Ilustrasi Nilai Tukar Rupiah

batampos.co.id – Perekonomian dunia saat ini sedang bergejolak. Indonesia sendiri terkena imbas dengan Rupiah yang anjlok hingga di atas level Rp 14.700.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, namun jika di bandingkan dengan Jepang yang memiliki daya tahan terhadap guncangan ekonomi perlu ditiru.

Menurutnya, salah satu amunisi negara Jepang mampu bertahan ditengah guncangan ekonomi global yaitu berkat solidaritas dari masyarakatnya sendiri. Dukungan masyarakat yang kuat mampu membawa fundamental ekonomi yang kuat untuk negara sakura tersebut.

Rasa nasionalisme yang tinggi tersebut, kata Bambang, dapat terlihat dari 90 persen utang pemerintah yang diminati oleh masyarakatnya. Mereka mempercayakan harta mereka kepada pemerintah demi kesejahteraan negaranya.

“Kita tahu nasionalisme Jepang sangat tinggi. Sampai level ibu-ibu yang bukan pekerja itu mereka investor di surat utang negaranya,” ujarnya saat ditemui di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Jumat (31/8).

Padahal kata Bambang, Jepang pada 2017 memiliki rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) 253 persen. Namun ekonomi negaranya masih aman lantaran hampir seluruh surat utangnya dikuasai oleh masyarakatnya sendiri termasuk ke level ibu rumah tangga.

Sementara di Indonesia, tercatat Surat Berharga Negara sekitar 40 persen masih dikuasai asing. Kebanyakan juga masih dari investor institusi.

“Jadi setiap kali ada gejolak seperti saat ini pasti ada gejolak juga,” tambahnya.

Padahal, menurutnya, nasionalisme masyarakat Indonesia pun juga cukup besar. Terbukti dari dukungan masyarakat Indonesia terhadap atlit-atlit yang tengah bertanding di Asian Games
2018. Hanya saja kurangnya sosialisasi dan literasi keuangan membuat masyarakatnya belum menyentuh investasi rasa nasionalisme.

“Kalau pendekatan logika itu sulit bagaimanapun pasti orang ingin paling aman itu pasti ke depsito dan tabungan,” tandasnya.

(mys/JPC)

 

Advertisement
loading...