batampos.co.id – Kapal Ferry tujuan pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang, dirompak oleh segerombolan perompak di perairan Tanjungpinang, Jumat (31/8). Perompak yang menggunakan senjata api tanpa ampun menembak ke arah ferry. Akibat tembakan bertubi-tubi tersebut, sejumlah penumpang mengalami luka tembak. Sebagian penumpang berusaha menyelamatkan diri dengan menceburkan diri ke laut.

Iklan

Mengetahui hal tersebut, nakhoda kapal langsung menghubungi Syahbandar Tanjungpinang. Selanjutnya otoritas pelabuhan tersebut menghubungi pihak keamanan untuk melakukan pertolongan.

Unsur gabungan seperti Wing Udara 2 Tanjungpinang, Lantamal IV Tanjungpinang unsur terkait lainnya langsung mengerahkan unsur udara untuk melakukan evakuasi.

Pesawat Cassa Patmar diterbangkan untuk melakukan pencarian lokasi kejadian. Sementara personel kapal Patkamla yang bergerak cepat dan tiba di lokasi kejadian, terlibat baku tembak dan berhasil melumpuhkan perompak yang berada di kapal ferry.

Sementara itu unsur Sea Rider melakukan pengejaran terhadap sebagian perompak yang menggunakan speedboat dan berhasil meringkus perompak.

Sementara itu, dua Helikopter Bolkov BO-105 dan perahu karet Lanudal serta SAR menyelamatkan korban yang berada di kapal dan yang menceburkan diri ke laut. Dalam misi penyelamatan tersebut, semua korban luka berhasil diselamatkan dan dievakuasi ke pelabuhan Sri Bintan Pura.

Kejadian tersebut merupakan simulasi dan skenario dari rangkaian Evakuasi Medis Udara (EMU) yang dilaksanakan Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspernerbal) dan Wing Udara 2 Tanjungpinang.

Komandan Puspenerbal Laksamana Pertama Dwika menjelaskan, latihan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan melatih awak udara dalam misi penyelamatan dalam kejadian atau ancaman yang membahayakan di lautan. Latihan tersebut bermafaat untuk melindungi masyarakat dari bahaya di lautan.

Selain itu, EMU dapat membentuk pola pikir yang matang guna melakukan penyelamatan terhadap korban apabila terjadi bencana.

“Diharapkan terjalin koordinasi yang baik antara petugas penyelamatan dan petugas medis dalam misi penyelamatan korban bencana di lautan,” kata Dwika.

Inti dari latihan tersebut, kata Dwika untuk memberikan keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat yang menggunakan transportasi laut. Sebagaimana yang diketahui banyak masyarakat yang menggunakan trasportasi laut. “Jika terjadi bencana, kami mampu untuk melakukan penyelamatan,” pungkasnya. (odi)