batampos.co.id – Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Batam Jadi Rajagukguk mengatakan industri di Batam telah melakukan sejumlah langkah antisipatif terhadap pelemahan nilai tukar Rupiah. Kendati terkena imbas negatif, namun dampak yang dihadapi industri di Batam tak terlalu besar.

“Para pengusaha sudah melakukan langkah-langkah antisipatif sebelum ini. Makanya walaupun terkena dampak, namun dampaknya tidak terlalu besar,” ujarnya Rabu (5/9).

Menurut Jadi, Batam cukup kokoh untuk menghadapi pelemahan nilai tukar Rupiah. Hampir semua indikator ekonomi Makro menunjukan tren positif, sehingga aktifitas ekonomi masih berjalan dengan baik.

Industri di Batam telah berkali-kali menghadapi fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar. Dengan pengalaman-pengalaman yang ada, industri telah mempersiapkan langkah antisipasi agar tetap berproduksi.

Pengaruh nilai tukar Rupiah terhadap Dolar di Batam cukup tinggi. Pasalnya pengusaha di Batam mengunakan lebih satu mata uang (multi currency) sebagai acuan transaksinya. Selain Rupiah, Dollar Singapura dan Dollar Amerika merupakan acuan tansaksi di Batam.

Kondisi ini menuntut pelaku indutri dan pengusaha di Batam berpikir kreatif. Pengusaha harus memiliki strategi dalam rangka efektifitas agar usahanya tetap berjalan. Penghematan ongkos produksi menjadi salah satu cara yang ditempuh, agar produk tetap kompetitif.

“Dengan bahan baku yang lebih efisien, tapi mampu menghasilkan produk yang tetap kompetitif,” ujar Jadi.

Kadin Batam masih optimis langkah yang diambil oleh pemerintah dalam mengendalikan nilai tukar akan membuahkan hasil. Dia juga mendorong peran dari dunia usaha untuk membantu program pemerintah dalam mengendalikan nilai tukar, dan memperkokoh fundamental ekonomi dalam negeri.

“Kami akan berikan masukan-masukan kepada pemerintah, agar kinerja ekonomi di kawasan FTZ bisa mendongkrak stabilitas ekonomi dalam negeri. Termasuk mengenai upaya memperkecil Current Acount Defisit (CAD),” jelas Jadi.

Di sisi lain, Batam memang masih mengimpor beberapa barang mewah dan branded dari luar negeri. Tapi untungnya barang-barang tersebut memiliki pangsa pasar sendiri.

“Contohnya mobil CBU, kamera DSLR, handphone dari dialer resmi. Itu cuma dibeli golongan tertentu saja. Tapi sekarang banyak yang menahan keinginannya karena daya beli masih dalam tahap pemulihan,” jelasnya lagi.

Terpisah, Ketua Asosiasi Pengusaha Valuta Asing (APVA) Indonesia Datuk Amat Tantoso mengatakan pemerintah harus mengambil langkah cepat dalam menguatkan nilai Rupiah terhadap Dolar.

“Untuk September ini memang belum nampak arusnya. Tapi di akhir tahun nanti banyak pengusaha akan menukar valas dalam jumlah besar,” ucapnya.

Ia memaparkan saat ini banyak ibu-ibu rumah tangga yang menjual Dolarnya ke Money Changer.

“Sedangkan pengusaha masih wait and see. Kecuali di akhir tahun nanti untuk bayar utang,” jelasnya.

Untuk saat ini pihaknya masih percaya pemerintah dapat menciptakan perubahan.

“Mudah-mudahan ada perubahan,” paparnya.

Untuk barang impor, menurutnya kenaikan harga yang disebabkan penguatan Dolar ini tidak akan berpengaruh.”Untuk barang impor, rata-rata tak diminati lagi. Daya beli menurun sekali. Tak main lagi,” pungkasnya.(leo)