“Pengakuan” mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD di salah satu acara di stasiun televisi swasta beberapa waktu lalu bikin heboh.

Mahfud secara blak-blakan membongkar intrik politik yang menerpanya. Mulai dari prosesi penentuan calon wakil presiden (cawapres) pendamping sang petahana, Joko Widodo (Jokowi), hingga detik-detik terakhir dia batal jadi cawapres. Semuanya dijelaskan secara lengkap dengan bahasa sederhana oleh pria asal Madura tersebut.

Saya termasuk yang menonton “pengakuan” Mahfud. Saya juga menyaksikan para politisi hingga pengamat yang duduk di sekitar Mahfud. Ada yang tegang, ada yang santai. Ada yang tertawa, ada pula yang nyinyir. Semuanya menjadi pemandangan yang menarik.

Sorotan kamera yang mengarah ke Mahfud, tampak lebih indah tatkala orang-orang yang duduk di sampingnya juga tersorot.
Itulah politik. Penuh dengan drama. Kaya akan intrik. Terkadang berakhir bahagia, tak jarang membuat luka. Tergantung bagaimana sang sutradara mau mengarahkan ke mana akhir cerita filmnya. Sutradara yang saya maksud adalah sang calon presiden (capres) dan partai politik (parpol) pengusungnya.

Inilah drama menjelang pemilihan presiden (pilpres). Tidak ada yang menyangka sama sekali jika Mahfud “gugur” sebelum bertempur. Padahal, namanya digadang-gadang menjadi pendamping Jokowi. Bahkan, (katanya) baju milik Mahfud masih ada di Istana Negara lantaran mau diukur. Kwakakakak

Terlepas apakah Mahfud benar-benar sakit hati atau tidak, tapi inilah yang bikin pilpres makin greget. Selama ini kita hanya disuguhi berita soal Jokowi vs Prabowo. Itu-itu saja. Cuma mereka berdua saja. Sampai bikin saya malas menonton televisi di rumah. Tapi, “kasus” yang menimpa Mahfud ini beda. Bikin segar.

Terkadang, drama seperti ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan rating. Terutama pesta demokrasi semacam pilpres ataupun pemilihan legislatif (pileg). Maklum, masyarakat sudah mulai jenuh dengan sistem demokrasi di Indonesia. Buktinya adalah tingginya angka golongan putih (golput).

Mungkin, Komisi Pemilihan Umum (KPU) butuh cara untuk meningkatkan partisipasi masyarakat. Tidak sekadar menggelar sosialisasi-sosialisasi yang menurut saya kurang efektif. Selain kurang tepat sasaran, juga cenderung menghabiskan duit negara. Boleh juga dicoba lewat pengalihan isu yang mirip drama di atas. Hehehehehe

Tidak jarang masyarakat harus dicekoki dengan hal-hal baru. Seperti yang dialami Mahfud MD ini. Setidaknya, bisa mengajak masyarakat Indonesia untuk menikmati keseruan pilpres. Tidak hanya melakukan hal membosankan seperti ikut sosialisasi, datang ke tempat pemungutan suara (TPS), mencoblos, dan menyelupkan jari di tinta, namun juga hal lain yang sayang untuk dilewatkan.

Toh, tidak hanya “perkara” Mahfud MD saja.

Di sisi lain, Prabowo Subianto yang berstatus penantang mendadak mengumumkan Wakil Gubernur (Wagub) Jakarta, Sandiaga Uno sebagai pendamping. Padahal, mantan Danjen Kopassus itu digadang-gadang akan menggandeng salah satu di antara Habib Salim Segaf Al-Jufri atau Ustaz Abdul Somad.
So, mari kita nikmati pilpres yang penuh drama ini. Semoga, siapapun yang memimpin negeri ini kelak, dapat membawa perubahan bagi masyarakat, bangsa, dan negara. (*)

 

Guntur Marchista Sunan
Direktur Batam Pos