Dua bocah yang tinggal di luar rumah.
foto: polsek batuaji untuk batampos.co.id

batampos.co.id – Warga Perumahan Central Park, Tanjunguncang, Batam, sangat emosional. Mereka geram bercampur sedih saat menemukan dua balita dalam kondisi kelaparan karena diduga ditelantarkan pamannya sendiri.

Dua balita itu, masing-masing berinisial Ak (3,5 tahun) dan Rhm (4,5 tahun), ditemukan di samping rumah milik Suryanto di Blok M Nomor 1 Perumahan Central Park. Suryanto tak lain merupakan paman kandung kedua bocah malang itu.

Saat ditemukan warga, kondisi Ak dan Rhm sangat memprihatinkan. Pakaian mereka kumal dan menimbulkan bau tak sedap. Tubuh mereka penuh bekas luka dan memar. Dan yang lebih menyedihkan, mereka dalam kondisi lemas akibat kelaparan.

Karena itu, warga langsung memberi keduanya makan sesaat setelah dievakuasi dari samping rumah Suryanto. “Dua piring habis. Betul-betul lapar anak-anak ini. Sebagian ibu-ibu menangis tadi lihat kondisi mereka. Terpukul sekali kami melihatnya,” ujar Hendro, warga di lokasi kejadian.

Dua bocah malang ini pertama kali ditemukan oleh Yuli, warga Perumahan Central Park. Kamis (23/8) sekitar pukul 21.00 Yuli melintas di dekat rumah Suryanto. Saat itu, ia mendengar suara tangisan anak-anak.

Karena penasaran, Yuli memanjat dinding rumah Suryanto dan mengintip. Ternyata, ada dua balita yang berada di samping rumah Suryanto.

foto: batampos.co.id / dalil harahap

Posisi rumah Suryanto berada di hook di Blom M Perumahan Central Park. Rumah tersebut sudah direnovasi dengan menambahkan bangunan di samping rumah utama. Bangunan tersebut berupa ruangan dengan tembok keliling setinggi tembok rumah utama.

Meski sudah dilengkapi pintu, ruangan tersebut belum beratap. Lantainya masih berupa tanah. Di dalam ruangan itu juga terdapat beberapa perabot dan kayu bekas bahan bangunan. Pintu ruangan itu terkunci, sehingga keduanya tak bisa keluar.

Di ruangan terbuka itulah Ak dan Rhm ditemukan. Kondisi ruangan saat itu gelap gulita karena memang tidak ada lampu penerangan. Saat pertama kali ditemukan Yuli, Ak dan Rhm menangis sambil berpelukan di sudut ruangan.

Melihat pemandangan memilukan itu, Yuli segera lapor ke ketua RT setempat. Tak lama berselang, Ketua RT 10 Perumahan Central Park, Junaidi, datang bersama warga dan segera mengevakuasi Ak dan Rhm.

“Katanya ini anak abang dari Suryanto. Dua anak ini sudah lama katanya dititipkan di sini. Orangtua dua anak ini kerja di Timor Leste,” ujar, Junaidi.

Rumah tampak dalam.
foto: batampos.co.id / dalil harahap

Warga makin geram karena malam itu kedua anak Suryanto tengah asyik menonton TV di ruang tamu. Sementara Ak dan Rhm dibiarkan diluar rumah dalam kondisi kelaparan dan kedinginan.

“Merinding saat pertama jumpa. Pengen nangis rasanya. Bayangkan dua anak kecil dikurung di luar rumah dan gelap gulita sampai jam sembilan malam. Tak bisa berkata-kata kami,” ujar Rudi, warga yang ikut mengevakuasi Ak dan Rhm, kemarin.

Setelah dievakuasi, warga lapor ke Polsek Batuaji. Selanjutnya Ak dan Rhm dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah Batam. Kedua bocah ini divonis menderita busung lapar. Bahkan Ak harus diopname sebab mengalami masalah pada saluran pembuangan.

“Pipisnya berdarah ada pembekuan darah di saluran pembuangan. Kelaparan dua bocah ini saat pertama kali ditemukan,” ujar Kanit Reskrim Polsek Batuaji Ipda Yanto. Hingga sore kemarin, Ak dan Rhm masih menjalani perawatan medis di RSUD.

Sementara Kapolsek Batuaji Kompol Syafruddin Dalimunthe menduga kedua bocah ini korban penelantaran anak. Ia juga meyakini keduanya menjadi korban kekerasan fisik oleh Suryanto yang saat ini telah ditetapkan sebagai tersangka.

“Ini yang masih terus kami dalami,” ujar Dalimunthe.

Dalimunthe menambahkan, jika terbukti melakukan penelantaran dan kekerasan, Suryanto dapat dijerat Undang Undang Perlindungan Anak dengan ancaman minimal lima tahun penjara.

Kepada polisi Suryanto mengaku sudah dua tahun menjaga anak dari kakak kandungnya itu. Dia juga mengaku terpaksa mengurung kedua bocah itu di bangunan tambahan samping rumahnya karena menurut dia kedua bocah itu nakal dan sering merusak perabotan rumah tangga di rumahnya.

“Lasak (nakal, red) mereka, makanya ditaruh di situ,” ujar Suryanto di Mapolsek Batuaji, kemarin.

Kirim Uang Rp 2,6 Juta per Bulan

Kapolsek Batuaji Kompol Syafruddin Dalimunthe menyayangkan aksi penyekapan dan penelantaran Ak ada Rhm oleh pamannya sendiri itu. Menurut dia, seharusnya Suryanto tak melakukan hal itu karena orangtua Ak dan Rhm rutin mengirim uang kepadanya sebesar Rp 2,6 juta per bulan. Uang tersebut untuk keperluan sehari-hari Ak dan Rhm.

“Kalau masalah ekonomi orangtua anak ini kirim terus uang buat keperluan anak mereka,” kata Dalimunthe, kemarin.

Hal ini diketahui setelah pihaknya menghubungi kedua orangtua Ak dan Rhm yang bekerja sebagai TKI di Timor Leste.

“Makanya kami masih mendalami motif yang sebenarnya,” kata dia.

Disinggung soal kemungkinan adanya gangguan kejiawaan pada Suryanto, Dalimunthe meragukannya. Sebab tersangka bisa merawat kedua anak kandungnya sendiri dengan normal.

Hal ini dibenarkan oleh warga sekitar. Menurut warga, keluarga Suryanto merupakan keluarga yang normal layaknya warga lainnya. Tak ada tanda-tanda aneh pada keluarga ini, terutama pada Suryanto.

Seorang warga, Erna, mengatakan selama ini Suryanto dikenal sebagai pekerja bangunan. Saat ini ia mengurus sendiri kebutuhan rumah dan anak-anaknya, termasuk Ak dan Rhm yang dititipkan di rumahnya.

“Istrinya lagi di rumah sakit karena kecelakaan Selasa (21/8) lalu,” kata Erna.

Dititipkan di RSUD Batam

Komisioner Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kepri Erry Syahrial mengaku sudah mendapatkan informasi tentang dugaan penelantaran Ak dan Rhm. Saat ini, dua bocah itu dititipkan dan dirawat di RSUD Embung Fatimah Batam.

“Sembari menunggu orangtua korban yang diketahui bekerja sebagai TKI di Timor Leste, sementara ini dititipkan ke RSUD dulu sampai membaik,” kata Erry, Jumat (23/8).

Dia mengatakan pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kota Batam dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Batam, terkait penanganan lebih lanjut kepada dua korban tersebut.

“Saat ini fokus untuk pemulihannya saja dulu, untuk yang lainnya masih kita bicarakan,” ucapnya.

Kepada pihak polisi, Erry meminta agar kasus tersebut diusut tuntas. Sebab, dari hasil temuan di lapangan pihaknya menduga ada tindak pelanggaran yang lebih berat. “Pelanggarannya banyak, mulai dari menyekap anak, tidak memberikan makan, mungkin ada kekerasan fisik dan psikis. Jadi dapat disimpulkan kekerasan yang didapatkan korban ini cukup kompleks,” jelas Erry.

Ia mengatakan kasus ini tidak boleh diabaikan dan harus menjadi perhatian serius semua pihak. Baik dari kepolisian, lembaga perlindungan anak, masyarakat, juga pemerintah daerah. “Saya juga berterimakasih kepada warga yang peka dan langsung melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwajib,” ungkapnya.

Erry menyebut kasus kekerasan dan penelantaran anak di Batam memang masih cukup tinggi. Hingga Agustus 2018 ini, KPAID Kepri mencatat ada tujuh kasus kasus anak korban perlakukan salah dan penelantaran. (une/eja)