TANPA aba-aba. Hanya saling memastikan seluruh personel band menempati posisi masing-masing. Dan mulailah mereka memainkan lagu. Somewhere Over the Rainbow mengalun apik.

Jari-jari Keken bermain lincah di atas keyboard, sementara Rama asyik memetik bass guitar-nya. Owen bersemangat menabuh drumnya dan Kezia tampak hanyut dalam permainan biolanya. Iringan musik indah tersebut dipadukan dengan vokal Oliver yang tampak menghayati setiap lirik lagu yang dia senandungkan.

Namun, tidak seperti pemain band pada umumnya, para personel band Speedster itu tampak asyik sendiri. Pandangan matanya kadang terlihat menerawang atau bahkan tampak tidak fokus. Mereka juga seolah tidak sadar dengan kehadiran para penonton di depannya.

Para personel band Speedster memang anak-anak berkebutuhan khusus. Mereka adalah sekumpulan anak autis yang jago bermain musik. Anak-anak spesial tersebut berada di bawah asuhan musisi lawas Tito Sumarsono.

Awal mula Tito terjun di dunia musik anak-anak autis itu juga terjadi di luar dugaan. Penyanyi dan penulis lagu tersebut mengisahkan, pada 2009 dirinya maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) DPR dari Partai Amanat Nasional (PAN). ”Saya nyaleg karena ingin memperjuangkan hak cipta lagu para musisi,” kata pria yang melejit, antara lain, lewat lagu Untukmu itu.

Namun, pria kelahiran 24 April tersebut tidak berhasil menembus Senayan. Buntutnya, harta benda terkuras habis. Dia langsung jadi penganggur. Masa-masa itu adalah salah satu titik terendah dalam hidup Tito. Dalam keterpurukannya tersebut, tiba-tiba salah seorang kawan lamanya yang bernama Miguel menghubunginya.

”Tiba-tiba dia datang ke rumah saya, padahal sudah lama nggak kontak. Saya tanya dari mana dia tahu alamat saya, dengan enteng dia bilang, gampang kalau mau cari rumah artis hehehe,” kenangnya.

Ternyata kedatangan sobat lawasnya tersebut membawa setitik harapan bagi hidupnya. Sang kawan menawarinya sebuah pekerjaan, sebagai pengajar musik. Bukan pengajar musik biasa, melainkan pengajar bagi anak-anak penyandang autis.

Pertama mendengar tawaran tersebut, Tito tak langsung mengiyakan. Meski musik adalah keahliannya, ada sejumlah keraguan yang membuat dia harus berpikir ulang. ”Yang pertama, menjadi guru itu sesuatu yang baru banget. Karena saya belajar musik itu otodidak,” ungkapnya.

Alasan lain, mengajar anak biasa, dalam arti tidak berkebutuhan khusus, saja tidak pernah, apalagi ini anak-anak autis. Namun, sang kawan mendorong Tito untuk mencoba dahulu. Dia pun akhirnya setuju.

Ayah dua anak tersebut lantas bertemu dengan calon muridnya untuk kali pertama di Yayasan Bina Abyakta. Pertemuan pertama itu merupakan momen yang tidak terlupakan baginya. ”Saya dikelilingi anak-anak ini, tapi mereka cuma diam saja,” kenangnya.

Tito mencoba mengajak ngobrol, mereka diam. ”Saya ambil gitar, lalu saya nyanyi juga nggak ada respons. Baru ketika saya ajak bercanda, ada respons walaupun sedikit,” urai pencipta Kaulah Segalanya yang dipopulerkan Ruth Sahanaya itu.

 

Tito Soemarsono bersama para anak didiknya di band Speedster. Dari kiri, Owen (drum), Kezia (biola), dan Keken (keyboard).
HENDRA ECA/JAWA POS

Akhirnya Tito meminta waktu untuk bertemu dahulu dengan anak-anak itu. Dalam empat kali pertemuan. Namun, dia belum bersedia meneken perjanjian kerja dengan yayasan tersebut. Dia sendiri ingin mengukur seberapa jauh kemampuannya dalam mengajar anak-anak autis itu.

Tidak sampai empat pertemuan, pihak yayasan ternyata sudah merasa cocok dengan Tito. Menurut Kepala Sekolah Yayasan Bina Abyakta Retna Kartiwi, aura Tito cukup nyambung dengan anak-anak berkebutuhan khusus tersebut. ”Biasanya, kalau lagi ada kelas, anak-anak akan berlarian ke sana kemari. Tapi, dengan Pak Tito kita lihat mereka diem dan ada respons,” ujar Retna saat ditemui di kantornya.

Karena merasa dipercaya, Tito pun terdorong untuk mencoba mengajar. Pada pertemuan berikutnya, dia membawa gitar listrik miliknya. Di hadapan murid-muridnya, dia memainkan gitar ala seorang rocker. Tito bermain dengan penghayatan hingga menggoyang-goyangkan kepalanya. Penampilan tersebut menarik perhatian anak-anak itu.

Dari situ Tito mulai memahami bahwa salah satu cara mengajar anak-anak tersebut adalah melakukan gaya atraktif dan responsif. ”Misalnya, kalau nyanyi ya saya nggak diem aja. Saya goyangkan kepala saya dan lompat ke sana kemari. Seolah-seolah saya tampil beneran di panggung musik,” papar Tito.

Setelah berhasil mencuri perhatian para murid, Tito pun mulai mengajar. Dia mengungkapkan, pada dasarnya beberapa muridnya adalah pemain musik yang andal. Dia mencontohkan, Keken adalah pemain piano klasik, sedangkan Kezia pemain biola.

Sementara anak-anak lainnya dilatih bermain drum atau bas. Namun, tidak ada pemain gitar. ”Karena memegang sesuatu bagi anak-anak autis ini bukan hal mudah. Apalagi harus menekan senar gitar. Makanya, saya pilih bas untuk menggantikan gitar ini,” ungkap Tito.

Dalam melatih main drum, Tito mengandalkan jari-jari tangannya untuk membuat ritme ketukan. Dia mencontohkan, misalnya dia membuat ketukan berbunyi ”dung tak dung dung tak”. Dia kemudian meminta muridnya mengikuti gerakan tersebut. Hal sesederhana itu bisa membutuhkan waktu berhari-hari. Sebab, problem para penyandang autis ada pada fokus.

”Bagi saya, mereka sudah bisa mengikuti ketukan saya itu sudah cukup. Karena kadang kebalik-balik, dari awalnya saya ajarkan ’dung tak dung dung tak’, mereka ngikutinnya bisa kebalik-balik, bisa ’dung dung tak dung’,” jelasnya.

Begitu juga halnya ketika Tito mengajarkan cara bermain gitar bas. Dia akan meminta muridnya mengikuti jari-jarinya yang menekan sekaligus memetik alat musik tersebut. Agar mereka mampu berkonsentrasi, Tito membuat gerakan-gerakan yang khas. Sehingga mudah diikuti para anak didik. Misalnya, jika ada nada yang harus dimatikan, Tito harus memiringkan kepalanya untuk menandai nada tersebut. Gaya memiringkan kepala itu pun lantas ditiru secara persis oleh muridnya.

Sementara itu, mencari vokalis justru tidak mudah. Sebab, tidak semua anak autis mampu melafalkan lirik dengan baik dan jelas. Hanya ada dua murid yang artikulasi katanya cukup akurat, yakni Jeremy dan Oliver. Keduanya pun akhirnya didapuk sebagai vokalis.

Awalnya, kata Tito, yang diajarkan baru satu lagu yang merupakan ciptaannya sendiri. Anak-anak asuhnya butuh berminggu-minggu untuk menguasai keseluruhan lagu itu. Meski sulit, Tito tidak menyerah. Anak-anak spesialnya tersebut memiliki memori yang cukup kuat. Di atas rata-rata. Karena itu, dia optimistis mereka mampu memainkan lagu-lagu lainnya.

Terbukti, kini para personel Speedster dan murid-murid lainnya sudah bisa memainkan belasan atau bahkan puluhan lagu dengan harmonisasi yang sempurna. Banyak orang tua murid yang bertanya apa rahasia keberhasilannya itu. Sebab, sebelumnya sudah berkali-kali ganti pengajar, tidak ada yang mampu membuat anak-anak tersebut bermain sebagai sebuah band. ”Temen-temen saya itu pada nggak percaya karena mereka tahunya saya ini orangnya nggak sabaran,” katanya.

Dengan orang tua murid, Tito mengaku selalu bilang justru dirinya yang banyak belajar dari anak-anak mereka. ”Sebab, dari segi kemampuan dan teknik bermusik, mereka lebih jago daripada saya,” ungkapnya.

Kini tidak terasa sudah hampir sepuluh tahun Tito menjadi pengajar anak-anak spesial tersebut. Bukan hanya personel Speedster, tapi juga anak-anak autis lain yang merupakan anak didik yayasan itu. Total ada 24 anak dengan rentang usia 13 sampai 25 tahun yang saat ini berada di bawah asuhannya. Banyak yang awalnya sama sekali tidak bisa, kemudian menjadi bisa bermusik.

Speedster juga sudah beberapa kali meraih penghargaan internasional. Antara lain predikat Excellent Performance and the Best Rhythm di ajang Autistic Talent Gala 2015 yang digagas ANAN Foundation dari Hongkong.

Tahun berikutnya, Speedster kembali menyabet penghargaan yang sama. Selain itu, band beranggota tujuh personel tersebut pernah diminta tampil di Kanada dalam ANCA World Autism Festival 8th Annual Event. Sementara di dalam negeri sendiri, Speedster sudah kenyang tampil di berbagai event di sejumlah daerah.

”Saya merasa menikmati mendapat rida Allah. Orang tua murid sampai hafal, Pak Tito pasti nggak bisa ngomong kalau sudah selesai manggung saking terharunya,” kata dia.

Bagi Tito, raihannya bersama para anak didik itu merupakan kebanggaan tersendiri. ”Ketimbang jadi artis, saya lebih enjoy di sini, apalagi jadi anggota DPR,” selorohnya.

Kenikmatan itu terasa betul ketika Tito menyanyikan Kuingin, lagu yang dia ciptakan khusus untuk para anak didik. Tentu dengan iringan Speedster.

”Kuingin mengajari kamu bisa main musik//ku berharap bisa bermain bersamanya//kuharap ku bisa membanggakan dirinya//dan ternyata kini kudapat bermain dengan mereka…” (c9/ttg/jpg)

Advertisement
loading...