batampos.co.id – Pusat Data dan Sistem Informasi (PDSI) Badan Pengusahaan (BP) Batam mengundang 72 pemerintah daerah seluruh Indonesia ke acara Business Gathering yang digelar di Bali, 30 Agustus mendatang.
“Ini merupakan Business Gathering ketiga sejak 2016. Yang pertama kami gelar di Batam dan kedua di Jakarta. Event ini untuk promosi Data Centre lebih luas di Indonesia,” kata Pelaksana Harian (Plh) Kepala Pusat PDSI BP Batam Sylvia Malaiholo di Mediacentre BP Batam, Senin (27/8).
Data Centre milik BP Batam merupakan aset vital nasional. Faktornya antara lain dari segi geografis sangat strategis. Dari segi infrastruktur cukup memadai dan dari segi risiko bencana, Batam berada di daerah yang tidak mudah terkena risiko gempa. Dari segi pelayanan dan keamanan, BP sudah mengantongi sertifikat ISO 9001/2015 dan ISO 27001. Dan dari segi hubungan bilateral, PDSI BP Batam punya hubungan baik dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).
“Dari segi infrastruktur dan fasilitas, semua provider internet ada disini. Dan dari segi energi listrik sudah cukup. Semuanya memenuhi syarat untuk menjadikan Data Centre BP sebagai aset vital nasional,” ucapnya.
Saat ini ada sekitar 20 tenant yang menggunakan jasa Data Centre BP. Mulai dari instansi pemerintah, swasta hingga universitas.
Menurut Sylvia, momennya sangat tepat karena Presiden Jokowi telah menetapkan Batam sebagai hub digital dari Indonesia ke Singapura. Disamping itu, banyak perusahaan start up yang beropasional di Batam.”Data Centre bisa menampung hingga sekitar 140 tenant,” jelasnya.
Salah satu tenant yang mempercayakan Data Centre sebagai tempat menyimpan dan back up data adalah UIN Sunan Kalijaga.
Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof Drs KH Yudian Wahyudi, MA mengatakan pihaknya mempercayai penyimpanan data di BP Batam. Karena keamanannya terjamin.
Menurutnya, penyimpanan data di IT Centre BP Batam akan dilakukan secara bertahap, dan terus ditingkatkan.
Pihak UIN Sunan Kalijaga melakukan pecegahan terhadap risiko-risiko yang diakibatkan bencana (disaster) seperti kebakaran, gempa bumi, banjir, tsunami.
Yakni dengan menyusun rencana pemulihan bencana (Disaster Recovery Plan/DRP) dengan dukungan DRC (Disaster Recovery Center) sebagai tempat/area penyimpanan serta pengolahan data dan informasi pada saat terjadinya bencana yang mengakibatkan Data Center mengalami gangguan, sebagian atau bahkan rusak total.
“Kami mempercayai Batam memiliki kelebihan tersendiri dari sisi alam. Yaitu tidak berpotensi tsunami, tidak berada dalam jalur patahan geologi dan minimnya risiko terhadap bencana alam,” kata Yudian dalam rilis yang diterima Tribun.
Hal ini menurutnya, merupakan upaya pencegahan sewaktu- waktu, jika terjadi bencana alam. Maka data yang dimiliki pihaknya akan selamat.
Pihaknya juga melihat fasilitas Pengelola Data dan Sistem Informasi (PDSI) BP Batam, merupakan fasilitas TIK (teknologi informasi dan komunikasi) dengan teknologi tinggi dan infrastuktur jaringan informasi serta komunikasi broadband dengan standar tinggi yang dimiliki BP Batam.(leo)
