Debut Mike Wiluan sebagai sutradara yang melahirkan film Buffalo Boys berbuah manis. Karyanya itu, oleh Komisi Film Singapura, dinominasikan ke Academy Awards ke 91 untuk dilombakan di ajang Piala Oscar 2019 mendatang untuk kategori Film Terbaik Berbahasa Asing.

Iklan

Mengenakan kemeja dengan lengan berlipat dan celana jeans berpadu kacamata hitam, Mike Wiluan memasuki ruang kerjanya di komplek Infinite Framworks Studios (Infinite Studios) di Nongsa, Batam, Kamis (6/9). Kepada Batam Pos ia mengaku tidak pernah menyangka film Bufallo Boys yang dia sutradarai mendapat tempat di hati kalangan penikmat dan pemerhati film.

“Ya ini kejutan sekali. Dinominasikan oleh Singapura untuk mendapat Oscar dari film bukan produksi Hollywood,” ujar Mike di kawasan Infinite Studios, Nongsa, Kamis (6/9) pagi kemarin.

Mike menyebutkan, Buffalo Boys menghadirkan banyak sekali unsur Indonesia. Sebagian besar penggarapannya dikerjakan di Kinema Infinite Studios, Nongsa, dan beberapa tempat di Jawa seperti di Candi Prambanan dan di Ambarawa. Untuk pengerjaan film ini, menghabiskan biaya sekitar Rp 4,1 miliar.

Percampuran aksi, fiksi, dan sejarah penjajahan Belanda yang menduduki tanah Jawa di Indonesia pada zaman dulu, membuat film ini disukai dan langsung mendapatkan tempat di panggung internasional. Apalagi, dialognya menggunakan dua bahasa yakni Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, juga dilengkapi substitle yang bersahabat bagi penonton penyandang disabilitas.

Batam Pos sendiri, turut menyaksikan pemutaran perdana di Batam, Sabtu (21/7) lalu. Film ini pun sukses mendapat sambutan sekaligus kritik membangun dari masyarakat dan para pemerhati film. Banyak pujian dialamatkan ke visualisasi dan tata musik film. Ditambah hadirnya aktor-aktor besar Indonesia membuat film ini memberi warna tersendiri di perfilman nasional. Film lokal rasa internasional, begitu komentar sebagian besar penonton saat itu.

Diawali dengan latar gurun di California, Amerika pada 1860, para tokoh utamanya diperkenalkan dalam sebuah kereta. Adalah Jamar (Ario Bayu) mengadakan pertarungan judi dengan pria berbadan besar (Conan Stevens). Pertarungan itu disaksikan adiknya, Suwo (Yoshi Sudarso) dan juga pamannya Arana (Tio Pakusadewo).

Jamar dan Suwo merupakan putra ningrat, Sultan Hamza (Mike Muliadro), kakak kandung dari Arana. Sultan tewas di tangan penjajah Belanda bernama Van Traach. Kematiannya disaksikan sendiri oleh Arana saat mereka melarikan diri dari tanah Jawa ke Amerika.

Enam bulan setelah judi tarung di atas kereta itu, Arana bersama dua ponakannya pulang ke tanah kelahiran di Jawa yang masih dijajah Belanda. Mereka hendak membalaskan dendam atas kematian ayah dan abang yang begitu mencintai Pulau Jawa itu.

Selama 1 jam 42 menit, film ini menyuguhkan adegan pertarungan fisik yang sadis tapi tetap terlihat estetik. Melibatkan kerbau sebagai tunggangan ala cowboy, menurut Mike, ini menjadi bagian dari imajinasinya dalam menghadirkan sesuatu yang unik. Bisa diterima secara nyata sebagai bagian dari kearifan lokal yang tidak bisa dipisahkan dari petani di Indonesia. Momen di mana Van Traach menyebut Suwo dan Jamar dengan ejekan Bufallo Boys karena mereka menunggangi kerbau menjadi penegas cerita film terhadap judul.

“Ini menjadi sebuah kehormatan, sekaligus menjadi beban juga untuk menciptakan karya-karya berkualitas. Yang beda dari yang lain. Karya-karya yang lahir dari fantasi, riset, digabungkan menjadi sebuah film yang menghibur dan bernilai,” ujar ayah 3 anak ini.

Mike Wiluan
foto: batampos.co.id / cecep mulyana

Direktur Komisi Film Singapura Joachim Ng menyebutkan, film Bufallo Boys ini merupakan film terbaik yang pernah dilihatnya. Tidak hanya indah secara visual, tapi juga sarat makna. Mampu mengeksplorasi tema secara universal dalam satu penayangan. Mulai dari sejarah, hubungan keluarga, keadilan, hingga kisah romansa yang diatur secara kreatif.

“Kami percaya film ini akan memberikan gelombang baik bukan hanya di Asia saja, tapi juga di dunia internasional,” ujar Joachim di sela-sela Gala Premiere Bufallo Boys di Singapura seperti dilansir dari The Straits Times.

Benar saja, setelah rilis perdana di Fantasia International Film Festival in Montreal pada Juli lalu, lalu tayang di Indonesia, dan terkini baru tayang perdana di Singapura, film ini juga akan segera tayang di Swedia, dan Prancis.

Mengapa Singapura yang mengajukan film ini ke Academy Awards, bukankah ini film Indonesia? Mike mengungkapkan film ini merupakan film kerja sama yang melibatkan dua negara, yakni Singapura dan Indonesia. Mulai dari kru, penulis, tim SDM, tim konten, hingga dukungan finansial melibatkan dua negara.

“Satu yang perlu diingat, sebelum saya jelaskan, film saya ini tidak ada hubungannya dengan masalah politik dan jangan dipolitisasi. Ini kerja sama dua negara. Singapura dan Indonesia,” katanya.

Mike menegaskan, pujian dan penghargaan bukanlah tujuan utama dari karya-karyanya. Namun ia mengaku bangga karena film garapannya diajukan untuk menjadi penerima piala Oscar.

“Semoga bisa menjadi prestasi yang membanggakan, yang mengangkat budaya dan membuat nama Indonesia serta Singapura juga nanti di kancah perfilman dunia,” ungkapnya.

Mike dilahirkan di Singapura, 42 tahun lalu. Anak kedua dari pasangan pengusaha asal Batam, Kris Taenar Wiluan dan Elizabeth Wiluan ini sudah banyak menghasilkan karya-karya perfilman berkualitas bertaraf internasional lewat studio yang ia pimpin di Nongsa, Batam.

“Setelah Bufallo Boys ini, saya mengembangkan serial sejarah juga. Grisse. Akan tayang di HBO Asia akhir 2018 ini. Kalau Bufallo Boys superhero-nya pria, di serial Grisse superheronya wanita. Masih tetap sama, mengangkat Jawa zaman dahulu sebagai latar film,” ujar pria lulusan University of Kent jurusan Film dan Seni ini.

Nama Mike sangat diperhitungkan di industri perfilman di Asia-Pasifik. Sejak 2004, perusahaan multimedia miliknya yang dikenal sebagai Hollywood-nya Indonesia, Infinite Frameworks di Nongsa mampu menjadi leading perfilman di Asia, yang kerap kali bekerja sama dengan chanel-chanel hiburan besar di dunia, termasuk Hollywood.

Sebelum Bufallo Boys, perusahaan miliknya juga sudah menghasilkan film-film besar yang sukses di pasaran, seperti Headshot, Dead Mine, Rumah Dara, Sing to the Down, serta berbagai film animasi lainnya yang sudah ditayangkan di berbagai negara. Yang terbaru Infinite Frameworks menjadi co-produksi untuk film yang kini lagi booming, Crazy Rich Asian.

“Semua itu hadir dari kerjasama dan tanggung jawab dari semua kru. Melibatkan banyak emosi dan kesabaran, serta ketelitian. Saya berteman dengan semua aktor. Khususnya untuk aktor-aktor di Bufallo Boys, mereka semua bekerja passionate,” ungkapnya.

Menurutnya, untuk menciptakan mahakarya, Mike selalu melibatkan dan mementingkan hubungan emosional dengan semua krunya, serta menghadirkan film yang berbeda dari production house kebanyakan.

“Untuk mengembangkan industri kreatif seperti perfilman ini, saya optimis market di Indonesia lebih maju ke depan, asal mampu membaca peluang. Apalagi ini dunia sudah serba digital, kita bebas lihat banyak konten dari berbagai platform. Kita bisa riset sambil terus belajar dan berkreasi,” tutupnya. (CHAHAYA SIMANJUNTAK, Batam)