ilustrasi

batampos.co.id – Indeks Harga Konsumen (IHK) Kepri Agustus lalu, dinyatakan mengalami deflasi oleh Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kepri. Namun, mencermati perkembangan situasi terkini, diperkirakan IHK pada September ini akan mengalami inflasi.

Iklan

Wakil Ketua TPID Kepri, Gusti Raizal Eka Putra mengatakan potensi pendorong inflasi tersebut akibat perkiraan curah hujan yang tinggi menjelang akhir tahun.

“Di bulan rawan hujan ini tentunya dapat mempengaruhi komoditas pertanian seperti bayam, kangkung dan kacang panjang,” ujar Gusti, Senin (10/9).

Peningkatan curah hujan itu juga berdampak terjadinya gelombang laut yang tinggi, sehingga mengakibatkan terbatasnya aktivitas nelayan yang membuat pasokan ikan segar akan menurun.

Pendorong inflasi lainnya, lanjut Gusti, masih terbatasnya pasokan daging ayam ras, terjadinya peningkatan harga gabah di tingkat petani, turunnya pasokan cabai merah, dan adanya wacana kenaikan tarif bebas bawah angkutan udara yang dapat memicu inflasi di angkutan udara.

“Untuk mengedalikan kondisi tersebut, kami fokus untuk mitigasi risiko inflasi terutama menjelang akhir tahun,” terangnya.

Adapun pengendalian tersebut dilakukan dengan mengintensifkan kerjasama antar daerah (KAD) untuk tetap memenuhi kebutuhan pasokan bahan makanan, menjaga kelancaran arus bongkar muat dan distribusi angkutan barang komoditas pangan, serta mengawasi ketersediaan pasokan beras.

Selain itu, pihaknya juga mengembangkan program urban farming khususnya pada bayam, kangkung dan cabai merah, menggelar pasar murah sebagai pasar penyeimbang, serta mengintensifkan monitoring ayam ras.

“Kami juga memandang perlu dibangunya pasar induk dan gudang yang dilengkapi cold storage guna memitigasi kelangkaan pasokan ikan segar saat musim angin utara berlangsung,” ucap Gusti. (nji)