ilustrasi

batampos.co.id – Bus Shalawat yang biasa mengantar Jamaah Calon Haji (JCH) ke Masjidil Haram sejak hari Kamis (16/8) sampai dengan Sabtu (25/8) berhenti beroperasi. Bus yang disediakan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi itu berhenti melayani dikarenakan bus-bus tersebut ditarik perusahaan yang menyediakan jasa transportasi (naqobah) untuk persiapan Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna).

Iklan

Selain itu menjelang Wukuf kondisi di Kota Makkah cukup padat, sehingga kemacetan lalu-lintasi bisa terjadi dimana-mana, Minggu (19/8).

Selain Bus Shalawat, penyedia katering jamaah pun berhenti melayani. Hal ini dikarenakan mobil box yang biasa mengantar makanan dari dapur ke hotel jamaah tidak bisa masuk ke Kota Makkah, mengingat begitu padatnya Kota Makkah dengan berkumpulnya JCH dari seluruh dunia.

Seperti halnya dengan JCH Kloter 27 asal Kepri, menurut informasi yang diterima dari ketua kloter 27 Embarkasi Batam Erman Zaruddin, saat ini JCH ada yang masak dan ada pula yang membeli makanan di sekitar hotel. Jarak dari Hotel ke Masjidil Haram lebih-kurang 1,4 km, sehingga JCH cukup berjalan kaki bila hendak ke Masjidil Haram.

Selanjutnya dikatakan Erman, malam 17 Agustus kemarin Petugas Kloter telah melaksanan survei di Armuzna. Tenda yang disediakan untuk JCH Kloter 27 di Arafah terdiri dari 3 tenda dengan ukuruan 2 kecil dan 1 besar. Sementara di Mina berada di satu tenda yang besar ditepi bukit yang harus menaiki anak tangga. Jarak dari tenda jamaah ke jamarat tidak terlalu jauh sekitar 2,2 km.

Menjelang pelaksanaan Wukuf ada 10 orang JCH Kloter 27 yang melakukan tarwiyah atas nama Janu Setia Nugraha, Martina Damayanti, Abdullah Fanani, Lilik Suryani, Nedi Marfeha, Fifi Indriani, Muhamad Ridwan, Rini Mutiara Wati, Asep Hendra Muharram, Alkhairiah.

Selain itu terdapat 9 orang menyatakan dengan surat pernyataan mau jalan kaki dari Makkah sampai Arafah pulang pergi. Walaupun sudah disarankan untuk tidak melakukan mengingat cuaca yang panas dan berangin kemudian jarak tempuh yang cukup jauh serta tak bisa di kontrol. Namum jamaah tetap bersikeras untuk melakukannya.

Berikut nama-nama JCH yang melakukan napak tilas, yakni Haryanto, Suprihatin, Lilik Astuti, Wiji Astuti, Kasim, Rahawati, Rika Jatmika, Abdul Salam dan Jamari.

Ia menambahkan, diketahui 4 alasan PPIH tidak memfasilitasi ibadah tarwiyah,

Aspek Fiqih. Tarwiyah bukan termasuk rukun atau wajib haji. Melainkan sunnah menapaktilasi rute saat Rasul SAW melaksanakan haji. Aspek Kesehatan/Fisik, kondisi kesehatan jamaah berpotensi terkuras dan kelelahan karena harus melakukan perjalanan ekstra ke Mina baru kemudian bergabung dengan jamaah reguler lainnya di Arafah.

Aspek Keamanan, idak ada unsur penyelenggara saat tarwiyah. Muassasah dan Maktab fokus di Arafah. Perlindungan dan monitoring jamaah tidak maksimal dan rawan keamanan. Aspek kenyamanan, sejak 8 Dzulhijjah, seluruh penyelenggara haji dari Arab Saudi maupun Indonesia fokus di Arafah. Pelayanan terhadap jamaah
tidak akan maksimal.  Air, listrik, makanan, tenda dan transportasi tidak tersedia. (rng)