Iklan

Konstelasi politik jelang pemilihan presiden dan wakil presiden (pilpres) tidak menentu. Semua masih sebatas menerka. Menebak-nebak.

Belum jelas siapa yang akan menjadi penantang Joko Widodo (Jokowi) tahun depan.

Apakah rematch dengan ketua Gerindra Prabowo Subianto. Atau malah muncul penantang lain. Tidak ada yang tahu. Semua masih mengira-ngira. Masih tebar isu sana-sini. Ibaratnya, masih abu-abu.

Tidak hanya soal penantang. Siapa pendamping Jokowi pun masih simpang-siur. Tidak ada yang tahu. Jokowi sepertinya masih memilih menyimpan rapat-rapat. Seolah dijadikan rahasia pribadi. Apalagi, semua partai politik (parpol) koalisi menyerahkan sepenuhnya kepada sang petahana.

Entahlah. Yang pasti, semuanya baru akan terjawab pada Jumat, 10 Agustus 2018 mendatang. Karena, saat itulah pendaftaran capres-cawapres ditutup. Menarik kita nanti bersama. Siapa pendamping Jokowi. Siapa pula pasangan yang akan menjadi penantang nantinya.

Pesta demokrasi di negeri ini memang sangat dinanti. Bahkan, negara-negara dari berbagai benua selalu memantau. Apalagi kalau bukan karena posisi Indonesia yang dianggap berpengaruh besar terhadap dunia internasional. Selain itu, kebijakan luar negeri Indonesia begitu ditunggu-tunggu.

Boleh dibilang, pekan ini menjadi sangat krusial. Tidak sedikit tokoh dan politisi yang sudah “mengampanyekan” dirinya ke masyarakat. Ada yang sampai memproklamirkan diri menjadi cawapres. Tapi tidak tahu siapa capres-nya. Bahkan, ada juga yang menebar baliho di mana-mana untuk menjadi capres, tapi tidak tahu siapa parpol pengusungnya. Hahahahaha

Itulah dinamika menjelang pesta demokrasi terakbar di Indonesia. Sangat asyik untuk diikuti.

Bagi saya, ngomongin politik itu memang rada-rada membosankan. Biasanya, kalau ada yang ngomongin politik di kafe kantor saya, saya pasti menyingkir.
Tapi kadang-kadang, sayang juga kalau dilewatkan. Tidak jarang malah bikin kita tertawa. Atau mesam-mesem sendiri. Karena ada hal-hal unik yang bikin kita terbahak-bahak. Kwakakakak

Fenomena pilpres memang menjadi “agenda” tahunan. Tepatnya lima tahun sekali. Biasanya, menjelang memilih presiden dan wakil presiden untuk periode lima tahun ke depan, banyak sekali bumbu-bumbunya. Ada yang bikin gerakan, bikin isu, atau apalah.
Malahan, ada yang minta ganti presiden dan tetap presiden.

Padahal, kunci dari ganti atau tetap adalah di bilik tempat pemungutan suara (TPS). Bukan dengan sebuah gerakan besar. Toh, ending-nya tetap ditentukan di TPS. Yang harus digarisbawahi, pemungutan dilakukan secara tertutup.

So, tidak menutup kemungkinan yang minta ganti presiden, justru mencoblos petahana. Atau sebaliknya. Yang berteriak minta tetap presiden, malah mencoblos penantangnya. Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Di politik, tak mengenal siapa kawan dan siapa lawan. Semua bisa berubah-ubah menyesuaikan situasi dan kondisinya.

Tapi itulah pilpres. Tanpa “dibumbu-bumbui”, ibarat sayur tanpa garap. Kurang gereget. Kurang enak untuk diikuti. Namun yang pasti, semua harus berpikir dewasa. Tidak boleh terprovokasi. Apalagi sampai terpecah belah.

Toh, gelaran pilpres untuk menentukan pemimpin Indonesia ke depan.
Jadi, meskipun beda pilihan, tapi tetap satu. Jangan sampai terpecah belah. Demi Indonesia yang lebih baik, maju, makmur, dan mampu bersaing di kancah dunia. (*)

 

 

Guntur Marchista Sunan
Direktur Batam Pos

Advertisement
loading...