Pekerja menggotong tiang listrik di Natuna, beberapa waktu lalu.
f humas pln.

Pemerintah terus berupaya meningkatkan rasio elektrifikasi di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Tak hanya di daratan utama, melalui Program Listrik Desa, pemerintah menghadirkan terang hingga pulau-pulau di perbatasan NKRI.

Iklan

SUPARMAN, Batam

SETELAH hampir dua jam mengarungi laut dan dua kali berganti perahu kayu, akhirnya sampai juga perjalanan ke Pulau Pemping, Kecamatan Belakangpadang, Kota Batam, Sabtu (21/07/2018).

Cuaca terik hari itu seolah tak terasa meski kondisi perahu setengah terbuka. Hanya ada atap terpal. Sementara sisi kiri dan kanan kapal dibiarkan terbuka.

Namun kondisi ini justru menghadirkan pemandangan yang memanjakan mata. Dari sisi kiri perahu, penumpang bisa meilhat pulau-pulau kecil. Baik yang berpenghuni maupun yang kosong.

Ada pula deretan hutan bakau yang rimbun. Tak hanya itu, perahu kayu itu juga kerap melintas di dekat nelayan tradisional yang sedang beraktivitas. Pemandangan yang sudah mulai jarang terlihat di pesisir Kota Batam.

Sementara di sisi kanan perahu atau di sebelah utara, pemandangan yang kontras tak kalah menarik. Gedung-gedung pencakar langit di Negeri Singa, Singapura, terlihat begitu dekat. Saking dekatnya, aktivitas crane di pelabuhan Singapura terlihat cukup jelas.

Udara panas masih terasa saat kaki menapaki pelabuhan Pulau Pemping. Padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Cuaca gerah ini membuat warga setempat memilih untuk berdiam diri di dalam rumah. Sambil mendinginkan badan di depan kipas angin.

“Sekarang enak sudah ada listrik. Sore begini bisa ngadem sambil nonton TV,” kata Sumarni, warga Pulau Pemping.

Ia menceritakan, sejak 2015 warga di Pulau Pemping bisa menikmati listrik lebih lama. Yakni mulai pukul 16.00 WIB sampai pukul 07.00 WIB di hari berikutnya. Atau sekitar 15 jam sehari.

Listrik yang saat ini dinikmati warga Pemping itu tersedia dari hasil kerjasama sejumlah pihak. Antara lain PT Perusahaan Gas Negara (Persero), PT Transportasi Gas Indonesia (TGI), ConocoPhilips Indonesia, Petro China International Jabung, dan PT PLN Batam.

PT PGN berperan dalam menyediakan dua mesin pembangkit listrik tenaga gas yang masing-masing berdaya 125 kV. PT TGI kebagian tugas menyiapkan pipa gas, alat ukur meter, dan bangunan untuk rumah mesin pembangkit.

Sementara ConocoPhilips Indonesia dan Petro China International Jabung bertugas memasok gas sesuai dengan kuota yang ditetapkan pemerintah. Kemudian PLN Batam berperan dalam pengelolaan listrik di Pulau Pemping.

Sebelum ada PLTG ini, listrik di Pemping hanya tersedia mulai pukul 17.00 WIB hingga menjelang tengah malam. Atau sekitar enam jam sehari. Listrik tersebut dipasok dari mesin genset yang dikelola secara swadaya oleh warga.

Selain nyala listrik lebih lama, warga juga mengaku bersyukur karena kini biaya listrik PLTG jauh lebih murah dibandingkan listrik genset.

“Kalau pakai genset bayarnya Rp 20 ribu per hari. Sedangkan listrik gas ini hanya sekitar Rp 60 ribu per bulan,” kata Noni, warga lainnya.

Lurah Pulau Pemping, Tauran, mengatakan kehadiran listrik PLTG ini membawa banyak dampak positif bagi warganya. Misalnya dari segi ekonomi. Banyak warga Pemping yang mulai membuka usaha. Seperti usaha isi ulang air minum, usaha laundry, dan lainnya. Selebihnya, sebagian warga Pemping juga bisa menggunakan pendingin ruangan saat malam hari.

Namun dia mengakui, dari 990 warga yang terdiri dari 270 rumah tangga (KK) di Kelurahan Pemping belum semuanya bisa menikmati listrik PLTG ini. Saat ini listrik PLTG Pemping baru mengaliri 215 rumah tangga di pulau utama Kelurahan Pulau Pemping. Sementara 55 KK lainnya belum bisa dialiri listrik PLTG karena mereka berada di pulau yang terpisah dengan pulau utama.

“Ada 51 kepala keluarga (KK) di Pulau Labun, dan empat KK di Pulau Pelampung,” kata Tauran.

Pulau Pemping merupakan salah satu pulau terdepan Indonesia. Secara administratif, pulau ini masuk wilayah Kecamatan Belakangpadang, Kota Batam.

Selain berstatus pulau terluar, Pulau Pemping juga memiliki peran yang strategis. Sebab di pulau ini dibangun stasiun meter milik PT TGI untuk gas bumi yang akan diekspor ke Singapura. Pulau ini menjadi titik serah terakhir gas dari Indonesia kepada Singapura.

Setiap hari sejak 2003, ada 360 juta kaki kubik (360 MMSCFD) gas yang dialirkan ke Singapura melalui stasiun ini.

Namun kehadiran stasiun meter gas PT TGI ini dulu sering diprotes warga. Sebab warga merasa tidak ikut merasakan manfaatnya karena saat itu Pemping masih kesulitan listrik.

Sementara gas bumi lancar mengalir ke Singapura dan membuat Negeri Singa itu terang benderang saat malam hari. Menurut warga, jika malam tiba, Singapura terlihat gemerlap dari Pemping. Bahkan langit Singapura pun menjadi terang karenanya.

Sementara kondisi di Pemping sangat kontras. Warga dilanda gulita saat malam tiba.

Protes warga kian menjadi karena di stasiun meter gas PT TGI juga dilengkapi penerangan yang sangat cukup. Sehingga, stasiun meter yang posisinya di atas bukit itu terang benderang saat malam tiba. Sementara permukiman warga di bawahnya gelap gulita. Sehingga sempat ada istilah warga: terang di atas, gelap di bawah.

Namun kondisi itu berakhir sejak 2015 lalu. Sejak diopersikannya PLTG hasil kerjasama sejumlah pihak, termasuk pemerintah pusat melalui Kementerian ESDM.

Pemping bukan satu-satunya wilayah pulau (hinterland) di Batam dan Kepri yang kini terjamin listriknya. Kepala Bidang Ketenaga Listrikan Dinas ESDM Provinsi Kepri, Marzuki, mengatakan Kementerian ESDM melalui Program Listrik Desa terus mendorong elektrifikasi hingga ke pelosok negeri.

“Seperti di Pulau Belakangpadang, Batam. Sekarang listriknya sudah menyala 24 jam berkat kerjasama PLN Persero dan PLN Batam,” kata Marzuki, Senin (27/08/2018).

Selain itu, beberapa wilayah pulau di Kepri seperi di Natuna dan Anambas juga terus ditingkatkan rasio elektrifikasinya. Marzuki menyebut, sesuai target Kementerian ESDM, seluruh desa di Indonesia, termasuk di Kepri harus sudah dialiri listrik pada 2019 mendatang.

Namun menurut Marzuki, Kepri memiliki tantangan tersendiri. Sebab di provinsi ini terdapat sekitar 385 pulau yang berpenghuni. Beberapa di antaranya merupakan pulau terdepan yang berbatasan dengan negara tetangga. Seperti Malaysia, Singapura, dan Vietnam.

Akan tetapi, kata Marzuki, pihaknya tetap berupaya menjalankan Program Listrik Desa itu semaksimal mungkin. Menurut catatannya, saat ini rasio elektifikasi (RE) di pulau-pulau tepencil di Kepri sudah cukup tinggi. Yakni sekitar 25 persen. Angka tersebut naik signifikan jika dibandingkan angka 2017 yang baru mencapai 15 persen.

Sementara Direktur Bisnis Regional Sumatera PLN Wiluyo Kusdwiharto mengatakan pihaknya gencar melistriki desa-desa dan pulau-pulau terluar di wilayah Kepri. Salah satunya di Kabupaten Natuna.

Pada Mei 2018 lalu sedikitnya ada tambahan 13 desa di Natuna yang mendapat pasokan litrik dari PLN Persero. Enam desa di antaranya mendapat pasokan listrik 24 jam sehari.

Ia berharap infrastruktur kelistrikan di Natuna dapat mengakselerasi program-program yang sedang digulirkan pemerintah, seperti pembangunan sentra kelautan dan perikanan terpadu di pulau-pulau, penjagaan kawasan pertahanan di Natuna, serta peningkatan kualitas kesehatan dan pendidikan.

“Selain itu, penjagaan kawasan pertahanan di Natuna juga dapat lebih optimal. Serta pelayanan kesehatan dan sekolah yang berada di daerah tersebut dapat melayani masyarakat lebih optimal lagi dengan adanya listrik yang beroperasi selama 24 jam,” ujar Wiluyo dalam rilisnya, beberapa waktu lalu.

Gubernur Kepri Nurdin Basirun mengapresiasi komitmen PLN dalam melistriki Kepri, khususnya Natuna. Dirinya berharap PLN segera menuntaskan program pembangunan infrastruktur kelistrikan di pulau-pulau tersebut pada 2019.

“Terima kasih kepada pemerintah pusat dan PLN yang komit melistriki Kepri, khususnya Natuna. Hal ini sesuai dengan Nawacita Presiden RI mewujudkan pembangunan daerah terluar, tertinggal, dan terdepan,” jelas Nurdin. ***