Penjual menyiapkan daging ayam untuk pembeli di Pasar Baru Tanjungpinang, belum lama ini. F. Yusnadi/batampos.co.id

batampos.co.id – Kenaikan harga daging ayam ras di Tanjungpinang beberapa waktu terakhir mulai berakhir. Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Tanjungpinang memprediksi pada akhir bulan ini harga daging ayam ras sudah kembali stabil.

Pada rapat terakhir pengendalian inflasi, Rabu (15/8) kemarin, stabilisasi harga da-ging ayam ras mendapat atensi cukup tinggi. Ketua TPID Tanjungpinang Riono menyebutkan, daging ayam ras menjadi salah satu penyumbang inflasi terbesar setelah telur dan kedelai.

”Jika inflasi tinggi, beban masyarakat yang meningkat, namun jika terjadi deflasi, juga akan berpengaruh kepada sistem produksi yang berkurang, pengusaha yang dirugikan. Maka dari itu, inflasi harus stabil dan terkendali agar tidak ada yang dirugikan,” kata Riono.

Sejak Juli lalu, Riono mengaku menyadari permintaan suplai daging ayam ras di Tanjungpinang meningkat. Hal ini menyebabkan ketersediaan barang di pasar menjadi lekas berkurang dan di sisi lain produktivitas peternak masih dalam skala biasa.

”Insya Allah, akhir bulan ini sudah kembali stabil seiring dengan permintaan masyarakat yang juga tidak setinggi bulan lalu yang bareng juga dengan Lebaran,” ungkapnya.

Asong, peternak ayam sekaligus pemasok pakan dan obat-obatan ternak ayam di Tanjungpinang, menyebutkan harga ayam ras pedaging dari peternak masih berkisar Rp 26 ribu hingga Rp 27 ribu per kilogram (kg).

Asong menjelaskan, kenaikan harga ayam ras tersebut disebabkan cuaca yang kurang baik. Di samping itu, bibit kurang baik pula yang masuk ke Tanjungpinang. ”Cuaca juga cukup bersahabat sehingga proses pertumbuhan ayam tidak sama seperti sebelumnya,” ujarnya. (aya)