foto: batampos.co.id / dalil harahap

batampos.co.id – Penghuni rumah susun sewa (rusunawa) Pemko Batam Tanjunguncang I di simpang Batamec, Tanjunguncang mulai tak nyaman. Tiga pekan belakangan suplai air bersih dari PT Adhya Tirta Batam (ATB) l tersendat. Sebanyak 302 kepala keluarga (KK) yanh ada di sana benar-benar kewalahan.

Iklan

Untuk mendapatkan pasokan air mereka rela tidak tidur sepanjang malam untuk tampung air yang keluar sangat kecil di bak penampungan induk. Sebagian warga ada yang menyerah memilih menimbah sisa-sisa air yang sudah kotor di bak penampungan induk.

“Kalau mau dapat air yang bersih harus jaga malam-malam. Keluarnya kecil sekali itupun hanya satu atau dua jam. Keluarnya jam satu ke atas,” ujar Nia penghuni lantai dua blok F Rusunawa Tanjunguncang I, Rabu (29/8).

Warga yang tak sanggup bergadang malam tentu tak kebagian pasokan air bersih sehingga menguras sisa-sisa air di bak penampungan induk di masing-masing blok. Kondisi air di bak penampungan induk yang sudah lama tertampung cukup kotor sebab setiap kali ditimba tentu menyebabkan air keruh dan berlumpur.

Upaya yang sebenarnya tak layak itupun sudah tak bisa dijadikan langkah alternatif lagi sebab stok air yang tersisa di dalam bak induk bawa tanah juga mulai menipis. “Sudah mau kering makanya dari pagi tadi antre untuk dapat air dari dalam bak itu hanya dapat satu galon,” turut Anita, penghuni lain.

Senada disampaikan pengelolah rusunawa di sana. Persoalan kekurangan pasokan air ini sudah jadi persoalan serius di rusunawa milik pemko Batam tersebut. Itu karena sejak 10 hari belakangan ini stok air di bak induk sudah menipis. Bahkan siang kemarin sudah benar-benar habis. Pengelolahpun kelimpungan sebab mereka tak punya solusi lain selain berharap kepada pihak ATB.

“Sudah tak bisa apa-apa lagi. Benar-benar habis. Penghuni ada 302 KK disini jadi cukup banyak kebutuhan air. Kami sudah komplain ke ATB tadi antar hanya dua tangki. Dua tangki itu satu blok saja tak cukup. Di sini ada delapan blok,” ujar Syafik, petugas di bagian adiministrasi Rusunawa Tanjunguncang I.

Dua pekan sebelumnya kata Syafik pihaknya masih bisa memenuhi kebutuhan air penghuni dengan acara melansirkan air air dari bak penampungan bawa tanah ke bak induk di masing-masing blok. Namun belakangan sudah tak bisa lagi sebab semua stok air di lokasi rusunawa itu sudah habis.

“Ada yang beli galon sekarang karena memang sudah tak bisa lagi mau ambil dari bak induk,” ujarnya.

Ini dibenarkan oleh penghuni rusun lainnya yang tidak sempat menimba ataupun menampung air karena kerja mulai mengandalkan air galon isi ulang. Warga yang menempati rusun di lantai dua sampai lantai empat kian kerepotan sebab harus memikul ember atau galon dari lantai satu ke tempat hunian mereka.

“Sudah capek kerja kami harus pikul galon ke atas lantai tiga. Benar-benar sengasara dibuat ATB kami ini,” tutur Yuhen seorang penghuni.

Saat wartawan mendatangi lokasi rusunawa itu siang kemarin, ibu-ibu di sana protes terhadap pihak ATB. Mereka berharap agar pihak ATB segera mengakhir penderitaan mereka itu.

“Tiap bulan kami rutin bayar pak. Kenapa air kami dimatikan. Capek pak kami cari air dan pikul naik ke atas (lantai rusunawa). Sudah capek kerja capek lagi jagain dan pikul air ini,” tariak Yuhen.

Pihak ATB saat dikonfirmasi mengaku belum tahu ada persoalan itu. Staf humas ATB Adi kepada wartawan mengaku akan segera mencari tahu persoalan tersendatnya pasokan air tersebut.

“Setahu kami tidak ada persoalan selama ini. Informasi ini segera kami cek ke lapangan,” ujar Adi. (eja)