batampos.co.id – 25 hari sudah berlalu, sejak si Jago merah melahap habis Ruli Beverly, Batamkota.┬áBagaimana nasib mereka kini?!

Beberapa orang perempuan terlihat sedang mencuci baju di depan Ruko Central Alladin, Batamkota. Di belakangnya ada beberapa orang perempuan menunggu giliran untuk mencuci.

Kegiatan ini menjadi hal rutin dilakukan di Ruko Central Alladin, Batamkota. Ruko yang menjadi tempat tinggal sementara 40 Kepala Keluarga (KK) korban kebakaran Ruli Baverly, 14 Juli lalu.

“Ada apa mas,” kata seorang perempuan menyapa Batam Pos ketika mendekati Ruko tersebut.

Perempuan yang disapa Mbak Tin itu tersenyum, begitu wartawan koran ini menyampaikan maksud kedatangan ke tempat itu. Sembari mencuci pakaian baju suami dan anaknya, Mbak Tin bercerita tentang kondisinya saat ini.

“Kalau mau ngeluh yah Mas, susah ceritanya. Karena banyak. Terpaksa dibawa happy (bahagia) saja,” tuturnya sembari tersenyum.

Ia mengatakan sudah 17 hari tinggal di Ruko Central Alladin.

Sebelum tinggal di sini, dirinya bersama 595 orang lainnya tinggal di Gedung Bersama Pemko Batam. Selang seminggu setelah kejadian, pemerintah memindahkan mereka ke ruko itu.

Namun tidak semuanya pindah ke Ruko Central Alladin. Ada beberapa dari pengungsi memilih tinggal di Kantor PDIP Batamkota. Lalu ada juga mengambil kos di Kampung Belian.

Sebagian kecil lainnya, kata Tin menempati rumah yang sudah dicicil selama beberapa tahun belakangan.

“Kan ada yang sudah punya rumah, seperti di daerah Piayu sana. Kalau saya tak kuat mas. Jangan beli rumah, sewa kos saja tidak bisa,” tuturnya.

Suka, duka, manis dan pahit banyak dirasakan Tin selama tinggal di ruko tersebut. Ia mengatakan untuk mencuci baju saja, dirinya harus antre satu hingga dua jam, harus menunggu tetangganya selesai mencuci.

“Air disini kadang hidup, kadang mati. Jadi pas air hidup, terpaksa rebutan siapa yang dulu mencuci dan mandi,” ucapnya.

Selain persoalan mencuci, Tin menuturkan penyebaran penyakit juga cukup cepat. Karena satu ruko bisa ditempati oleh 8 hingga 10 Kepala Keluarga.

“Sehingga bila tetangga saya sakit, akan merembet ke yang lain. Ini satu ruko tempat saya sakit semua, yang terakhir kena itu suami saya. Makanya sekarang ia tidak bekerja, karena sakit,” ujarnya.

Walaupun lebih banyak duka, Tin menuturkan sesama korban kebakaran yang menempati Ruko Central Alladin, saling menghibur diri.

“Jadi tak semuanya sedih, kami bisa saling bantu. Apabila ada yang sedih, kami hibur,” ungkapnya.

Tin mempersilahkan Batam Pos melihat-lihat kondisi tempat tinggalnya dan tetanggnya.

“Mari ke dalam Mas, lihat ini kaveling saja, ini kavelingnya mbak Sari, ini Kaveling mbak Rozlina, ini bujang yang punya kaveling,” katanya sembari berseloroh.

Inilah lokasi kebakaran di Ruli Beverly, Batamcentre habis dilalap sijago merah sekitar pukul 03.00 WIB, Sabtu (14/7). Kejadian ini tidak ada korban jiwa. F Dalil harahap/Batam Pos

Candaan Tin ini disambut gelak tawa penghuni lainnya. Istilah kaveling ini, merujuk dengan janji yang diucapkan pemerintah kepada korban kebakaran.

Sebenarnya kaveling di ruko tersebut hanyalah luas tempat tidur penghuni Ruko itu.

“Kaveling” milik Tin dengan kepala keluarga lainnya hanya dibatasi oleh kardus-kardus yang disusun cukup tinggi.

“Nahh mas ini bagian lahan yang tak boleh dibangun. Ini jalan, untuk penghuni di lantai dua. Kalau dibangun, mereka tidak bisa ke atas,” katanya.

Lagi-lagi guyonan Tin, mengocok perut Mbak Sari, Mbak Rozlina dan anak-anaknya.

Bagi Tin, Sari dan Rozlina, mereka menuturkan hanya membutuhkan realisasi dari janji yang diucapkan pemerintah.

Saat ditanya, apabila janji tersebut tidak pernah terwujud, kemana mereka akan pergi?

Ketiganya saling menggelengkan kepala. Ruangan yang sebelumnya ceria, kembali suram dan muram. Sari,34 menuturkan mereka tidak memiliki pilihan selain kembali ke Ruli Beverly.

Ia mengatakan hanya diberikan tenggat waktu selama 3 bulan untuk dapat menempati ruko tersebut. Apabila waktu itu habis, mereka diminta untuk pergi.

“Paling kami kembali ke tempat asal kami. Disanalah saya dan suami akan kembali memulai hidup,” tuturnya.

Jawaban Sari, diamini oleh Tin dan Rozlina.

“Kami tidak punya uang membeli tanah (kaveling), atau menyewa rumah. Paling hanya bisa mencari triplek-triplek bekas dan bangun bedeng lagi. Kami ini wong cilik mas, makan aja udah bersyukur,” ujar Rozlina.

Sebagian besar orang di Ruko Central Alladin ini bekerja sebagai buruh harian lepas.

“Kalau perempuannya, kebanyakan ibu rumah tangga,” ungkap Tin.

Untuk memasak, satu ruko itu biasanya kata Tin memiliki 2 hingga tiga kompor. Dan bahan-bahan makanan kebanyakan berasal dari bantuan dari para donatur.

“Ternyata masih ada orang-orang baik yang mau membantu kami,” tuturnya.

Tin, Rozlina dan Sari memiliki harapan, agar janji pemerintah diberikan sebuah kaveling dapat terwujud.

“Kami bertahan disini, menunggu janji tersebut. Berikanlah kejelasan ada atau tidaknya. Kalau tidak ada, biar kami dapat berpikir juga,” ungkap Tin. (Fiska Juanda,)