Wakil Wali Kota Batam Amsakar Achmad saat menyambut kunjungan dari Delegation Senior Management
Programme (SMP) Singapore Civil College (SCC) di kantornya. (Istimewa)

batampos.co.id – Wakil Walikota Batam, Amsakar Achmad menerima kunjungan Delegation Senior Management Program (SMP) Singapura Civil College (SCC), Selasa (4/9) di ruang rapat kantor Walikota. Pimpinan delegasi Consulate General of The Republic Singapura, Mr. Mark Low mengatakan delegasi ini merupakan pegawai senior setingkat esselon I yang ke depan berpotensi untuk menjabat posisi penting.

Iklan

Kedatangan 41 orang delegasi ini untuk mengetahui langsung bagaimana hubungan kerjasama antara Kota Batam dengan Singapura. Dari pertemuan ini diharapkan dapat mempererat hubungan antara Singapura dan Batam terlebih jika delegasi sudah menduduki jabatan mentri.

”Terimakasih sudah menerima kami meski kondisi hujan. Sebagaimana kita tahu antara Batam dengan Singapura memiliki hubungan cukup dekat dan banyak kerjasama yang terjalin tidak hanya sektor ekonomi namun juga pendidikan, kesehatan dan pariwisata,”kata Mark Low.

Sementara itu Wakil Wali Kota Batam Amsakar Achmad kedatangan delegasi dapat meningkatkan hubungan kedua Negara. Dengan posisi geografi dan geo strategis Kota Batam, diharapkan ada dampak positif yang dirasakan. Letak Batam yang berada di jalur perairan internasional menjadi nilai tambah yang berdampak bertambahnya investasi di Kota Batam.

”Letak Batam yang berbatasan langsung dengan Singapura ini bergantung pada peran Singapura yang posisinya cukup penting bagi Batam,” ucapnya.

Kepada anggota delegasi ia mengatakan bahwa Batam memiliki Nongsa Digital Park (NDP) di Sambau Kecamatan Nongsa yang dikembangkan untuk industry perfilimen khususunya animasi. Dua hasil produksi NDP pun berhasil tembus ke tingkat dunia dan dua diantaranya berhasil menjadi box office. Amsakar menyampaikan bahwa dalam beberapa waktu ini sudah tiga delegasi Singapura yang berkunjung ke Pemko Batam.

“Pertama kita menerima kunjungan dari Menteri Luar Negeri, Mr, Maliki Osman, dari Kementrian Perdagangan dan Perindustrian, Chee Hong Tat dan hari ini dari delegasi SMP, pegawai tertinggi level esselon I. Mudah-mudahan kunjungan ini bisa meningkatkan hubungan kerjasama antara negara,” katanya.

Dalam kesempatan itu Amsakar menjelaskan bahwa Batam masih menunggu kejelasan status Batam antara Free Trade Zone (FTZ) atau Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Pemerintah pusat menurutnya tengah menggulirkan wacana Batam sebagai kawasan ekonomi khusus. Hal ke dua yang menjadi tantangan bagi Pemko Batam adalah kekhawatiran investor baik dari Singapura maupun luar yang terganggu dengan aksi unjuk rasa oleh buruh.

“Apapun status Batam kedepan, investor tetap akan dijaga. Karena Batam sangat berkepentingan dengan investasi yang masuk. Aksi buruh meski dilakukan se Indonesia tapi pemerintah lokal bisa selesaikan itu jadi terkait itu tidak ada masalah. Tantangan dua hal ini menurut saya. Melalui delegasi ini bisa informasikan ke Singapura bahwa Batam kondusif, aman dan Pemko Batam menjamin keamanan ini,” katanya menjawab pertanyaan dari perwakilan delegasi.

Sejak pemerintah membangun Batam, Amsakar mengatakan pemerintah dominan menjadikan Batam sebagai kota industri. Sementara sisi kepariwisataan yang ada di Batam belum begitu berkembang. Untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Batam, Pemko Batam saat ini tengah membenahi infrastruktur.

“Kami benahi infrastruktur ini agar turis ramai ke Batam merasa nyaman di Batam dan tinggal beberapa hari di Batam. Untuk kerjasama pariwisata juga sudah dibicarakan dengan Mr Maliki beberapa waktu lalu. Bagaimana 17 juta turis yang berkunjung ke Singapura, tiga jutanya bisa masuk ke Batam melalui bandara Cangi,” jelasnya.

Dibidang sosial yang menjadi persoalan bagi Pemko Batam adalah tingginya arus masuk orang ke Batam. Bahwa ditahun 70 an, jumlah penduduk Batam sempat melonjak hingga 8 persen.

“Sebagai daerah berdekatan dengan internasional tentunya kejahatan perdagangan orang, ilegal logging, ilegal fishing dan narkoba menjadi isu penting dan cukup mengganggu Batam karena letaknya di pelayaran internasional. Sehingga kami perlu memperkuat peran aparatur keamanan dalam hal ini TNI/Polri,” tutupnya. (iza)