Erdogan berbincang dengan Trump

batampos.co.id – Ancaman Recep Tayyip Erdogan bukan sekedar isapan jempol. Presiden Turki itu merealisasikan janjinya untuk membalas sanksi AS. Rabu (15/8), Turki resmi menaikkan tarif impor produk-produk yang berasal dari AS. Bukan hanya sekedar memboikot barang-barang elektronik seperti janjinya sehari sebelumnya.

Iklan

Tarif impor mobil dari sebelumnya 35 persen kini naik menjadi 120 persen. Alkohol naik lebih dari tiga kali lipat. Yaitu dari 40 persen menjadi 140 persen. Pun demikian dengan beras yang dulu hanya 20 persen kini sampai 50 persen. Produk-produk kecantikan juga terkena imbasnya. Kenaikannya dua kali lipat. Yaitu dari 30 persen kini menjadi 60 persen. Nilai kenaikan tarif itu mencapai USD 533 juta atau setara dengan Rp 7,8 triliun. Beberapa jenis kertas dan batu bara juga kena imbas meski tak besar.

”Pajaknya dinaikkan sebagai respon atas serangan yang disengaja dari pemerintah AS ke ekonomi kami,” cuit Wapres Turki Fuat Oktay di akun Twitternya.

Berbagai langkah yang diambil Turki terbukti membantu. Termasuk di antaranya optimispe pasar terhadap hubungan Turki dan Uni Eropa (UE). Itu karena pengadilan Turki telah memutuskan membebaskan dua tentara Yunani Letnan Aggelos Mitretodis dan Dimitros Kouklatzis. Mereka dipenjara lima bulan lalu dengan tudingan sebagai mata-mata. Kemarin, nilai turkar lira terhadap dollar AS naik 6 persen.

”Turki tidak senang dengan perang ekonomi, tapi kami tidak bisa diam saja jika ada yang menyerang kami,” ujar Juru Bicara Kepresidenan Turki Ibrahim Kalin seperti dilansir CNN.

Beberapa pengamat menilai bahwa langkah yang diambil Turki ibarat menyiramkan minyak ke api. Setelah ini situasi akan kian memanas. Terlebih di hari yang sama pengadilan Izmir menolak banding yang diajukan oleh pendeta AS Andrew Brunson. Padahal sehari sebelumnya AS sudah melontarkan ancaman. Yaitu bahwa sanksi yang lebih besar akan dijatuhkan jika Brunson tak dibebaskan.

”Para investor bingung dengan geopolitik tarik ulur antara AS dan Turki,” ujar Artjom Hatsaturjants, analis penelitian di Accendo Markets.

Sementara itu di Inggris, beberapa tempat penukaran uang sempat kehabisan lira. Salah satunya adalah International Currency Exchange (ICE). Permintaan lira di ICE naik 24 ribu persen dibanding bulan lalu. Penduduk yang menginginkan lira bisa menukarkan di Bandara Luton, London dan bandara Doncaster.

Naiknya permintaan itu dikarenakan kini nilai tukar lira rendah. Satu poundsterling kini senilai 7,7 lira atau Rp 18 ribuan. Sepertinya penduduk Inggris ingin menghabiskan sisa liburnya di Turki. Dengan nilai tukar lira yang rendah itu, otomatis liburan mereka bakal jauh lebih murah.

Banyak negara terdampak perang ekonomi Turki-AS. Para investor menarik uangnya dari negara-negara yang perekonomiannya lemah. Mereka takut negara itu akan mengikuti jejak Turki. Dua negara yang terdampak adalah India dan Argentina. (sha/JPG)