Kiatwansyah semasa hidup.

batampos.co.id – Pengusaha dan pegiat pendidikan Batam, Kiatwansyah, yang hilang saat menyelam di perairan Pulau Mansinam, Papua, pada Jumat (10/8) lalu akhirnya ditemukan, Kamis (16/8). Namun ia ditemukan dalam kondisi meninggal.

Iklan

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Manokwari, George Leo Mercy Randang, mengatakan korban ditemukan sekitar 1 kilometer (Km) dari lokasi penyelaman. Jasad korban pertama kali ditemukan oleh nelayan yang melintas di lokasi tersebut. Setelah melihat korban mengapung, nelayan itu pun bergegas menyampaikan informasi kepada tim SAR.

“Tadi sekitar pukul 18.30 kami menerima laporan. Saat itu juga tim yang baru sedang dalam perjalanan menuju kantor, kembali ke lokasi untuk mengevakuasi korban,” kata George, Kamis (16/8).

Saat ini, lanjutnya, korban sudah berada di kamar jenazah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Manokwari untuk proses autopsi. Sebelum korban ditemukan, pagi kemarin Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, Satpol Air Polres Manokwari, Komunitas Molo, Komunitas Selam Unipa, Palang Merah Indonesia (PMI) serta tim dari Kapal Kurabesi sudah melakukan tabur bunga di lokasi. Hal itu untuk menandai berakhirnya proses pencarian yang sudah dimulai sejak Jumat pekan lalu.

“Sepulang dari kegiatan itu kami dapat kabar, nelayan melihat sosok jasad manusia mengapung di lokasi yang selama ini kita lakukan pencarian. Tanpa pikir panjang, kami langsung kembali ke lokasi yang ditunjuk nelayan tadi,” kata dia lagi.

Seperti diketahui, Kiatwansyah merupakan satu dari 11 wisatawan yang ikut dalam perjalanan kapal Kurabesi Explorer ke perairan Pulau Mansinam Manokwari, Papua Barat, pada Jumat (10/8) lalu. Korban melakukan penyelaman dan terpisah dari rombongan hingga akhirnya dinyatakan hilang.

Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 14.00 waktu setempat. Pada kegiatan itu korban bersama-sama dengan sembilan penyelam lain termasuk guide atau pemandu wisata.

Ia menjelaskan, awalnya ada sekitar 10 orang melakukan penyelaman di kedalaman 10 meter. Namun sat itu korban mengalami masalah sehingga dibawa kembali ke darat oleh pemandu selam.

Tak lama setelah itu, korban kembali melakukan penyelaman menyusul penyelam lain, namun ia terpisah dari rekan-rekanya. Begitu para penyelam naik ke darat, lanjut George, korban tak kembali. Pencarian pun dilakukan guide bersama penyelam lain.

“Mereka melakukan pencarian selama kurang lebih satu jam yakni dari jam 2 sampai jam 3 sore, sebelum akhirnya melaporkan kejadian ini ke kami,” sebutnya.

Setelah mendapat laporan itu, lanjut George, ia pun bergegas mengerahkan personel dan peralatan lengkap ke lokasi kejadian.

“Personel kami sudah berusah hingga Jumat (10/8) petang, namun belum ada tanda-tanda. Pencarian kami hentikan sementara dan akan kami lanjutkan besok paginya,” sebutnya lagi.

Selain mencari di dasar laut, pencarian yang dibantu warga setempat ini juga menyusuri pantai di sekitar lokasi. Hingga menjelang malam pencarian nihil dan dihentikan untuk dilanjutkan Sabtu (11/8).

Kamis (16/8) pagi, Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, Satpol Air Polres Manokwari, Komunitas Molo, Komunitas Selam Unipa, Palang Merah Indonesia (PMI) serta tim dari Kapal Kurabesi melakukan tabur bunga di lokasi hilangnya korban. Namun baru saja acara tabur bunga selesai, Tim SAR mendapat laporan dari nelayan bahwa jasad Kiatwansyah ditemukan. Saat ditemukan, seluruh peralatan selam yang digunakan masih menempel di tubuh korban.

Kiatwansyah merupakan pemilik Yayasan GICI Business School Batam. Yayasan ini membawahi sejumlah sekolah mulai dari tingkat TK hingga perguruan tinggi. Di antaranya Sekolah Permata Harapan dan kampus GICI Business School Batam. (ska)