batampos.co.id – DPRD Kota Batam menilai, anggaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam yang dialokasikan terlalu minim, sehingga pengaruhi kunjungan wisatawan ke daerah ini. Hal ini berbanding terbalik dengan target 17 juta kunjungan wisatawan pada 2018.

Iklan

“Batam menjadi satu dari tiga pintu masuknya turis asing ke Indonesia setelah Bali dan Jakarta. Bagaimana mungkin bisa meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan bisa tidak didukung oleh anggaran,” kata anggota Komisi IV DPRD Batam Bobi Aleksander Siregar, Senin (10/9/2018).

Ia mengakui di tahun ini anggaran yang dikucurkan untuk Dinas Kebudayaan dan Pariwisata sebesar Rp 6,9 miliar. Bahkan, anggaran fasilitasi objek daya tarik pariwisata hanya sebesar Rp 30 juta. Begitu pun pengembangan daerah tujuan wisata hanya sebesar 341 juta.

“Bisa apa kita dengan uang segitu. Sangat tidak seimbang dengan kontribusi yang kita harapkan,” sesalnya.

Sejumlah warga saat menikmati permainan 360Madnes yang memacu undrenaline di Mega Wisata Ocarina, Minggu (20/8).Mega wisata Ocarina menjadi tempat rekreasi untuk mengisi liburan baik bagi warga Batam maupun wisatawan. F Cecep Mulyana/Batam Pos

Kondisi ini menyebabkan Batam hanya menang di data jumlah kunjungan wisata saja, tidak dengan aktivitas turisnya. Sehingga tidak memberikan manfaat signifikan dari kedatangan turis asing ke Batam. Padahal bila berkaca dari daerah lain, lamanya turis di daerah akan sangat berpengaruh pada pendapatan satu daerah. Misalnya saja dari sektor pajak hotel, restoran dan sektor-sektor pariwisata lainnya.

“Artinya tidak ada yang bisa kita jual, event pariwisata pun sangat minim akibat terbatasnya anggaran,” kata Bobi lagi.

Selain itu, ia juga melihat kawasan pariwisata di Batam tidak tersentuh bantuan pemerintah karena memang anggaran yang terbatas.

“Untuk itulah kita berharap di 2019 pemko lebih memperhatikan sektor ini. Bukan hanya fokus di infrastuktur saja,” tegas Bobi. (rng)