Capres-Cawapres kubu petahana, Joko Widodo dan KH Ma’ruf Amin saat akan menjalani Tes Kesehatan di RSPAD Gatot Subroto, Minggu (12/8) (Igman Ibrahim/Jawapos.com)

batampos.co.id – Berikut ini hitung-hitungan mengaa Jokowi memilih Ma’ruf Amin sebagai Cawapres Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago.

Iklan

Pangi mengatakan, diambilnya Ma’ruf Amin sebagai cawapres Joko Widodo sempat menimbulkan pro dan kontra. Kini setelah resmi mendaftar ke KPU, poros petahana itu menamakan Koalisi Indonesia Kerja (KIK).

Ma’ruf Amin sebetulnya bukan nama baru dipentas politik nasional, dia adalah tokoh sentral MUI dan NU yang sangat berpengaruh. Setidaknya ada beberapa kelebihan Ma’ruf Amin yang membuat Jokowi jatuh hati pada nama ini.

“Pertama non partisan, beliau bukan lah kader salah satu partai koalisi peversi ngusung Jokowi, tingkat penerimaan (akseptabel) anggota koalisi cukup tinggi dan solid, sementara itu resistensi partai koalisi rendah,” kata Pangi saat dikonfirmasi, Minggu (19/8).

Bahkan Jokowi menarik Ma’ruf Amin sebagai cawapres untuk menepis isu suku, agama, ras dan antar golongan, yang selama ini dituduhkan kepadanya.

“Kedua menjawab isu SARA. Tidak diragukan lagi sosok Ma’ruf Amin adalah ulama kharismatik yang di segani di kalangan NU dan saat ini masih menjabat sebagai Ketua MUI, sebuah lembaga tempat bernaungnya para ulama dari berbagai macam organisasi dari seluruh pelosok Indonesia,” ucapnya.

Selain itu, Ma’ruf Amin merupakan aktor sentral di balik keluarnya fatwa MUI tentang penistaan agama yang dilakukan Ahok sehingga berujung pada gelombang aksi 212.

Dengan demikian, Ma’ruf memainkan peran isu politik entitas agama yang di alamatkan ke Jokowi terkait ketidak berpihakan pada umat Islam, kriminalisasi terhadap ulama dan berbagai macam isu SARA lainnya.

“Ketiga ulama ahli ekonomi. Selain ulama Ma’ruf Amin juga punya kapasitas yang mumpuni dalam bidang ekonomi, terutama ekonomi syariah,” ujar Pangi.

Kemampuan dan kapasitas Ma’ruf Amin dalam bidang ekonomi kerakyatan tentu menjadi salah satu poin penting untuk menjawab persoalan terkini bangsa Indonesia yang sedang bergelut dengan persoalan ekonomi liberal.

“Keempat dukungan basis massa NU. Sebagai tokoh senior NU, dicalonkannya Ma’ruf tentu sangat mempertimbangkan peran sentralnya diorganisasi terbesar umat Islam ini,” tuturnya

Dukungan dari basis massa partisan NU akan berdampak signifikan terhadap insentif elektoral mendongkrak elektabilitas Jokowi. Bukan hanya dukungan elektoral, namun juga berdampak pada posisi sentimen dan citra politik yang selama ini terkesan negatif terhadap Jokowi, terutama bersentuhan dengan isu sintimen umat Islam dan ulama.

“Kelima Ma’ruf Amin digandeng Jokowi bagian strategi mengunci PKB agar tidak banting stir meninggalkan koalisi Jokowi. Ketika Mahfud MD yang dipilih Jokowi, kita hakul yakin PKB bakal hengkang dan berpotensi menghidupkan poros ketiga, hal tersebut tentu ditakuti Jokowi,” katanya.

Oleh karena itu, Pangi menilai Ma’ruf Amin adalah pilihan parpol koalisi, sementara Mafud MD adalah pilihan Jokowi.

“Parpol koalisi tak setuju dengan Mahfud karena punya potensi menjadi matahari terang di Pilpres 2024. Namun tetap rumusnya parpol punya bergaining position tinggi menentukan cawapres ketimbang Jokowi,” pungkasnya.

(aim/JPC)