Iklan

batampos.co.id – Tidak mudah meningkatkan pariwisata. Butuh waktu yang cukup lama dan sinergi serta komitmen dari semua pihak. Batam yang digadang-gadang menjadi Kota Pariwisata, ternyata masih memiliki banyak kekurangan.

“Dalam pariwisata itu ada tiga poin penting yakni accessibility, amenity dan attraction,” kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPD ASITA Kepri, Febriansyah, Senin (10/9).

Ia mengatakan untuk akses, Batam memiliki beberapa pintu masuk internasional seperti pelabuhan dan bandara.

“Namun untuk bandara, kita masih kekurangan penerbangan langsung. Ini tentu masih menjadi halangan,” ucapnya.

Lalu untuk amenity atau fasilitas pendukung seperti hotel, kata Febriansyah Batam memilikinya. Beberapa hotel di Batam dinilainya masih cukup layak untuk menampung turis-turis asing.

“Namun kita masih kekurangan attraction,” ujarnya.

Attraction atau atraksi di Batam dinilai Febriansyah masih minim. Tidak banyak atraksi yang menampilkan sesuatu kegaiatan yang dapat menarik turis asing. “Sebenarnya komponen atrkasi itu, Batam memilikinya. Tinggal menggerakannya saja,’ ungkap Febriansyah.

Salah satu komponen penting atraksi dimiliki Batam yakni masyarakat yang terdiri dari beragam etnis.

“Coba kita ini lebih mengkedepankan atraksi bersifat etnik. Tentu akan lebih menarik turis,” tuturnya.

Febriansyah mencontohkan sekali seminggu dibuatkan pameran atau menampilkan budaya setiap daerah di Indonesia. Kegiatan ini diyakini oleh Febriansyah semakin mudah dijual di luar negeri.

“Bayangkan minggu ini ada Minang Week, minggu depannya lagi Javanise Week. Pasti akan meriah Batam ini,” tuturnya.

Walaupun sudah ada yang mencoba, tapi tanpa sinergitas kegiatan ini menjadi hambar dan tidak memiliki efek yang besar.

“Makanya saya bilang, tidak hanya butuh atraksi atau melengkapi semua poin pengembangan pariwisata saja. Tapi perlu sinergi dan komitmen, agar pariwisata di Batam semakin baik,” ungkapnya.

Ia melihat masih belum ada atrkasi yang dapat menarik perhatian turis asing. “Bikinlah yang sesuatu yang layak ditonton dan dijual. Jangan sekedar asal-asalan,” tuturnya.

 


Sejumlah pengunjung saat menikmati sauasana pantai Terih Nongsa,
Minggu (26/8). Masyarakat bersama Penjelajah Alam Kepri (PARI)
menjadikan kampung Teris menjadi tempat wisata yang bisa dinikmati oleh
baik warga Batam maupun wisatawan. F Cecep Mulyana/Batam Pos

Selain tiga poin tadi. Febriansyah mengatakan ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan, keamanan.

“Keamanan sering menjadi perhatian wisatawan asing. Apabila tidak aman, tentu mereka tidak akan datang lagi,” ucapnya.

Kurang sinergitas ini dirasakan salah serorang pengusaha travel. Sonia Kong dari Inko Travel Batam. Ia mengatakan bahwa kini turis Korea yang datang ke Batam turun hingga 50 persen. Hal ini dirasakannya dalam beberapa bulan terakhir.

“Kami tak ada carter flight lagi,” ungkapnya.

Turis Korea yang datang ke Batam hanya dalam grup-grup kecil saja.

Apa penyebabnya? Sonia mengatakan hal ini disebabkan oleh gencarnya Johor Baru, Malaysia mempromosikan destinasi wisata mereka di Korea.

“Sekarang banyak lari ke sana. Travel dan pemerintahnya saling bersinergi dan bersama-sama memajukan pariwisata,” tuturnya.

Ia mengatakan pemerintah Johor Baru, Malaysia memberikan subsidi dan beberapa kemudahan lainnya. “Sehingga Batam sulit berkompetisi,” ungkapnya. (ska)

Advertisement
loading...