Unit Crane milik PT Pelindo IV yang diimpor dari Korea Selatan diangkut menuju pelabuhan di Indonesia Timur (Istimewa)

batampos.co.id – Pelabuhan Makassar New Port (MNP), Kendari New Port (KNP), Pelabuhan Ambon dan Pelabuhan Ternate berbenah menyambut persaingan pelabuhan.

Iklan

PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) melakukan investasi melalui pembelian empat unit alat baru yang kemudian ditempatkan di empat pelabuhan kelolaan mereka itu.

Direktur Utama PT Pelindo IV Doso Agung mengatakan 4 unit alat yang didatangkan tersebut yaitu Container Crane. Keempat alat itu sudah mulai didatangkan pada Sabtu, 9 September 2018.

Direktur Fasilitas dan Peralatan Pelabuhan Pelindo IV, Farid Padang menambahkan setelah satu unit Container Crane diturunkan di Pelabuhan Ternate pada Minggu, 10 September 2018, selanjutnya alat yang lainnya juga akan diturunkan di Pelabuhan Ambon, lalu KNP dan kemudian di MNP.

Keempat alat itu diangkut dari Pelabuhan Incheon yang ada di Negeri Ginseng, Korea menggunakan Kapal Dong Bang Giant No 2.

“Setelah unit Container Crane dilakukan unloading di masing-masing pelabuhan, rencananya akan langsung dilakukan uji coba operasi oleh masing-masing cabang,” tuturnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (11/9).

Farid menjelaskan, tingkat komponen dalam negeri dari pekerjaan ini sekitar 35% yang meliputi beberapa jasa konstruksi tenaga kerja mechanical electrical, tenaga kerja supervisi, testing, training, sertifikasi, review BPKP serta sebagian kontribusi dalam negeri yang berkaitan dengan mobilisasi crane.

Sebelumnya, pada 24 Agustus 2018, Menteri BUMN, Rini M. Soemarno telah meresmikan 16 Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dibangun PT Pelindo IV menggunakan anggaran Penyertaan Modal Negara (PMN) dan internal perusahaan di Kawasan Timur Indonesia (KTI).

Menurut Farid, empat unit Container Crane yang didatangkan dari Korea itu merupakan tahap pertama untuk peningkatan produktivitas dan peningkatan status konvensional menjadi terminal petikemas di Pelabuhan Ambon dan Ternate.

“Program konektivitas di Indonesia Timur dilakukan secara terukur dan disinergikan dengan pemerintah daerah untuk menurunkan biaya logistik nasional,” paparnya.

Dengan berbagai investasi yang dilakukan, pelabuhan-pelabuhan di Kawasan Timur Indonesia telah mampu meningkatkan kapasitas per tahunnya dari 700.000 TEUs menjadi 2.000.000 TEUs atau meningkat hampir 3 kali lipat, belum termasuk Terminal Petikemas Makasar, Kaltim Kariangau Terminal dan Makasar New Port.

Selain itu dengan modernisasi peralatan yang dilakukan, produktivitas bongkar muat mengalami peningkatan sebesar 40% dari rata-rata 15 box per jam menjadi 25 box per jam.

(uji/JPC)