat keluar rumah untuk fotokopi buku anaknya.

Sekitar pukul 22.00 WIB, Maria juga mengantar kedua anaknya tidur di lantai dua. Saat itu, pembantunya juga berada di lantai dua. Setelah itu, pembantu tersebut tak tahu lagi apa yang terjadi di lantai satu.

Sekitar pukul 22.30 WIB, sang pembantu kaget mendengar teriakan Togar yang ternyata sudah pulang. Togar histeris karena mendapati Maria tewas tergantung di tangga. Saat itu, pembantu tersebut sempat memegang tangan Maria untuk memastikan apakah Maria sudah meninggal atau belum.

Brigadir Maria Magdalena bersama suami.

Tidak Ada Tanda Kekerasan

Sementara Kapolresta Barelang Kombes Hengki kembali menegaskan Brigadir Maria Magdalena Marpaung meninggal akibat bunuh diri. Sebab berdasarkan hasil pemeriksaan Dokter Forensik Polda Kepri tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh Maria.

“Dokter forensik yang merupakan ahlinya sudah melakukan (autopsi) itu, dan itu lah hasilnya,” tegas Hengki.

Menurut Hengki, hasil autopsi resmi dari Dokter Forensik Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kepri sudah keluar. Namun, hasil autopsi itu tidak diserahkan kepada pihak keluarga karena untuk proses penyelidikan yang masih berlangsung hingga saat ini dan untuk kelengkapan berkas administrasi.

“Masalah motifnya bunuh diri masih kita dalami, kenapa yang bersangkutan melakukan itu. Kami masih melakukan penyelidikan,” ujarnya.

Menurut Hengki, selama bertugas Brigadir Maria mempunyai kinerja yang sangat baik. Selama ini, ia merupakan salah satu penyidik yang handal dan selalu profesional dalam menjalankan tugas. Brigadir Maria juga sudah lama mejadi seorang polisi dan Hengki memastikan jika Brigadir Maria sangat menyayangi profesinya sebagai polisi.

“Keterkaitan dengan masalah pekerjaan tidak ada. Kalau dia penyidik yang andal, berarti dia sangat menyenanginya itu,” bebernya.

Ia juga menegaskan, tidak ada tekanan sama sekali terhadap Brigadir Maria. Ia juga mengatakan bahwa Brigadir Maria merupakan penyidik yang dedikasi pekerjaannya sangat baik. Hampir semua perkara yang ditanganinya, baik itu kasus besar maupun kasus kecil bisa diselesaikan oleh Brigadir Maria.

“Kalau semua perkara bisa diselesaikannya berarti kinerjanya bagus. Proses penyelidikannya selama ini juga bagus,” imbuhnya. (gie/eja)