Peringatan hari jadi ke-16 Zalvy Rivandy Achmad pada 10 September 2018 nanti akan istimewa. Ia akan merayakannya di Perugia, Italia. Bukan sedang jalan-jalan. Di negeri spageti itu Zalvy akan mengikuti program pertukaran pelajar atas beasiswa dari American Field Services atau AFS.

Iklan

Pemaparan Zalvy Rivandy Achmad tentang bagaimana cara mengentaskan Indonesia dari masalah buta huruf mampu mencuri perhatian tim seleksi beasiswa American Field Services (AFS) tahun 2018, beberapa waktu lalu. Zalvy terpilih menjadi satu dari 150 siswa SMA sederajat se-Indonesia yang menerima beasiswa AFS angkatan 2018-2019.

Selain tampil dalam diskusi kelompok itu, ada dua tahapan tes lainnya yang dijalani Zalvy dan para peserta lain dari Kepri. Yakni tes tulis yang meliputi tes bahasa Inggris, tes pengetahuan umum, dan penulisan esai.

Kemudian ada juga tes wawancara. Rangkaian tes itu digelar di SMAN 3 Batam tahun 2016 lalu oleh tim dari Bina Antarbudaya Chapter Sumbar, Riau, Kepri, dan Jambi. Bina Antarbudaya merupakan mitra AFS di Indonesia.

“Wawancaranya juga dalam bahasa Inggris,” kata Zalvy saat ditemui di sekolahnya, SMA Kartini Batam, Senin (3/9).

Siswa kelas XII MIPA 3 itu mengatakan, program beasiswa AFS dibagi dalam dua kelompok. Yakni AFS Year Program dan Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (YES). Ia sendiri masuk program AFS Year Program.

Dalam program ini, para penerima beasiswa akan mengikuti program pertukaran pelajar ke beberapa negara di Amerika Serikat dan Eropa. Zalvy kebagian ke Italia. Tepatnya di Provinsi Perugia.

Sesuai dengan namanya, AFS Year Program ini akan berlangsung selama kurang lebih setahun. Tepatnya selama 304 hari. Seluruh biaya selama program pertukaran pelajar ini ditanggung AFS.

“Jadi selama 304 hari itu saya akan belajar di Perugia,” ujar bungsu dari pasangan Nini Shahruni dan Marvian Takdir ini.

Remaja yang akan genap berusia 16 tahun pada 10 September 2018 ini mengaku sudah melakukan berbagai persiapan sebelum berangkat ke Italia pada Kamis (6/9) lusa. Mulai dari pesiapan bekal, hingga persiapan untuk menjalani kehidupan selama setahun di Italia.

Selain belajar, Zalvy mengaku akan banyak memperkenalkan tradisi dan budaya Indonesia di Italia. Khususnya budaya Melayu.

“Secara khusus saya bawa baju adat Melayu. Baju ini akan saya pakai dalam acara-acara tertentu selama program ini berlangsung,” katanya.

Zalvy juga menyiapkan beberapa lagu khas Melayu untuk dibawakan di beberapa kegiatan selama di Perugia. Karena tak pandai menari, Zalvy pilih menyanyi saja. Lagu Melayu yang bakal jadi andalannya nanti adalah Lancang Kuning.

Tak hanya itu, pemilik zodiak Virgo ini juga menyiapkan sejumlah materi presentasi. Selain memuat potensi dan pesona alam Indonesia, dalam presentasinya nanti Zalvy juga akan banyak memaparkan kekayaan budaya di Indonesia, khususnya di Bunda Tanah Melayu, Kepri.

Zalvy mengaku akan maksimal dalam memanfaatkan kesempatan belajar dalam program beasiswa AFS ini. Meskipun ia harus melewatkan Ujian Nasional (UN) tahun depan. Artinya, kelulusannya dari SMA Kartini harus ditunda satu tahun.

“Itu tidak masalah. Seperti ketapel, mundur selangkah untuk bisa maju seribu langkah,” ujar remaja berkacamata itu.

foto: batampos.co.id / anggie

Ditanya soal persiapan lainnya, pecinta alat musik piano ini mengatakan tidak ada yang spesial. Termasuk persiapannya menghadapi culture shock dari sisi budaya dan makanan setempat di Perugia, Italia.

“Ya dijalani saja. Mungkin di sana akan sulit mendapatkan nasi. Tapi tidak apa-apa. Lama-lama pasti terbiasa,” katanya.

Kepala Sekolah SMA Kartini Batam, Akmal, mengaku bangga dengan prestasi Zalvy. Sebab bukan hanya mewakili sekolahnya, Zalvy juga menjadi wakil dari Kepri dalam program beasiswa AFS ini.

Bicara soal prestasi, kata Akmal, memang bukan hal yang baru di SMA Kartini Batam. Sebab sekolah tersebut memang terus mendorong anak didiknya di semua bidang. Baik bidang akademik maupun non akademik.

“Di sekolah ini ada lebih dari 20 ekstrakurikuler. Jadi kami memang menyediakan banyak jalur bagi siswa untuk meraih prestasi,” kata Akmal, Senin (3/9).

Selain mendorong anak didiknya berprestasi, Akmal mengatakan pihaknya juga memberikan ruang apresiasi dan dukungan seluas-luasnya kepada para siswanya yang berprestasi. Sehingga ia berharap hal ini bisa memotivasi siswa lainnya untuk mencetak prestasi tertinggi di segala bidang sesuai minat dan bakatnya.

“Seperti Zalvy ini. Kami berikan dukungan maksimal agar jadi role model bagi siswa lainnya,” kata Akmal.

Menurut Akmal, selain aktif di ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) di sekolah, prestasi akademik Zalvy juga cukup moncer. Ia langganan juara tiga besar di kelasnya. Selain itu, ia juga pernah mewakili SMA Kartini dalam ajang olimpiade sains se-Kepri.

Meski memiliki segudang prestasi, Ternyata Zalvy tidak memiliki jadwal yang ketat dalam hal belajar. Baik di sekolah maupun di rumah. Seperti remaja seusianya, ia juga masih senang main dan jalan bersama teman-temannya.

“Biasa aja. Suka main game, nonton, ya seperti remaja pada umumnya,” kata ibunda Zalvy, Nini Shahruni, Senin (3/9).

Ditanya soal persiapan keberangkatan ke Italia, Nini juga mengaku tak ada persiapan khusus. Namun ia berpesan agar putra bungsunya itu fokus belajar dan menimba ilmu selama menjalani program beasiswa tersebut. Sebab ini merupakan kesempatan yang mungkin tidak akan datang untuk kedua kalinya.

“Yang yang tak kalah penting, jangan lupa salat,” pesannya.

Selain Zalvy, ada dua siswa lain dari Batam yang mendapat beasiswa AFS 2018-2019. Keduanya masing-masing siswa SMAN 3 Batam dan MAN 2 Batam. Namun keduanya akan mengikuti program KL-YES di Amerika Serikat, bukan di Italia. (FEBBY ANGGIETA PRATIWI, Batam)