Kamis, 29 Januari 2026

Melintasi Jalan Darat Trans Papua pada Hari Kemerdekaan RI

Jalur Berlumpur Langganan Mobil Terjebak Berjam-jam

Berita Terkait

Bertepatan dengan Hari Kemerdekaan RI yang ke 73 kemarin, wartawan Radar Jogja berkesempatan melakukan perjalanan panjang menyusuri Jalan Trans Papua, Jayapura-Wamena. Jalan tersebut sudah tembus, meski baru sebagian kecil yang diaspal.

PAGI itu, Kamis (16/8), cuaca di Jayapura umumnya cerah. Wartawan ini yang menyertai Sekda Kabupaten Yalimo, Gasper Liauw, bergegas mempersiapkan diri masuk mobil yang sudah menunggu di depan sebuah hotel di Abepura, Kota Jayapura, Papua.

Berbagai perlengkapan, tak terkecuali bahan makanan, tampak lengkap sudah naik di bagian belakang mobil dobel gardan, Triton. Tak lupa tenda, kompor, dan belanga dibawa serta untuk jaga-jaga jika harus bermalam di tengah perjalanan.

Bekal itu untuk memastikan ketenangan dan kenyamanan perjalanan, karena harus menempuh perjalanan kurang lebih 20 jam, dengan menyusuri hutan, perbukitan, dan pegunungan.

Tepat pukul 09.30 WIT, mobil meluncur dengan kecepatan sedang. Keluar dari wilayah Abepura, kira-kira setengah jam kemudian, yang tampak di kanan kiri mobil, adalah hutan belantara.

Perkampungan ditemukan pertama kali adalah Arso yang masuk wilayah Kabupaten Kerom. Kabupaten ini merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Jayapura. Setelah itu, masuk Arso Kota yang merupakan ibukota Kabupaten Kerom.

Mobil pun terus meluncur, hingga menemukan Distrik (Kecamatan) Arso PIR, Wembi, Waris, dan Distrik Senggi. Itu semua masih masuk wilayah Kerom.

Setelah menempuh panjang jalur 162 Km, kami berhenti untuk istirahat dan makan. Tepatnya di Distrik Senggi, wilayah Satuan Permukiman (SP) I dan SP II. Di kompleks warga transmigrasi asal Jawa ini, terdapat dua warung makan yang biasa untuk ampiran masyarakat yang melakukan perjalanan sepanjang Jalan Trans Papua jalur Jayapura-Wamena.

Setelah istirahat sejenak dan makan siang, sang sopir Ajron Mangak, 53, kembali menginstruksikan seluruh penumpang naik mobil dan melanjutkan perjalanan. Kali ini benar-benar menyusuri hutan belantara. Jalan aspal habis, setelah menempuh perjalanan 230 Km, dengan memakan waktu kurang lebih empat jam.

Yang sedikit menghibur dalam perjalanan, saat tiba di Jembatan Kali Mamberamo, yakni Jembatan Meteor. Jembatan ini memiliki panjang 235 meter, dan lebar 7 meter, yang menjadi jembatan terpanjang di Papua.

Jembatan Meteor dibangun tanpa tiang, merupakan jembatan gantung yang berada di perbatasan antara Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Yalimo. Distrik terujung di perbatasan ini adalah Distrik Airu (Kabupaten Jayapura) dan Distrtik Benawa (Kabupaten Yalimo).

Setelah berswafoto di jembatan, perjalanan semakin ekstrem. Di sini mengalami beberapa hambatan. Perjalanan dihadapkan pada jalan berlumpur. Sedikitnya terdapat empat titik jalan berlumpur dan terjadi kubangan. Mobil yang kami tumpangi sempat tertanam dua jam.


Sekda Yalimo Gasper Liauw (Kaus Biru Celana Pendek) bersama Kepala Distrik Benawa, Paulus Munggaroak (kanan) menunjukkan kubangan di yang menjadi langganan mobil tertanam di wilayah Kampung Kotakru, Distrik Benawa, Yalimo, Papua.

Sang sopir Ajron Mangak bersama kondekturnya dibuat blepotan mandi lumpur. Beberapa kali usahanya untuk mengentaskan ban dari kubangan air dan lumpur, tak berhasil. Kami nyaris putus asa, dan sempat memutuskan untuk menginap di hutan yang masuk wilayah Kampung Kotakru, Distrik Benawa, Yalimo, yakni di Km 330.

Beruntung malam itu, sekira pukul 19.00 WIT ada mobil dari arah berlawanan lewat, setelah ngantar penumpang ke Distrik Benawa. Mobil pun bisa mentas setelah ditarik.

“Tempat ini memang menjadi langganan tertanamnya mobil-mobil yang melintas. Beruntung ini hanya dua jam saja, biasanya kami dan mobil-mobil lain bisa tertanam di sini antara empat hingga enam jam,” kata Ajron.

Dikatakan sedikitnya ada 30-an mobil yang melayani carteran jalur Trans Papua Jayapura-Wamena ini. Mobil-mobil ini adalah mobil dobel gardan seperti Toyota Hilux, Strada, Triton, dan sejenisnya. Untuk mengurangi risiko di perjalanan, semua mobil carteran ini sudah dimodifikasi. Khusunya untuk menambah per atau meninggikannya. “Sekali jalan, nilai carterannya tujuh juta rupiah, untuk sampai Distrik Benawa,” katanya.

Umumnya mereka melayani carteran untuk jalan di malam hari. Namun rombongan yang ditumpangi Radar Jogja ini sengaja berangkat pagi, agar bisa melakukan pengamatan di saat masih terang.

Namun tetap ketemu malam, karena jauhnya rute dan lamanya perjalanan. Terbebas dari kubangan, mobil kembali mengalami halangan karena jalan licin. Dalam perjalanan kali ini, ditemukan ada dua truk pembawa bahan makanan tertanam, konon tertanam hingga beberapa hari akibat banyaknya muatan.

Setelah melalu pajang jalur hampir 400 km dengan melintasi sedikitnya 82 jembatan besar berpagar besi, dan ratusan jembatan kecil yang terbuat dari kayu, tiba lah di Kantor Distrik Benawa, Kabupaten Yalimo. Saat itu jam di tangan menunjukkan pukul 22.00 WIT. Artinya, perjalanan Jayapura-Benawa kami tempuh selama 12 jam.

Di Distrik Benawa, kami bermalam di rumah dinas kepala distrik bersama Sekda Yalimo, Gasper Liauw. Kami tidur di lantai yang beralaskan papan kayu. Keesokan harinya menghadiri upacara HUT Kemerdekaan RI ke 73 di halaman Distrik Benawa.

Tidak ada yang istimewa dalam upacara bendera ini. Semua berjalan dengan sangat sederhana, tiang bendera dibuat dari batangan kayu yang dikupas kulitnya, petugas pengibar bendera sebanyak tiga orang merupakan tenaga medis, dan tidak ada pembacaan teks proklamasi. Bahkan peserta upacara banyak yang telanjang kaki, tak terkecuali para siswa.

Tahun 90-an, Benawa dikenal sebagai daerah penghasil gaharu. Saat jaya-jayanya gaharu, ratusan masyarakat keluar masuk hutan untuk memburu kayu yang merupakan bahan baku pewangi ini.

Kini kayu gaharu hampir punah. Masyarkat pemburu kayu gaharu pun tinggal puluhan orang saja. Sebagian masyarakat di sana berusaha mebudidayakan pohon gaharu. Saat ini, rata-rata tanaman gaharu warga baru berusia lima hingga 10 tahun. Padahal untuk menghasilkan kayu gaharu yang memiliki nilai jual, harus berusia 70 hingga 100-an tahun, dan sudah mati pohonnya.

Adalah keluarga Jidon Felage yang menanam puluhan kayu gaharu tersebut. “Dulu kalau saja kami bisa atur keuangan, sudah sangat kaya. Tapi kami boros, sehingga tidak ada uang yang nyantol dari gaharu itu,” katanya.

Kalaupun saat ini pihaknya membudidayakan pohon gaharu, tidak berharap pada hasilnya. Ia hanya berkeinginan menyisakan cerita sejarah, bahwa dulu di tempat tersebut pernah sebagai daerah penghasil gaharu. Namun akibat dieksploitasi, gaharu itu kini nyaris habis.

“Ya setidaknya nanti bisa sebagai bahan cerita anak cucu, meskpun keturunan yang ke berapa kelak,” lanjutnya sedikit bergurau.

Dia mengakui, saat jaya-jayanya gaharu, pada saat itu penghasilan para pemburu gaharu minimal Rp 20 juta sekali masuk hutan. Padahal sekali masuk hutan, hanya berkisar 10 hari hingga dua minggu.

Meskijauh dan berbalut hutan belantara, jalur Trans Papua: Jayapura-Wamena, bisa dikatakan sangat aman. Sejauh ini, sejak jalan tersebut tersambung, belum pernah terjadi gangguan keamanan.

“Kalau aman, sih aman. Sejauh ini juga tidak terjadi gangguan. Meski demikian, masyarkat yang melintas, termasuk kami yang berjaga, tidak boleh meremahkan keamanan. Kami senantiasa waspada,” kata Pratu Gunawa, Prajurit TNI asli Sleman, DIY yang bertugas di Pos Bompay, Distrik Senggi, Kabupaten Kerom.

Saat ditemui, Pratu Gunawan sedang memburu sinyal ponsel bersama dua anggota TNI lainnya, yakni Sertu Indra, dan Pratu Heri. Mereka harus berburu sinyal, karena tidak setiap tempat di wilayah tugasnya ada sinyal.

Meski berada di Km 150 dari arah Kota Jayapura, sinyal ponsel sulit didapat. Yang ada hanya di titik-titik tertentu, utamanya di bukit. Sehingga tak heran jika masyarakat, atau aparat keamanan di sana, telah membuat jadwal mencari sinyal demi bisa berkomunikasi dengan anggota keluarga yang ada di perkotaan. (jko/JPG)

Update