Rian Febrianto nama lengkapnya. Usianya baru 3 tahun 5 bulan 22 hari. Ia merupakan anak satu-satunya dari Yohanes Rikar, 30, dan Irma Sari Lubis, 23. Pasangan suami istri ini tak pernah menyangka anaknya yang dulu periang, di usianya yang masih balita, kini harus menanggung penyakit parah. Usus terlipat. Istilah medisnya Intususepsi.

JARUM jam baru menunjukkan pukul 10.31 WIB. Aktivitas warga di Kampung Nanas, Batam Centre terlihat sepi, Rabu (15/8). Hanya sesekali kendaraan bermotor lewat, meninggalkan sebaran abu yang membuat hidung terganggu. Jalan di kawasan tersebut memang 100 persen masih jalan tanah.

Irma Sari tampak mengipas menggunakan map merah muda ke arah anaknya, Rian yang terbaring lemah di kasur tipis berlapiskan seprei usang bermotif bendera Amerika Serikat di ruang tamu rumahnya. Sudah 1,5 tahun ia dan suaminya tinggal perumahan liar (Ruli) Kampung Nanas ini. Sebelumnya, mereka tinggal di Baloi Kebun. Sesekali, ia melirik tak tertarik ke televisi layar datar di sampingnya. Tak jarang pula ia mengangan sambil terus mengipaskan map itu.

Rian tak terlihat keringatan atau pun gerah. Hanya saja, kipasan itu, sang ibu lakukan untuk menghalau rasa sakit nan mencekit di luka bekas operasi bagian perutnya. “Dia sering menangis. Katanya perut bekas operasinya ini sakit kaya ditusuk-tusuk. Itu membuatnya nggak nyaman,” ujar Irma dengan suara lemah.

Ketika koran ini berkunjung, kondisi Rian memang sangat memprihatinkan. Dia hanya terbaring lemah di ranjang. Tubuhnya seperti tinggal tulang berbalut kulit. Sangat kurus. Tatapan matanya memelas lemah menahan sakit. Yang paling membuat emosional, kondisi perutnya yang berbalut perban dan di sisi perut kanan bawahnya, ada lubang yang terhubung ke plastik steril yang berfungsi sebagai pembuangan. Di dalamnya, masih terlihat tiga cm usus yang masih keluar, menyatu dengan kotorannya.

“Belum bisa kotoran dari anus. Masih dari usus yang dikeluarin ini. Ini mau dibersihkan dulu. Rian masih butuh operasi kedua untuk menyambung usus yang ke saluran pembuangannya. Tapi nantilah tunggu uang terkumpul dan kondisinya stabil,” ujar Irma.

Sebulan lalu, Rian masih ceria, dan sehat. Ia anak periang yang kerap bermain dengan para anak tetangga di lingkungan rumah kontrakan orang tuanya di Ruli Kampung Nanas, Nomor 98, RT 03/RW 09, Batam Center. Hingga tiba malam hari, tiba-tiba ia mengalami gangguan pencernaan. Karena dianggap diare biasa, orangtua-nya pun hanya mengobati di rumah saja.

Namun, bukannya malah sembuh, keesokan paginya tangis Rian makin menjadi. Dia mengeluhkan sakit perut dan mulai demam. Sang ayah, Rikar, beserta Irma langsung membawanya ke Rumah Sakit Elisabeth di Batam Center. “Tanpa pikir panjang lagi. Niatnya hanya untuk berobat biasa, nyatanya oleh rumah sakit, diminta harus segera opname karena katanya kondisinya sudah parah. Usus terlipat dan harus segera dioperasi,” kenang Rikar.

Pria kelahiran Flores, Nusa Tenggara Timur yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan toko bangunan di Mitra Raya ini mendadak pusing memikirkan biaya. “Duit dari mana? Cuma saya sendiri yang kerja. Istri di rumah jaga anak dan sebagai ibu rumah tangga,” ujarnya.

Di tengah kekalutannya, ia lalu menghubungi Ketua RT 03, Tohom Sinaga. Atas jaminan ketua RT ke rumah sakit, Rian pun menjalani tindakan operasi dan perawatan. “Dia datang menangis ke rumah saya. Hati siapa yang tak tahan melihat anaknya sakit? Akhirnya saya memberanikan diri menghubungi rumah sakit, menjamini anaknya untuk segera dioperasi,” ujar Tohom.

Masalah selesai? Tidak. Petaka lainnya muncul lagi. Beberapa minggu usai menjalani operasi dan perawatan, biaya pengobatan Rian membengkak hingga lebih dari Rp 39 juta. Rumah sakit menahan kepulangan Rian, dan tidak melanjutkan pengobatan sebelum biaya dilunasi.

Bahkan, Tohom yang menjamini balita Rian di rumah sakit diminta untuk bertanggung jawab mengenai pelunasan dana tersebut. Atas inisiatif Tohom Sinaga sebagai ketua RT, ia lantas meminta sumbangan kepada warga melalui take and list. “Saya minta take and list dari warga di sini. Terkumpullah Rp 2,7 juta. Sangat jauh dari biaya pengobatan,” ungkapnya sambil menahan haru.

Saat hampir putus harapan, mengingat kedua orangtua Rian bukan keluarga berada, ia pun meminta pertolongan Dinas Provinsi Kepri dan juga anggota DPD RI, Djasarmen Purba. Oleh mereka, biaya pun terlunaskan dan Rian diperbolehkan keluar tapi masih dalam kondisi belum sepenuhnya pulih.

Rian kini masih dalam kondisi butuh pengawasan dan perawatan. Luka bekas operasinya belum sepenuhnya pulih. Dia membutuhkan paling tidak sekali lagi operasi untuk memasukkan kembali usus yang masih keluar dan menyambungnya ke saluran pembuangan. Dia masih butuh perhatian dalam pemenuhan gizi ekstra mengingat tabung nasogastris masih menempel dalam perutnya.

Apalagi, ususnya sepanjang setengah ukuran jari telunjuk dewasa harus dibuang karena mengalami nekrosis atau kematian jaringan. Itu dilakukan supaya mencegah infeksi menyebar ke usus dan ke seluruh tubuhnya, dan membahayakan nyawanya.

Berangkat dari kepedulian itu, anggota Forum Batak Batam (FBB) langsung mengumpulkan sumbangan. Forum dalam grup WhatsApp yang baru terbentuk di 2017 ini, tidak sampai 24 jam setelah ketua RT 03 Kampung Nanas meminta sumbangan, terkumpul Rp 7,7 juta. Oleh admin yang juga pengusaha Batam, Wirya Putra Silalahi dan beberapa anggota langsung bergerak ke rumah orangtua Rian.

Rumah kontrakan Rian ini juga terbilang jauh dari rumah layak huni. Ukuran ruang tamu hanya sekitar 2,2 meter persegi. Meskipun sudah berlantaikan ubin, namun dinding rumahnya hanya bersekat triplek yang dicat biru seadanya. Pencahayaan dan sirkulasi udara kurang. “Biaya kontrakan Rp 500 ribu per bulan,” ujar Irma.

Wirya Putra Silalahi menyebutkan, bantuan yang mereka berikan hanya sebatas membantu meringankan beban pengobatan Rian tersebut. “Ini sudah kegiatan sosial ketiga yang telah kami lakukan sejak forum FBB terbentuk di WhatsApp. Puji Tuhan, kebersamaan grup ini tak sebatas bincang melalui chatting, tapi juga berguna, bekerjasama meringankan penderitaan orang lain. Khusus Rian semoga cepat sembuh dan ceria kembali,” ujar Rian.

Bacaleg Kepri dari Partai Nasdem ini menyebutkan, meski pun nama grupnya FBB, namun uluran tangan yang mereka berikan selama ini tidak berbatas untuk kelompok tertentu saja. “Sama seperti anggota yang ragam profesi, kami membantu juga tanpa melihat suku, agama, ras apa pun. Siapa pun mereka, kalau memang layak dibantu, pasti kami bantu seadanya. Dan terimakasih kepada Ketua RT yang begitu perhatiannya kepada warganya, sehingga kita tahu bahwa ada warga, keluarga Rian yang perlu ditolong,” jelas Wirya.

Sementara itu, dokter spesialis dalam Soritua Sarumpaet menyebutkan, intususepsi memang kerap terjadi kepada bayi atau balita. Umumnya kondisinya berupa benjolan non kanker. Terbentuknya benjolan karena usus yang terlipat dan menekan masuk ke bagian usus lainnya.

“Itu biasanya terjadi kalau bayi terlalu cepat dikasih makanan padat, sementara kondisi ususnya belum siap menerima makanan padat. Akibatnya, pergerakannya di usus melambat, terjadi pembusukan. Pencernaan otomatis terganggu,” jelas Soritua.

Penyebab lainnya dari penyakit ini adalah balita kekurangan asupan makanan bergizi sehingga mengakibatkan usus menjadi lemah, dan rentan terkena bakteri atau virus. Intususepsi, kalau gejala awalnya terdeteksi, sebenarnya tidak berbahaya. Hanya saja, kalau sudah terjadi infeksi, bisa menjadi sangat parah apabila tidak segera ditangani.

“Kalau sudah mengalami kematian jaringan, usus dipotong, ya itu butuh pengobatan lebih lagi. Harus dua kali operasi. Pemotongan, lalu penyambungan,” ujar Soritua.

Menurutnya, kalau penanganannya tepat, semakin bertambah usia anak, semakin berkurang risikonya untuk kambuh.

“Iya ini memang oleh dokter Elisabeth bilang harus ada operasi penyambungan lagi. Sebagian ususnya yang dipotong masih disimpan di rumah sakit,” jelas Rikar.

Apakah keluarga ini menggunakan BPJS? Rikar menyebutkan sampai saat ini masih belum terdaftar di BPJS karena terkendala administrasi kependudukan.

“Sedang kami bantu urus untuk mengurus KTP dan KK dengan status suami-istri di Kantor Kelurahan Teluk Tering. Saya sudah sampaikan ke lurah Faisal, bahwa ini pengurusannya darurat menyangkut hidup anak. Tapi sudah dua minggu kami masih menunggu belum ada tanda-tanda selesai,” ujar Ketua RT, Tohom.

Ia pun mengungkapkan, dari 1.800 KK warganya di Kampung Nanas, sebagian besar warganya belum mempunyai akta kependudukan.

“Semoga pemerintah memperhatikan ini. Melalui ini, saya juga ingin mempersaksikan saya sempat bingung sebagai yang bertanggung jawab menjamini anak kita Rian ini. Sempat saya mentok. Tuhan tolong saya, doaku. Hingga akhirnya saya diberikan jalan memberanikan diri meminta bantuan kepada FFB. Semoga Tuhan membalas kebaikan bapak-bapak. Untuk keluarga saya buat seperti ini, tapi melihat kondisi keluarga ini, apalagi Rian ini. Semoga Tuhan menyembuhkannya dan memberkati forum ini terus menyebarkan kebaikan,” ungkap Tohom.

Rikar dan Irma pun memohon doa kepada semua pihak demi kesembuhan anak mereka satu-satunya itu. “Insyaallah, supaya ia riang dan sehat kembali,” ungkapnya. (CHAHAYA SIMANJUNTAK, Batam)

Advertisement
loading...