Sejumlah anak-didik Pusat Layan Autis (PLA) Batam didampingi orang tuanya berusaha membawa air saat mengikuti lomba memindahkan air kedalam botol dalam rangka HUT Kemerdekaan RI di PLA Batam, Kamis (16/8). Anak-anak PLA juga mebisa merasakan HUT Kemerdekaan RI dengan mengikuti berbagai lomba di sekolahnya. F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Anak-anak berkebutuhan khusus biasanya hanya jadi penonton saat perayaan Dirgahayu Republik Indonesia. Kamis (16/8) lalu di Pusat Layanan Autis (PLA) Batam, mereka menjadi peserta utama. Tidak ada ejekan maupun tawa yang merendahkan kondisi mereka. Hanya ada tawa bahagia, tawa keseruan.

Iklan

Indonesia telah merdeka 73 tahun. Namun ada segelintir orang yang tidak dapat merasakan kesenangan akan perayaan kemerdekaan. Anak-anak berkebutuhan khusus, salah satunya.

Mereka tidak mendapatkan perlakuan yang sama dengan anak normal lainnya diberbagai lini dan kegiatan. Salah satunya perlombaan 17 Agustus-an. Hal inilah yang mendasari PLA Batam membuat acara perlombaan untuk anak-anak berkebutuhan khusus tersebut.

“Mereka (anak-anak berkebutuhan khusus) juga merdeka,” kata Kepala PLA Batam, Riniatun, Kamis (16/8).

Merdeka yang dimaksud Riniatun yakni anak-anak tersebut berhak mencicipi apa yang dirasakan anak-anak normal lainnya. Karena, anak-anak berkebutuhan khusus ini memiliki hak yang sama dengan anak normal.

“Kadang mereka ini diikutkan perlombaan (untuk anak normal), tapi disendirikan. Atau malah diketawain, miriskan,” ucapnya.

Hal-hal ini masih dirasakan oleh anak-anak berkebutuhan khusus, maupun orangtuanya. Rini menuturkan sebenarnya yang dibutuhkan mereka hanyalah perhatian, serta bersosialisasi dan interaksi dengan lingkungan sekitarnya.

“Itu masih belum didapat anak-anak berkebutuhan khusus ini,” ungkapnya.

Lomba-lomba yang diadakan di PLA BAtam mulai dari fashion show, memindahkan air ke dalam botol, memindahkan bola ke dalam keranjang, makan kerupuk dan jalan dengan menggunakan bakiak.Tentunya, lomba ini terkesan sangat gampang dan biasa bagi anak normal. Tapi tidak bagi anak berkebutuhan khusus.

“Cukup sulit bagi mereka,” ucap Riniatun.

Karena fokus, kesabaran serta konsentrasi anak-anak ini kadang terpecah oleh sesuatu yang lain. Salah satunya, lomba memasukan air ke dalam botol. Anak normal, saat lomba dimulai dengan sigap memasukan air ke dalam botol. Tanpa perlu dituntun orangtuanya.

Namun, anak-anak berkebutuhan khusus ini. Air yang didalam ember, bukannya dimasukan ke dalam botol. Mereka malah saling ciprat-cipratan air. Akhirnya orangtua, menuntun mereka memasukan air ke dalam botol. Harus sabar pastinya. Dan butuh kesabaran lebih membimbing anak-anak ini.

“Lomba ini melatih fokus, kesabaran dan konsentrasi. Tidak sekedar lomba, tapi juga pelatihan,” ucapnya.

Anak-anak berkebutuhan khusus ini, kata Riniatun cukup sulit untuk fokus, sabar dan konsentrasi. Lomba ini, mengaplikasikan dari pelajaran yang mereka terima selama belajar di kelas PLA Batam.

Tidak hanya perlombaan saja. Anak-anak autis juga mengikuti gerak jalan santai dengan menggunakan pakaian adat.

“Biasanya anak-anak kami hanya melihat, teman-temannya yang normalnya menjalani ini. Tapi kali ini, kami ingin mereka merasakannya. Walaupun hanya jalan seputaran bangunan PLA Batam,” tuturnya.

Sejumlah anak-didik Pusat Layan Autis (PLA) Batam didampingi orang tuanya berusaha menghabiskan kerupuk saat mengikuti lomba makan kerupuk dalam rangka HUT Kemerdekaan RI di PLA Batam, Kamis (16/8). Anak-anak PLA juga mebisa merasakan HUT Kemerdekaan RI dengan mengikuti berbagai lomba di sekolahnya. F Cecep Mulyana/Batam Pos

Salah seorang orangtua anak yang berada di PLA Batam, Rana mengatakan sangat senang anaknya bisa mengikuti perlombaan untuk merayakan HUT Ke 73 Kemerdekaan Republik Indonesia.

“Biasanya hanya bisa melihat-lihat saja, sekarang merasakannya,” ucapnya.

Ia mengatakan dirinya dan anaknya merasa merdeka di lingkungan PLA Batam. Karena tidak ada pandangan miring, atau sinis terhadapnya.

“Kami juga merasakan merdeka,” katanya.

Rana menuturkan pertumbuhan anaknya bisa terjaga dari hal-hal negatif. 16 tahun sudah dilewati Rana, membesarkan anaknya yang memiliki kebutuhan khusus.

Apakah lelah? Ia mengatakan tidak pernah ada kata lelah dalam hidupnya, untuk mendidik anaknya agar bisa mengejar ketertinggalan dari kawan-kawannya yang normal.

“Saya punya satu doa, saya ingin Tuhan memberikan kesabaran, kesabaran dan kesabaran yang besar untuk saya. Agar dapat mendidik anak saya menjadi seseorang yang lebih baik lagi,” ungkapnya.

Rana merupakan salah satu orangtua yang anaknya cukup lama berada di PLA Batam. Dan anaknya kini harus memasuki ke tahapan terapi transisi. Perkembangan anaknya saat ini sudah menujukan hasil yang luar biasa.

Namun, untuk masuk ke terapi transisi ini, Riniatun menyebutkan anak-anak tersebut harus terjun ke masyarakat.

“Contohnya masuk sekolah normal. Namun tidak segampang itu,” ungkap Rini.

Walaupun, beberapa guru (sekolah normal) menyadari kalau mereka haruslah menerima anak-anak istimewa ini, tapi itu tidak pernah dilakukan.

“Mereka sadar, tapi risih melakukan itu. Tapi ada juga beberapa sekolah yang mau menerima. Namun ada juga sekolah yang belum siap. Inklusi ini sangat penting,” ucapnya.

Rini menerangkan inklusi adalah sekolah yang memberikan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus, untuk belajar bersama-sama dengan anak pada umumnya di kelas yang sama.

“Proses ini penting membentuk pribadi anak. Inklusi ini masih minim di Batam,” tuturnya.

Ia berharap ke depannya, masyarakat Batam makin terbuka dengan keberadaan anak-anak berkebutuhan khusus ini. Sehingga, mereka dapat terus berkembang ke arah yang lebih baik. (ska)