batampos.co.id – Polda Kepri akan menindaklanjuti laporan dari Keluarga Ahong, terkait meninggalnya Caik Hok alias Ahong dari lantai 8 hotel kawasan Jodoh, Senin (3/9) lalu. Ahong saat itu sedang bersama dengan petugas kepolisian dari Mabes Polri, dalam rangka pengembangan kasus narkoba.

Laporan keluarga Ahong ke Propam Polda Kepri ini, dibenarkan oleh Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol Erlangga.

“Kasus meninggalnya Ahong selaku pengendali narkoba sedang kami pelajari,” katanya, Rabu 5/9).

Hal-hal yang akan dipelajari terkait dengan proses penangkapan, dan kronologis kejadian jatuhnya Ahong.

“Nanti akan dilihat, apakah ada pelanggaran atau tidak. Semuanya sedang didalami,” tuturnya.

Erlangga menyebutkan proses autopsi dilaksanakan hari ini. Terkait hasil ini, ia mengatakan keluarga boleh mengetahuinya.

“Ya boleh-boleh saja (Keluarga mendapatkan informasi terkait hasil autopsi, red),” ungkap Erlangga.

Ahong, disebut Erlangga sudah menjadi target incaran Bareskrim Mabes Polri. Karena dari hasil pengembangan Direktorat Tindak Pidana 4 Bareskrim Mabes Polri, Ahong disebut-sebut sebagai pemasok narkoba ke berbagai daerah.

Kabid Humas Polda Kepri, Kombes S Erlangga (Boni Bani/JawaPos.com)

“Dia ini pengendali narkoba ke Tanggerang, Kendari, Makassar dan beberapa daerah lainnya di Indonesia,” ungkap Erlangga.

Sebelumnya diberitakan meninggalnya Ahong ketika pihak kepolisian berusaha mengungkap jaringan narkoba mantan napi Lapas Klas II Tanjungpinang tersebut. Beberapa keterangan pelaku narkoba yang diamankan pihak kepolisian, menyebutkan peranan Ahong sangat sentral.

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Mabes Polri Brigjen Eko Daniyanto menyebutkan sebelum kejadian meninggalnya Ahong, pria asal Tanjungpinang itu mulai kooperatif. Ahong mau membantu petugas kepolisian mengungkapkan letak gudang sabu milik bosnya di Batam.

Maka diaturlah pertemuan antara Ahong dengan penjaga gudang tersebut. Karena dari pengakuan Ahong, hanya penjaga gudang yang tau dimana letak sabu-sabu itu disimpan.
Pertemuan ini diatur di salah satu hotel kawasan Jodoh.

“Namun begitu anggota melepaskan borgolnya, agar pertemuan ini berjalan lancar. Ia (Ahong) memberikan perlawanan dan kabur lewat jendela, lalu lompat,” ungkap Eko.

Ahong mendarat di lantai 3, persisnya pinggir kolam renang hotel. Dan seketika itu juga meninggal dunia.

Keputusan Ahong untuk melompat inilah yang masih misteri hingga saat ini. Dalam pengembangan dilakukan pihak kepolisian dari penangkapan Ahong, polisi berhasil mengamankan beberapa orang kurir serta pengendali narkoba lainnya. Selain itu, didapat juga beberapa nama lainnya yang memiliki peranan penting dari jaringan ini.(ska)

Advertisement
loading...