Kamis, 7 Mei 2026

Siasat Pengembang di Tengah Kelesuan Ekonomi

Berita Terkait

ilustrasi
foto: batampos.co.id / dalil harahap

batampos.co.id – Badai ekonomi global dan pelemahan rupiah diyakini akan semakin memukul industri properti di Batam. Namun sejumlah pengembang sudah menyiapkan siasat untuk menggenjot penjualan.

Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Batam, Achyar Arfan, mengatakan para pengembang di Batam tengah berlomba mengatur strategi agar penjualan properti tetap berjalan. Meski situasi kurang menguntungkan, kata Achyar, para pengembang tidak akan serta-merta menaikkan harga properti.

“Kami justru lagi mencari bagaimana supaya rumah-rumah yang ada sekarang ini harganya tetap bisa terjangkau dan terbeli oleh masyarakat,” kata Achyar, Jumat (7/9).

Achyar mengatakan, saat ini daya beli masyarakat memang tengah turun akibat lesunya ekonomi. Sehingga penjualan properti di Batam juga ikut landai. Kondisi ini diperparah dengan pelemahan rupiah yang bisa memengaruhi sentimen pasar.

Dalam kondisi seperti ini, kata Achyar, masyarakat akan cenderung menunda pembelian kebutuhan yang sifatnya bukan primer.

“Masyarakat saat ini lebih menahan diri untuk membeli properti. Masyarakat lebih mengutamakan uang itu dibelikan atau dibelanjakan kepada kebutuhan yang lebih penting daripada properti,” ujar Achyar.

Selain menjaga harga properti agar tetap terjangkau, Achyar menegaskan banyak pengembang yang rela memberikan diskon harga. Selain itu, berbagai promo menarik juga ditawarkan untuk menarik minat pembeli.

Misalnya, kata Achyar, promo tenor kredit atau jangka angsuran yang lebih lama. Ada juga pengembang yang menawarkan gratis biaya dokumen jual beli, seperti BPHTB, sertifikat rumah, hingga gratis biaya notaris.

Achyar mengakui, sampai saat ini penjualan properti memang belum berjalan normal. Hal ini karena daya beli masyarakat yang rendah karena berbagai faktor ekonomi yang ada.

Menurut dia, saat ini sebagian besar pengembang mengaku kesulitan menjual unit propertinya. Baik yang berbentuk rumah tapak (landed house) maupun apartemen. Kalaupun ada transaksi penjualan, umumnya terjadi pada properti yang sudah dibangun dua atau tuga tahun lalu.

Di satu sisi, pihak pengembang sendiri juga memilih untuk lebih banyak menunggu sebelum membangun dan menjual properti. Sebab situasi saat ini kurang menguntungkan bagi para pengembang.

“Kalau pelemahan rupiah tidak akan berdampak pada harga properti di Batam,” kata Achyar.

Hal yang sama juga dikatakan salah satu pengembang properti di Batam yang juga anggota Komisi II DPRD Batam, Hendra Asman. Menurutnya, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika tak terlalu berdampak pada harga properti di Batam.

Menurut Hendra, hal ini dikarenakan sebagian besar pengembang di Batam menggunakan bahan bangunan lokal. Bukan bahan dari luar negeri. Menurutnya, lesunya penjualan properti saat ini lebih disebabkan oleh turunnya daya beli masyarakat.

“Kalau daya beli menurun itu iya, memang ada,” ujar Hendra.

(gas)

Update