Senin, 16 Februari 2026

MUI Minta Imunisasi Campak dan Rubella Ditunda

Berita Terkait

batampos.co.id – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kepri meminta Dinkes Provinsi Kepri menunda pemberian imunisasi Campak dan Rubella (MR) kepada anak-anak di Kepri, sebab hingga saat ini vaksin yang akan digunakan belum mendapatkan sertifikasi halal dari MUI.

”Kita berbicara dari sisi agama. Karena belum ada sertifikasi halal, tentu ada baiknya ditunda terlebih dahulu,” ujar Ketua Harian MUI Provinsi Kepri Bambang Maryono, Selasa (31/7).

Dijelaskannya, informasi yang berkembang kandungan yang terdapat dalam vaksin itu berasal dari bahan hewani yang tidak halal. Tentunya, hal ini harus dipertimbangkan, sebab akan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Atas dasar itulah, pihaknya mendorong untuk dilakukan kajian terlebih dahulu.

”MUI Pusat telah meminta keterangan dari DPR RI dan Kemenkes RI terkait kandu-ngan dalam vaksin tersebut. Keterangan itu dimaksudkan agar MUI Pusat dapat mengeluarkan fatwa halal untuk vaksin tersebut,” paparnya.

Ditambahkannya, lantaran belum adanya fatwa halal untuk vaksin tersebut, Dinkes Provinsi Kepri serta Dinkes di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Kepri dapat menunda peluncuran program imunisasi itu. Ditegaskannya, apabila tetap diluncurkan, MUI Kepri dan MUI Kota Tanjungpinang tidak ikut serta, apalagi mendukung program itu.

”Untuk yang baik tentu kita mendukung. Tetapi juga harus ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi. Sehingga ada jaminan baik dari sisi medis maupun agamis,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kepri Tjetjep Yudiana mengatakan di 2018 ini, Pemprov Kepri menargetkan sebanyak 608 ribu anak-anak di Provinsi Kepri mendapatkan pela-yanan imunisasi campak dan rubella.

Tindakan tersebut wajib dilakukan untuk mencegah kecatatan pada generasi penerus.
”Imunisasi campak dan rubella adalah perisai bagi anak untuk mencegah terjadinya berbagai kecacatan fisik pada anak,” ujar Tjetjep, Selasa (31/7) di Kantor Gubernur Kepri, Tanjungpinang.

Ditegaskan Tjetjep, para orang tua jangan pernah ragu untuk mendapatkan pelayanan imunisasi campak dan rubella yang sudah disediakan pemerintah. Karena tujuan utama dari program tersebut menyelamatkan generasi penerus dari berbagai risiko penyakit. Selain itu, menekan angka anak-anak Kepri yang duduk di Sekolah Luar Biasa (SLB).

”Kemenkes juga sudah berkoordinasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Bahwa vaksin campak dan rubella yang disediakan oleh negara dinyatakan baik untuk kesehatan,” tegasnya.

Dijelaskannya, bahaya campak dapat menimbulkan komplikasi serius seperti radang paru-paru, radang otak, kebutaan, gizi buruk atau bahkan kematian. Sementara rubella sangat berbahaya bagi ibu hamil. Karena apabila terpapar virus tersebut mengancam keguguran, bayi yang lahir berisiko kecacatan, kelainan pada jantung, mata, pendengaran serta keterlambatan perkembangan.

”Saya yakin semua orang tua tidak ingin anak-anaknya mengalami hal itu. Salah satu langkah yang tepat adalah dengan mendukung program imunisasi campak dan rubella,” paparnya.

Ditambahkannya, sasaran dari program imunisasi ini 75 persen di antaranya berusia 7-15 tahun. Sisanya berusia enam tahun ke bawah. Rencananya, Rabu (1/8) hari ini pencanangan imunisasi campak dan rubella ini dilakukan serentak di Tanjungpinang dan Batam.

Di Tanjungpinang akan dilakukan di Sekolah Pelita Nusantara. Adapun Pembina PKK Provinsi Kepri, Noorlizah Nurdin akan turut mengkampanyekan pentingnya imunisasi campak dan rubella.

”Sekali lagi, jangan pernah ada keraguan. Karena yakinlah, negara sangat menginginkan adanya kesejahteraan kepada rakyatnya. Termasuk dalam hal Indeks Pembangunan Kesehatan (IPK),” ujar Tjetjep.

Disinggung adanya permintaan penundaan oleh MUI Kepri, Tjetjep mengatakan pihaknya akan tetap jalan sebelum ada perintah dari Presiden atau Kemenkes. ”Karena itu adalah kebijakan nasional,” ujarnya. (jpg)

Update