Iklan

batampos.co.id – Program nasional imunisasi MR tak berjalan mulus di Aceh. Hal ini menyebabkan kesehatan jutaan anak di bumi Iskandar Muda rentan dan terancam terkena campak rubella.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Aceh, hingga 5 September, cakupan anak imunisasi di Aceh kurang dari 7 persen dari target 1,5 juta anak Aceh.

“Angka 7 persen ini sangat mengkhawatirkan kita. Anak-anak kita di Aceh sekarang rentan dan terancam terkena virus campak rubella,” tukas Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aceh, Dr dr Herlina Dimiati SpA(K), Selasa (11/9).

Herlina Dimiati menyebutkan, program imunisasi MR seharusnya menjadi salah satu program pokok kesehatan di suatu daerah. Dampak tak melaksanakannya sangat berbahaya, tidak hanya bagi penderita tetapi menular dan dapat membahayakan nyawa orang lainnya.

Sejak adanya imbauan penghentian imunisasi oleh Plt Gubernur, praktis program tersebut berhenti di seluruh daerah.

“Harus ada kebijakan dari pemerintah Aceh untuk kembali melaksanakan program ini. Karenanya kami dari IDAI Aceh dan beberapa lembaga mendorong Plt Gubernur dapat mengeluarkan kebijakan kembali meneruskan program imunisasi MR di Aceh,” tukas Herlina yang juga sekretaris Pokja KIPI Aceh ini.

Sementara itu Dita Ramadonna, Health Officer Unicef Indonesia, menyampaikan, terlalu mahal harga dan kerugian dialami jika anak tak mendapatkan imunisasi MR.

Anak yang terkena dampak virus rubella atau Congenital Rubella Syndrome/CRS, dapat lahir dengan berat badan rendah, tuli, buta, bocor jantung, pengecilan otak dan ukuran kepala, tidak bias bicara, keterlambatan pertumbuhan fisik dan mental (gejala bervariasi di setiap anak).

“Imunisasi merupakan hak anak atas kesehatan untuk tumbuh kembang dan perlindungan mencapai potensi maksimal yang wajib dijamin dan dipenuhi oleh orangtua dan Negara. Karenanya kita sedih dengan rendahnya tingkat imunisasi MR di Aceh ,” tukasnya.

Rendahnya tingkat imunisasi ini, dibenarkan Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Aceh, dr Abdul Fatah ketika dihubungi Rakyat Aceh.

“Seluruh Indonesia, Kita (Aceh-red) memang paling rendah untuk cakupan anak yang telah diimunisasi. Data terakhir hanya sekitar 7 persen dari seharusnya target 1,5 juta anak yang harus diimunisasi,” ungkap dr Abdul Fatah.

Disampaikannya, rendahnya cakupan kampanye MR di Aceh akan menyebabkan tidak terjadinya kekebalan kelompok (Herd Immunity) di masyarakat Aceh, sehingga berisiko tingginya penularan penyakit campak/measles dan rubella bagi masyarakat.

Pihaknya kerja sama dengan IDAI Cabang Aceh, Unicef dan lembaga peduli MR berusaha untuk terus mendorong adanya dikeluarkannya intruksi dari Pemerintahan Aceh untuk kelanjutan program imunisasi MR.

“Kemarin itu sejak adanya imbauan Pak Plt Gubernur tentang penundaan pemberian iminusasi, praktis di seluruh daerah pemberiannya berhenti. Namun sekarang ini setelah keluarnya petunjuk dari MUI Pusat yang memperbolehkan, kita berharap gubernur dapat mengeluarkan instruksi dilanjutkannya imunisasi MR. Kami tidak menghendaki kampanye MR dihentikan selamanya,” tukasnya.

Sementara itu Husna (27), ibu rumah tangga yang anaknya terkena dampak campak rubella, ditemui wartawan menyampaikan imbauannya, kepada seluruh orang tua untuk segera mengimunisasi anak mereka.

“Terlalu mahal harga yang harus kita habiskan untuk anak jika tidak imunisasi MR. Kewajiban kita memberikan hak anak, yakni memberikan hak sehat untuk mereka,” kata perempuan asal Desa Geurugok, Kecamatan Gandapura ini. (min/mai/jpg)

Advertisement
loading...