batampos.co.id – Berawal dari rasa prihatin akan Banyaknya produk skin care (perawatan kulit) yang ilegal dan berbahaya membuat

Iklan

Sri Purwaningsih, 35, prihatin banyak produk perawatan kulit ilegal dan berbahaya.

Sri berpikir untuk membuat suatu produk yang murah namun berkhasiat. Pemikiran itu muncul tahun 2007 silam.

Meski mempunyai suami seorang wiraswasta, namun dari rasa khawatir dan melihat adanya peluang usaha yang belum banyak dibidik orang lain, Sri mulai menjalani bisnis kecilnya dengan modal Rp 250 ribu.

“Dari prihatin saya melihat di tiap salon atau spa memakai produk berdasarkan murah saja. Jadi saya berpikir, kenapa gak saya tangkap peluang ini. Selain itu, saya lihat banyak produk skin care yang dibeli sampai ke Bali. Jadi saya membuat produk yang harga murah, tapi kualitas tidak jauh berbeda,” kata Sri kepada JawaPos.com, pada Minggu (2/9).

Produk ini, dibuat perempuan yang kini berusia 46 tahun itu dengan bahan-bahan alami yang sangat mudah dicari. Seperti kacang hijau, bengkoang, kopi, pepaya, beras merah, teh hijau, minyak zaitun, minyak kelapa dan lainnya.

Awalnya memang sempat beberapa kali gagal. Namun berkat ketekunannya, akhirnya produk ini berhasil juga.

Meski berhasil, perjuangan Sri baru saja dimulai. Sebab, ia memutar otak agar bagaimana produk yang dihasilkannya sendiri itu bisa laku keras di pasaran. Sri pun memulainya dari pintu ke pintu di tiap salon dan spa di Pekanbaru.

“Awalnya mereka gak percaya dan gak mau. Tapi saya tetap berusaha keras. Akhirnya satu per satu produk saya digunakan di tiap salon dan tempat spa. Baik di hotel maupun di tempat lainnya,” ucap Sri.

Sembari menjualkan produknya, Sri juga berusaha keras membuat legalitas untuk usahanya itu. Ia mendaftarkan izin edar untuk produknya ke Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM).

“Legalitas tahun 2013 dan telah dapat sertifikat. Akhirnya produk saya dapat izin edar dan jadi UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) pertama di Riau yang punya izin edar,” kata dia.

Kini, Sri Tanjung telah memiliki tiga jenis produk perawatan. Pertama body care (perawatan badan), facial care (perawatan wajah) dan feminine care (perawatan kewanitaan).

Harganya pun sangat terjangkau. Mulai dari Rp 19 ribu hingga Rp 84 ribu. Ukurannya ada yang 100 ml hingga 900 ml. Dengan ini, dalam sebulan Sri bisa mendapatkan omzet hingga Rp 40 juta.

“Hampir 50 persen di Pekanbaru sudah pakai produk kami. Untuk penjualan ke luar kota kita gunakan sistem online dan kita memanfaatkan sosial media. Produk kita juga sudah terjual sampai ke Lombok, Kalimantan dan Jawa. Mulai Agustus juga kita sudah pakai distributor,” tuturnya.

foto: instagram

Saat ini, Sri sudah tak sendirian menjalankan usahanya. Perempuan dengan dua anak ini, telah memperkerjakan tujuh orang karyawan yang semuanya berasal dari warga sekitar gerainya. Lokasinya di Jalan Sekuntum gg Mawar 5, Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru, Riau.

“Mereka memang saya ambil dari warga sekitar. Sengaja karena ingin menciptakan lapangan pekerjaan juga. Mereka juga dibekali pelatihan. Pelatihannya itu saya berikan sendiri dan belajar bersama-sama,” kata dia.

Sri merasa sangat bahagia karena apa yang dirintisnya sejak awal sudah membuahkan hasil yang manis. Kebahagiaannya itu semakin bertambah setelah gerainya dikunjungi langsung oleh Kepala BBPOM RI, Penny K. Lukito, beberapa waktu lalu.

Dalam kunjungannya, Penny memuji kepiawaian Sri mengolah bahan alami menjadi produk skin care tradisional yang telah diakui instansinya. Produk ini dinilai akan sangat bermanfaat bagi masyarakat terutama perempuan, yang ingin tampil putih bersih namun dengan harga terjangkau.

“Produk dalam negeri yang dibawah binaan BPOM dan mendapatkan izin dari BPOM udah pasti aman. Karena tidak mengandung bahan berbahaya tersebut. Makanya kita fasilitasi,” ujarnya.

Sri Tanjung kata dia, sudah melalui beberapa tahap. Itu dinilai sudah baik dan terjamin. Penny pun berharap agar Sri Tanjung bisa lebih mengembangkan pasarnya lagi.

“Kenapa gak lebih mengembangkan lagi marketnya untuk mengekspor ke wilayah luar Riau. Saya kira produk potensial untuk dikembangkan. Kalau tidak diisi oleh produk ilegal,” pungkasnya.

(ica/JPC)