batampos.co.id – Sekretaris DPC Partai Gerindra Kota Batam Wawan Koswara mengatakan, kasus yang dialami Dorkas Lominori adalah urusan pribadi. Tidak ada hubungan dengan Partai Gerindra.

Iklan

“Kita sangat menghormati proses hukum. Kalau umpamanya buk Dorkas bersalah harus bertanggung jawab, karena hal tersebut tak ada sangkut pautnya dengan partai,” kata Wawan, Selasa (14/8).

Wawan menegaskan, jika memang Dorkas ditetapkan pihak kepolisian bersalah. Mohon maaf partai Gerindra akan bersikap tegas karena tidak untuk orang-orang yang salah. Ia juga mengakui, pada dasarnya partai menerima Dorkas sebagai caleg Gerindra karena memang polisi menyatakan bahwa beliau tidak memiliki masalah hukum.

“Di SKCK dari polisi buk Dorkas gak ada masalah. Makanya kita terima. Tapi kalau memang ada masalah hukum itu wajib dipertanggungjawabkan,” tegas Wawan lagi.

Hanya saja, partai perlu mempertanyakan sejauh mana proses hukum ini, mengingat Dorkas sendiri sudah bergabung di satu Partai Gerindra. “Kalau tidak salah, tiba-tiba masuk disitu, kita juga wajib memberikan hak pembelaan hak warga negara. Makanya kita selalu kordinasi,” kata dia.

Dari penuturan Dorkas diakui Wawan, ini merupakan masalah pribadi dan tak ada hubungan dengan partai. Ia juga tidak terlalu tahu hubungan apa dengan yang bersangkutan. Apakah ada perjanjian namun di tengah jalan berubah arah, sehingga harus dipermasalahkan ke ranah hukum.

“Buk dorkas bilang ini perdata utang piutang kenapa saya masuk. Yang pasti karena ini mau pemilu jangan ada usaha menjatuhkan. Tapi kalau memang bersalah, mohon maaf kita gak ada tempat lagi. Bukan satu, dua orang saja. Semua orang punya kesempatan yang sama di Gerindra,” tegas Wawan.

“Kami minta mohon maaf kepada wartawan bersabar dulu lah karena ini tidak ada yang terlalu istimewa, cuman mungkin karena dia calon dari kami,” jelasnya.

ilustrasi

Sebelumnya, Jajaran Sat Reskrim Polresta Barelang menetapkan status tersangka kasus penipuan terhadap Dorkas Lominori. Ia ditetapkan sebagai tersangka atas laporan dari Hartono, 5 November 2015 lalu. Kasat Reskrim Polresta Barelang AKP Andri Kurniawan mengatakan, dari laporan itu pihaknya telah memanggil Dorkas beberapa kali untuk diperiksa sebagai saksi. Namun, Dorkas enggan memenuhi panggilan penyidik hingga dilakukan penjemputan paksa.

“Beberapa hari yang lalu (Kamis, red) sudah kita lakukan penangkapan terhadap satu orang tersangka. Dimana tersangka tersangkut dengan masalah penipuan tanah,” kata Andri, kemarin.

Dijelaskan Andri, dalam laporannya, Hartono mengaku mengalami kerugian sebesar Rp 250 juta. Uang itu diserahkan kepada Dorkas untuk pembelian lahan di kawasan Nongsa seluas 2.000 meter persegi. Dimana, menurut Dorkas lahan tersebut merupakan lahan hibah yang didapat suaminya.

Usai diamankan, Kamis (9/8) lalu sebagai saksi, akhirnya penyidik menetapkan status tersangka terhadap Dorkas. Penetapan tersangka ini setelah dilakukan pemeriksaan 1×24 jam. Namun, Dorkas menolak untuk menandatangani berkas penetapan tersangkanya hingga saat ini.

Meski belum menandatangani berkas penetapan tersangka, Dorkas saat ini telah ditahan di rutan Polresta Barelang untuk dimintai keterangannya dengan status sebagai tersangka. (rng)