batampos.co.id – Tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus berlanjut hingga Senin (3/9). Sejumlah industri di Batam dinilai akan terdampak tren tersebut, khususnya bagi industri yang mengimpor bahan baku tetapi produknya dipasarkan di dalam negeri.

Tokoh pengusaha Batam Amat Tantoso mengatakan, dalam jangka panjang pelemahan nilai tukar rupiah akan menyebabkan inflasi tinggi. Sebab harga sejumlah komiditi dipastikan akan naik siginifikan.

“Ini mulai mengkhawatirkan juga. Mungkin pemerintah harus segera ambil kebijakan,” kata Amat saat ditemui di Nagoya, Batam, Senin (3/9).

Ketua Asosiasi Pengusaha Valas Indonesia ini mengatakan, saat ini bisnis valuta asing (valas) di Batam belum terdampak. Namun akhir tahun nanti, para pengusaha valas di Batam dipastikan akan merasakan dampaknya, jika kurs rupiah tak kunjung naik.

“Bulan Desember nanti kebutuhan valas sangat besar,” ungkapnya.

Ia mengingatkan peristiwa krisis moneter pada 1998 lalu. Saat ini kurs rupiah mencapai Rp 16.800 per dolar AS. Kondisi ini membuat perekonomian di Indonesia kacau. Bahkan dampaknya meluas dan menimbulkan gejolak sosial dan politik di masyarakat.

Karenanya, Amat berharap pemerintah segera mengambil kebijakan strategis untuk mendongkrak nilai tukar rupiah. “Kami berharap sebelum Pilpres 2019 rupiah kembali menguat,” katanya.

Menurut Amat, salah satu penyebab penguatan Dolar Amerika berasal dari pengiriman royalti dari penggunaan merk ke perusahaan induk sebagai pemilik merk.

Sebagai contoh, Starbucks di Indonesia akan mengirimkan beban royalti kepada Stabucks Corporation di Amerika sebagai pemilik merk. Tentu saja royalti itu harus dikirim dalam bentuk dolar Amerika.

Selain itu, dari 2.000 perusahaan terbesar di dunia, ada 526 berasal yang dari Amerika dan banyak yang berbisnis di Indonesia.

Faktor lainnya yakni karena faktor dividen. Banyak perusahaan Amerika yang membuka anak perusahaan di Indonesia. Maka tiap tahun anak perusahaan harus mengirim dividen kepada induknya. Tentu saja harus disetor dalam dolar Amerika.

“Akibatnya permintaan akan dolar meningkat. Dolar terus menerus dicari sehingga nilai dolar akan semakin kuat terhadap rupiah,” ungkapnya.

Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Tjaw Hoeing mengungkapkan dampak dari pelemahan rupiah akan sangat terasa bagi perusahaan yang berorientasi ekspor domestik.

“Mereka beli bahan baku dari luar negeri dalam dolar. Tapi dijual ke domestik dalam Rrupiah. Tentu saja mereka akan rugi besar,” ungkapnya.

Khususnya di Batam, hampir seluruh perusahaan industri mengandalkan bahan baku impor untuk memenuhi kebutuhan produksinya. Ini karena Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan bahan baku industri dalam negeri.

Contohnya bahan baku untuk industri semikonduktor seperti wafer. Wafer merupakan bahan baku untuk pembuatan intgrated circuit atau IC pada produk elektronik. Di Indonesia belum tersedia. Sehingga industri-industri manufaktur di Batam mengimpornya dari Tiongkok, Jepang, dan India.

Kemudian garam industri. Garam yang dibutuhkan untuk proses industri ini harus memiliki kadar murni diatas 97 persen. “Sedangkan di Indonesia masih dibawah 95 persen. Mungkin teknologinya belum ada, makanya diimpor dari Amerika,” paparnya.

Ia kemudian mengungkapkan untuk perusahaan yang berorientasi ekspor keluar negeri, pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika nyaris tidak berdampak apa-apa.

“Karena mereka beli bahan bakunya dengan dolar dan jual kembali akan dapat dolar. Maka tak ada pengaruhnya,” jelasnya.

Sementara Staf Khusus BP Batam, Panusunan Siregar menilai pelemahan rupiah terhadap dolar AS tak selamanya berdampak negatif. Mantan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri ini melihat pelemahan nilai rupiah dapat menjadi stimulan untuk menggenjot ekspor keluar negeri.

“Menggenjot ekspor salah satu caranya adalah dengan mengurangi ketegantungan impor,” jelasnya.

Ia memahami hampir semua perusahaan industri di Batam mengimpor bahan baku. Makanya ia memberikan saran untuk bahan baku pelengkap lebih baik diambil dari domestik saja. “Ini dalam rangka mengurangi beban impor. Dengan begitu biaya logistiknya bisa ditekan sehingga biaya produksi semakin kecil,” ucapnya.

Disamping itu, menggenjot sektor pariwisata dianggap solusi yang tepat saat rupiah melemah.

“Tamu-tamu yang datang akan bawa dolar. Keberadaan dolar dalam negeri semakin tersedia. Menurut teori jual beli, jika dolar banyak di dalam negeri, maka rupiah akan menguat,” paparnya.

Pelemahan rupiah juga akan dilirik wisawatan mancanegara (wisman). Karena dengan menguatnya dolar terhadap rupiah, mereka dapat memperoleh lebih banyak rupiah saat berlibur di Indonesi

Seperti diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah, Senin (3/8). Dalam penutupan perdagangan kemarin, mata uang Garuda berada di level Rp 14.815 per dolar AS. Angka tersebut merupakan rekor terburuk sejak Juli 1998.

Tekan Defisit CAD

Sementara Menkeu Sri Mulyani mengatakan, pemerintah terus memantau perkembangan ekonomi global. Sebab, dinamika yang berasal dari sentimen krisis Argentina cukup tinggi. Karena situasi belum jelas, pemerintah fokus pada penguatan di dalam negeri.

“Dari dalam negeri langkah pemerintah dari otoritas moneter dan OJK akan disinergikan,” ujarnya saat ditemui usai rapat bersama Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (3/8).

Wanita yang akrab disapa Ani itu menambahkan, di sektor rill, pemerintah fokus pada pengurangan defisit transaksi berjalan (CAD). Pasalnya, salah satu sentimen dari perekonomian Indonesia adalah melebarnya CAD.

Seperti diketahui, defisit transaksi berjalan Indonesia di kuartal II tahun 2018 tercatat sebesar 3 persen atau 8 miliar dolar AS. Melebar dari 1,96 persen pada kuartal II tahun 2017. Defisit ini juga lebih besar jika dibandingkan dengan kuartal I tahun 2018 yang sebesar 2,2 persen atau sekitar 5,5 miliar dolar AS.

Terkait teknisnya, Ani menyebut strateginya belum berubah. Salah satu upaya yang tengah disiapkan pemerintah adalah mereview terhadap 900 komoditas impor yang masuk ke Indonesia. Saat ini, Kemenkeu bersama Menteri Perdagangan dan Menteri Perindustrian masih melihat komposisi dari komoditas impor yang tidak memiliki nilai tambah ke perekonomian.

“Dia bukan bahan baku, barang modal, dan ini barang konsumsi dan ini pun bentuk konsumsi yang tersier, bukan orang konsumsi tempe dan tahu yang orang kita makan,” terangnya. Pada kesempatan yang sama, pemerintah akan merangsang tumbuhnya usaha yang merangsang substitusi impor.

Kebutuhan impor BUMN besar seperti Pertamina dan PLN akan direview untuk melihat apa-apa kebutuhan yang bisa ditunda. Kalau pun kebutuhan tidak bisa ditunda, harus dipastikan suplai dolar dilakukan tanpa mengubah sentimen market.

Selain itu, Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan meneliti secara detail tingkah laku pelaku pasar. Kaitannya dengan transaksi mana yang legitimate demi memenuhi keperluan industrinya, atau tidak legitimate. “Kalau tidak legitimate kami akan lakukan tindakan tegas agar tidak menimbulkan spekulasi atau sentimen negatif,” kata dia.

Sementara itu, Ketua OJK Wimboh Santoso mengatakan, kondisi perbankan saat ini menyusul pelemahan rupiah masih aman. Dia menilai, publik perlu dijelaskan supaya tidak khawatir. “Kan semua punya plan yang bagus. Nanti kita akan bersama-sama dengan menteri keuangan dan gubernur BI untuk melakukan komunikasi publik,” kata Wimboh.
(leo/far/JPG)