Seorang warga membantu membersihkan rumah Syamsuri yang terendam air bercampur lumpur akibat banjir di Perumahan Tiban Koperasi, Rabu (25/7). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Tidak hanya pemukiman warga, banjir yang terjadi di Tiban Koperasi Sekupang Rabu (25/7) lalu juga menganggu aktivitas belajar mengajar pada sekolah di lokasi tersebut. Setidaknya ada dua sekolah yang terdampak yakni Sekolah Kasih Karunia dan Sekolah An Nahdah.

Kepala Sekolah Kasih Karunia, Heri Prajoko mengatakan, mengatakan pihaknya kini merasa was-was ketika hujan sekolahnya kembali terendam banjir. Terakhir sekolah tersebut turut terendam banjir yang masuk ke halaman sekolah setinggi lutut orang dewasa tersebut.

“Takutnya lumpur masuk lagi. Kami was-was kalau hujan datang,” kata Heri.

Maka dari itu, ia berharap kolam resapan air yang tertimbun sebagai akibat aktivitas pengembang di sekitar Tiban Koperasi dapat difungsikan kembali.

“Kembalikan danau (resapan air) itu, supaya air nanti terkontrol,” ucap dia.

Heri menyampaikan, sekolah yang ia pimpin terdiri tiga jenjang pendidikan, yakni TK, Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, dengan jumlah sekitar 138 anak. Rinciannya, TK dengan jmlah murid sebanyak delapan orang, SD 100 anak dan SMP sebanyak 30 anak.

“Setelah kejadian (Rabu 25 Juli 2018), kami liburkan mereka tiga hari. Saat kejadian ini, kami pulangkan cepat yang TK dan SD, SMP lanjut sekolahnya karena mereka di lantai dua,” terangnya.

Sejatinya, ungkap Heri, sekolah tersebut kebanjiran bukan sekali itu saja. Pasca aktivitas pembanguan sekitar Tiban Koperasi, sudah tiga kali sekolah ini kemasukan banjir bercampur lumpur.

“Pertama kita tidak liburkan (anak-anak sekolah), yang kedua kami liburkan sehari. Tiga kali lumpur masuk dibersihkan oleh perusahaan (salah satu pengembang),” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komite Penanganan Banjir Tiban Koperasi dan sekitarnya, Anto Sujanto mengatakan tidak hanya sekolah tersebut sekolah lain yakni Sekolah An Nahdah.

Tetap pada komitmen awal, menurut dia, ada tiga tuntutan warga yakni hentikan segala aktivitas pengembang yang telah melakukan penimbunan kolam, kembalikan fungsi kolam retensi, serta mencabut segala izin yang berhubungan dengan aktivitas di atas lahan tersebut.

“Sekarang saja hanya timbun airnya parah, bagaimana nanti ada bangunan juga aspal. Air bisa langsung turun ke rumah warga,” keluhnnya. (iza)