ilustrasi orangutan

batampos.co.id – Meri tak sembuh, ia mati meski telah mendapat upaya medis.

Inilah kabar duka dari Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) atau Kebun Binatang Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar). Salah satu penghuninya, seekor orangutan dilaporkan mati, Jumat (10/8) sore lalu. Nyawa Meri tidak terselamatkan meski telah mendapatkan penyelamatan medis.

Dari informasi, sebelum mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 16.37 WIB, orang utan berkelamin betina itu sempat mendapatkan bantuan pernapasan tim medis TMSBK. Namun, karena kondisinya kian lemah, Meri pun mati sore harinya.

Kepala Bidang TMSBK Disparpora Bukittinggi Ikbal membenarkan adanya kematian orang utan. Pagi sebelum Meri mati, terang Ikbal, pihaknya sempat memberikan makanan berupa buah-buahan. Namun, yang dimakan orang utan itu hanya sari buahnya.

“Ya, sempat diinfus dan dapat bantuan pernapasan, tapi nyawanya tidak tertolong,” kata Ikbal, Minggu (12/8).

Terkait penyebab kematian Meri, jelas Ikbal, dari laporan tim medis, orang utan ini diduga kuat mati akibat menderita penyakit dalam. Hal tersebut sudah dialaminya setahun terakhir. Kondisi kesehatan Meri terus menurun dan nafsu makannya berkurang.

“Tim medis sudah berjuang semampunya sejak Meri drop tiga hari sebelum kritis. Mulai dari support vitamin dan obat-obatan. Kini, bangkai Meri telah dikubur di kawasan TMSBK,” katanya.

Kepergian Meri cukup menyedihkan. Pasalnya, orang utan yang sudah berusia 32 tahun itu sudah tinggal 22 tahun lamanya berada di Kebun Binatang Bukittinggi, yakni sejak tahun 1996 silam. Meri sendiri adalah spesies orang utan Pulau Sumatera yang dibawa dari Jogjakarta ke Bukittinggi.

“Kini, TMSBK Bukittinggi hanya punya satu orang utan yang tersisa. Namanya Pampam berjenis kelamin jantan dan sudah berumur 48 tahun,” tutup Ikbal.

(ce1/rcc/JPC)

Advertisement
loading...