Alat berat beraksi di Tiban Koperasi

batampos.co.id – Penyebab banjir di Tiban Koperasi ternyata bukan hanya berasal dari penutupan kolam retensi. Faktor lainnya terjadi karena drainase yang sempit dan keberadaan puluhan bangunan permanen atau semi permanen yang dibangun diatas drainase.

“Drainase di lahan koperasi cukup besar. Tapi pas masuk ke drainase perumahan warga jadi menyempit,” kata Deputi IV BP Batam Eko Budi Soepriyanto di kantornya, Kamis (23/8).

Debit air yang mengalir dari lahan milik koperasi cukup besar. Sehingga drainase warga yang sempit tak sanggup menahan debit air sehingga menyebabkan banjir.

“Disamping itu, terdapat sedimentasi di drainase milik warga. Tingginya sudah mencapai 50 centimeter. Sehingga perlu normalisasi secepatnya,” paparnya lagi.

Drainase yang sempit makin sempit lagi setelah warga membangun puluhan bangunan diatas lahan untuk drainase.

“Total 60 persen lahan drainase dijadikan bangunan. Ini yang menyebabkan air berbalik dan mengumpul jadi banjir. Kalau tak ada bangunan, maka air akan lempang-lempang saja,” ucapnya.

Untuk pembangunan kolam retensi baru, BP hanya akan membangun dua kolam saja. Eko mengatakan warga pun sudah menyetujui. Di masing-masing kolam tersebut nanti akan dibangun pintu air untuk mengontrol debit air yang masuk dan keluar.

“Namun karena lahannya merupakan lahan timbunan, maka perlu waktu sampai tanahnya menjadi padat. Sekarang masih lembut, nanti alat berat bisa amblas,” ujarnya.

Disamping itu, di sisi selatan lahan koperasi BP juga akan menganggarkan biaya sekitar Rp 10 miliar untuk membangun drainase baru. Fungsinya adalah untuk mendukung drainase milik warga.

Sedangkan anggaran untuk normalisasi sekitar Rp 3 miliar dan akan segera dilaksanakan tahun ini mengingat sifatnya yang urgen.

“Untuk bangunan di atas lahan drainase, RW dan tokoh masyarakat yang harus berkomunikasi. Kalau kami hanya melakukan tugas saja,” pungkasnya.(leo)